Alasan Masyarakat Tidak Patuh Protokol Kesehatan Pandemi Covid-19

Survei BPS menunjukkan bahwa mayoritas responden sudah cukup baik dalam menerapkan protokol kesehatan, lantas apa alasan dibalik ketidakpatuhan masyarakat?.

Alasan Masyarakat Tidak Patuh Protokol Kesehatan Pandemi Covid-19 Potret masyarakat menggunakan masker di publik | TZIDO SUN/Shutterstock

Sebanyak 5,7 juta orang dan 150 ribu penduduk Indonesia meninggal dunia akibat Covid-19. Indonesia sendiri sudah 3 kali mengalami gelombang penyebaran kasus Covid-19, terakhir pada Januari 2022 lalu.

Ragam upaya penerapan protokol kesehatan serta pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) digiatkan oleh pemerintah guna mengurangi laju penyebaran virus dengan tetap mempertimbangkan keberlangsungan aktivitas ekonomi yang berangsur-angsur mulai pulih.

Namun kembali, perilaku masyarakatlah yang menentukan tingkat efektivitas penanganan pandemi Covid-19 yang selama ini diterapkan. Penyebaran virus Covid-19 dan varian barunya akan sulit dikendalikan tanpa kedisiplinan dalam menerapkan protokol kesehatan.

Kilas balik perjalanan masyarakat melawan pandemi Covid-19 selama kurang lebih 2 tahunt terakhir, bagaimana pendapat masyarakat mengenai hasil implementasi protokol kesehatan di Indonesia?

Pelaksanaan sudah berjalan baik, didasari kesadaran pribadi

Badan Pusat Statistik (BPS) dalam hasil survei pada 16 hingga 25 Februari 2022 mengungkapkan bahwa secara nasional tingkat kepatuhan responden terhadap protokol kesehatan selama seminggu terakhir umumnya sudah cukup baik.

Adapun indikator penerapan protokol kesehatan pada masa pandemi Covid-19 di antaranya ialah memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumuman, dan mengurangi mobilitas.

Tingkat kepatuhan responden terhadap protokol kesehatan tahun 2022 | GoodStats

Tingkat kepatuhan tertinggi responden secara nasional ialah terkait imbauan memakai masker. Adapun persentase tingkat kepatuhan memakai masker pada responden mencapai 84,5 persen. Sementara itu yang abai memakai masker memiliki persentase sebesar 3,1 persen.

Mencuci tangan merupakan protokol kesehatan berikutnya yang memperoleh persentase kepatuhan tertinggi yakni sebesar 77,7 persen. Kemudian diikuti dengan protokol kesehatan mengurangi kerumunan sebesar 73,5 persen.

Protokol menjaga jarak dan mengurangi mobilitas memperoleh persentase kepatuhan terendah dibandingkan jenis protokol lainnya. Protokol menjaga jarak memperoleh persentase kepatuhan sebesar 71,1 persen sementara mengurangi mobilitas sebesar 70,8 persen.

Wilayah Jawa-Bali memiliki persentase tingkat kepatuhan terhadap protokol kesehatan yang lebih tinggi pada semua indikator. Baik di wilayah  Jawa-Bali maupun luar Jawa-Bali, protokol kesehatan yang memiliki persentase kepatuhan tertinggi ialah memakai masker.

Di sisi lain, perempuan cenderung lebih patuh terhadap penerapan protokol kesehatan dibandingkan dengan laki-laki pada semua aspek. Semakin lengkap jumlah vaksin yang sudah diterima oleh responden, maka tingkat kepatuhan terhadap protokol kesehatan pun semakin tinggi.

Adapun motivasi responden menerapkan protokol kesehatan pada masa pandemi Covid-19 didasari oleh kesadaran pribadi dengan persentase sebesar 91,6 persen. Kemudian diikuti oleh motivasi menaati peraturan sebesar 6,3 persen.

Meskipun demikian, 0,5 persen responden di antaranya mengaku tidak peduli atau tidak percaya dengan penerapan protokol kesehatan guna mencegah penyebaran virus Covid-19.

Jenuh akan pandemi

Meskipun mayoritas responden menilai dirinya sudah mematuhi protokol kesehatan, namun responden menilai masyarakat di lingkungan sekitarnya kurang patuh dalam mematuhi protokol kesehatan.

Penilaian responden terhadap tingkat kepatuhan masyarakat terkait protokol kesehatan tahun 2022 | GoodStats

Adapun responden menilai tingkat kepatuhan masyarakat di lingkungan sekitarnya dalam memakai masker ialah sebesar 58,7 persen. Diikuti mencuci tangan sebesar 56,7 persen, menjaga jarak dan menghindari kerumuman memperoleh persentase sama yakni 54,4 persen, serta terakhir mengurangi mobilitas sebesar 54,1 persen.

Jenuh terhadap pandemi menjadi alasan utama masyarakat melanggar protokol kesehatan dengan persentase sebesar 61,2 persen. Berikutnya, merasa tidak nyaman menjadi alasan kedua masyarakat tidak patuh protokol kesehatan dengan persentase sebesar 46 persen.

Alasan masyarakat melanggar protokol kesehatan tahun 2022 | GoodStats

Di samping itu, 32 persen responden menganggap situasi sudah aman serta 24,2 persen di antaranya yakin tidak tertular, sehingga responden cenderung melanggar protokol kesehatan. Alasan lainnya di balik tindakan melanggar protokol kesehatan di antarnaya tidak ada sanksi sebesar 22,7 persen, mengikuti orang lain sebesar 21,6 persen, terpengaruh berita hoaks sebesar 17,3 persen, pekerjaan menjadi sulit sebesar 14,2 persen.

Aparat tidak memberi contoh juga menjadi salah satu alasan masyarakat melanggar protokol kesehatan. Adapun persentasenya yakni sebesar 8,8 persen. Sisanya sebesar 1,6 persen responden mengaku melanggar protokol kesehatan karena alasan lainnya.

Mayoritas masyarakat tidak suka bila ada yang melanggar protokol kesehatan

Menurut data BPS, sebesar 65,5 persen responden mengaku tidak suka apabila melihat orang di sekitarnya melanggar protokol kesehatan. Sebesar 22,3 persen di antaranya mengungkapkan biasa saja.

Kemudian, 18,4 persen responden merasa marah terhadap orang yang melanggar protokol kesehatan. Sementara itu, sisanya sebesar 1,6 persen mengaku tidak peduli.

Mayoritas responden menegur yakni sebesar 67,3 persen menegur orang di sekitarnya yang melanggar protokol kesehatan. Sebesar 25,5 persen responden membiarkan saja orang-orang yang melanggar protokol kesehatan.

Sisanya, sebesar 4,1 persen responden menceritakan kepada orang lain dan 3,2 persen melaporkan ke pengurus wilayah setempat apabila melihat orang di sekitarnya melanggar protokol kesehatan.

Penulis: Diva Angelia
Editor: Iip M Aditiya

Artikel Sebelumnya Soal Kesetaraan Gender, Laos dan Vietnam Justru Lebih Baik dari Indonesia
Artikel Selanjutnya Bagaimana Laporan Kunjungan Wisatawan Mancanegara ke Indonesia Sepanjang 2021?
Konten Terkait