Jumlah pernikahan di Indonesia mencapai 1.480.048 pasangan pada 2025, naik dibanding tahun 2024 yang sebanyak 1.478.302 pasangan. Kenaikan ini menegaskan bahwa pernikahan masih menjadi peristiwa sosial yang sangat umum terjadi di berbagai wilayah di Indonesia.
Namun di balik tingginya angka pernikahan, perceraian juga tercatat dalam jumlah yang tidak sedikit, dengan total 438.168 kasus pada 2025, yang terdiri dari 91.652 cerai talak dan 346.516 cerai gugat.
Pulau Jawa menjadi wilayah dengan kontribusi pernikahan terbesar. Hal ini tidak mengherankan, mengingat populasinya yang paling padat di Indonesia.
Pada 2025, Jawa Barat mencatat jumlah pernikahan paling tinggi dengan 292.119 pasangan, diikuti Jawa Timur sebanyak 262.670 pasangan, serta Jawa Tengah dengan 225.401 pasangan. Tingginya angka ini sejalan dengan besarnya jumlah penduduk di tiga provinsi tersebut, yang secara konsisten menjadi pusat aktivitas sosial dan ekonomi di Indonesia.
Selain pernikahan, angka perceraian di wilayah jawa juga cukup tinggi. Jawa Barat mencatat total 98.903 kasus perceraian, sementara Jawa Timur mencapai 83.208 kasus dan Jawa Tengah sebanyak 67.500 kasus. Menariknya, sebagian besar perceraian terjadi melalui cerai gugat, yaitu perceraian yang diajukan oleh pihak istri, yang secara nasional mencapai lebih dari tiga perempat dari total perceraian.
Baca Juga: Pernikahan Anak Masih Marak, 19% Pemuda Indonesia Kawin di Bawah Usia 19 Tahun
Di luar Jawa, Sumatra Utara mencatatkan angka pernikahan yang cukup tinggi, mencapai 68.055 pernikahan, disusul Banten (62.992 pernikahan), Sumatra Selatan (53.585 pernikahan), dan Lampung (52.420 pernikahan). Sulawesi Selatan dan Riau mencatatkan angka pernikahan yang cukup tinggi, masing-masing sebesar 51.289 dan 40.269 pernikahan.
Dominasi Jawa dalam daftar ini kembali diperkuat dengan kehadiran DKI Jakarta di peringkat kesepuluh, mencatatkan 39.863 pernikahan sepanjang 2025.
Dengan demikian, angka pernikahan di Jawa mencapai 901.477, setara 60,9% dari angka pernikahan nasional.
Di Balik Dominasi Jawa
Dominasi Jawa dalam angka pernikahan ini tidak lepas dari beberapa faktor utama, salah satunya faktor demografi. Sebagai pulau dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia, jumlah pasangan usia menikah juga otomatis lebih banyak dibanding wilayah lain.
Faktor urbanisasi dan ekonomi juga berpengaruh. Kota-kota besar seperti Bandung, Surabaya, Semarang, hingga kawasan metropolitan Jabodetabek menjadi pusat aktivitas ekonomi dan pendidikan. Banyak orang dari berbagai daerah datang untuk bekerja atau menempuh pendidikan, kemudian menetap dan membangun keluarga di wilayah tersebut, membuat angka pernikahan kemudian tinggi.
Selain itu, di banyak daerah di Jawa, pernikahan masih dianggap tahapan penting dalam kehidupan. Tekanan sosial untuk menikah pada usia tertentu masih cukup kuat, terutama di wilayah perdesaan dan kota-kota kecil.
Namun, walaupun angka pernikahan tinggi, angka perceraiannya juga cukup besar. Hal ini menunjukkan bahwa dinamika kehidupan rumah tangga di wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi juga lebih kompleks. Faktor ekonomi, perubahan gaya hidup, serta meningkatnya kesadaran akan hak individu dalam pernikahan turut memengaruhi stabilitas rumah tangga.
Baca Juga: Angka Pernikahan di Indonesia Merosot Setiap Tahunnya
Sumber:
https://www.bps.go.id/id/statistics-table/3/VkhwVUszTXJPVmQ2ZFRKamNIZG9RMVo2VEdsbVVUMDkjMw==/nikah-dan-cerai-menurut-provinsi.html
Penulis: Agnes Z. Yonatan
Editor: Editor