Ketahanan pangan Indonesia kembali menjadi sorotan, terutama di tengah meningkatnya kebutuhan beras sebagai komoditas utama masyarakat. Dinamika cuaca dan kondisi lahan melahirkan beragam tantangan baru bagi sektor pertanian. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan adanya penurunan produksi padi nasional pada Oktober 2025, yang diproyeksi akan terus turun hingga akhir tahun.
Produksi padi pada Oktober 2025 tercatat sebesar 4,72 juta ton gabah kering giling (GKG), turun 20,67% dibanding bulan sebelumnya yang mencapai 5,95 juta ton GKG, namun naik 3,53% dibanding Oktober 2024 yang sebanyak 4,56 juta ton GKG. Dengan demikian, total produksi padi mencapai 54,53 juta ton GKG sepanjang Januari-Oktober 2025.
Jika ditarik mundur ke awal tahun, jumlah produksi padi Indonesia cenderung fluktuatif, dipengaruhi oleh kondisi cuaca dan lahan. Pada awal tahun, produksi padi mencapai 2,2 juta ton GKG, yang kemudian naik signifikan menjadi 3,96 juta ton GKG pada bulan berikutnya.
Memasuki bulan Maret, lonjakan kembali terjadi, dengan produksi padi mencapai 9,08 juta ton GKG, dilanjut April yang sebesar 9,09 juta ton GKG. Jumlah produksi padi turun menjadi 5,09 juta ton GKG pada bulan berikutnya, dan terus turun ke angka 4,01 juta ton GKG pada Juni.
Produksi mulai membaik pada bulan Juli, menorehkan 4,8 juta ton GKG, dan terus membaik pada Agustus dengan 5,63 juta ton GKG dan September dengan 5,95 juta ton GKG.
Sayangnya, tren kenaikan ini tidak berlanjut hingga akhir tahun. Menurut proyeksi BPS, produksi padi Indonesia bakal menurun akhir tahun, dengan rincian 3,37 juta ton GKG pada November dan 2,47 juta ton GKG pada Desember 2025.
Jika ditinjau berdasarkan wilayahnya, maka provinsi di Jawa menjadi sentra produksi padi nasional. Jawa Timur berada di puncak dengan produksi mencapai 10,53 juta ton GKG, diikuti Jawa Barat dengan 10,25 juta ton GKG dan Jawa Tengah dengan 9,4 juta ton GKG. Secara keseluruhan, produksi padi diperkirakan mencapai 60,37 juta ton hingga akhir tahun.
Kenapa Turun?
Penurunan produksi padi salah satunya didorong potensi gagal panen yang meningkat pada akhir tahun akibat cuaca ekstrem yang mengakibatkan bencana hidrometeorologi di berbagai wilayah produksi.
“Risiko atau potensi gagal panen berpeluang meningkat menjelang akhir 2025, termasuk di bulan November dan Desember. Ini terkait cuaca ekstrem seperti banjir dan beberapa bencana di sejumlah wilayah,” ujar Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini dalam konferensi pers Rilis Berita Resmi Statistik di Jakarta pada Senin (1/12/2025), mengutip Kompas.
Menurutnya, beberapa provinsi di Sumatra mengalami dampak paling signifikan. Bencana banjir menggenangi lahan pertanian dan mengganggu produksi padi.
Sejalan dengan itu, luas panen padi juga berkurang pada akhir tahun, dari 860 ribu hektare (ha) pada Oktober, menjadi 600 ribu ha pada November, dan merosot menjadi 440 ribu ha pada Desember.
Baca Juga: Produksi dan Luas Panen Padi Nasional Terus Turun, Ketahanan Pangan Diuji
Sumber:
https://www.bps.go.id/id/pressrelease/2025/12/01/2512/luas-panen-dan-produksi-padi.html
Penulis: Agnes Z. Yonatan
Editor: Editor