5 Negara dengan Tingkat Inflasi Tertinggi di Dunia, Siapakah Nomor 1?

Beberapa negara mengalami inflasi sangat tinggi hingga berdampak besar pada ekonomi. Lalu, bagaimana kondisi inflasi di Indonesia saat ini?

5 Negara dengan Tingkat Inflasi Tertinggi di Dunia, Siapakah Nomor 1? Ilustrasi Inflasi | Alesia Kozik
Ukuran Fon:

Inflasi menjadi salah satu indikator utama yang mencerminkan stabilitas ekonomi suatu negara. Ketika inflasi terlalu tinggi, daya beli masyarakat menurun, nilai mata uang melemah, da ketidakpastian ekonomi meningkat. Dalam konteks global, terdapat sejumlah negara dengan tingkat inflasi yang sangat tinggi, bahkan mencapai ratusan persen.

Lalu, negara mana saja yang masuk daftar negara dengan tingkat inflasi tertinggi di dunia? Dan bagaimana posisi Indonesia di tengah dinamika inflasi global tersebut?

Baca Juga: 10 Provinsi dengan Inflasi Tertinggi November 2025

Daftar Negara dengan Tingkat Inflasi Paling Tinggi di Dunia

5 Negara dengan Proyeksi Tingkat Inflasi Tertinggi 2026 | GoodStats
Dengan tingkat proyeksi 628,8% (YoY), Venezuela menjadi negara dengan tingkat inflasi tertinggi versi IMF 2026.

Berdasarkan laporan World Economic Outlook yang dirilis IMF, terlihat bahwa Venezuela masih menjadi negara dengan tingkat inflasi tertinggi di dunia pada 2026. Proyeksi inflasi Venezuela mencapai 628,8% (YoY). Angka ini jauh melampaui negara lainnya, menunjukkan kondisi hiperinflasi yang sudah berlangsung lama.

Jika dibandingkan dengan negara peringkat kedua, selisihnya sangat ekstrem, yaitu lebih dari 590%. Inflasi di Venezuela dipicu oleh krisis ekonomi berkepanjangan, ketergantungan pada minyak, serta kebijakan moneter yang tidak stabil.

Di posisi berikutnya terdapat Sudan dengan inflasi sekitar 35%. Meskipun jauh lebih rendah dibanding Venezuela, angka ini tetap tergolong sangat tinggi. Inflasi di Sudan banyak dipengaruhi oleh konflik internal, ketidakstabilan politik, serta gangguan distribusi barang yang menyebabkan harga-harga melonjak.

Kemudian ada Iran dengan tingkat inflasi sekitar 28%. Inflasi di Iran relatif stabil di level tinggi dalam beberapa tahun terakhir, terutama akibat sanksi ekonomi internasional yang membatasi perdagangan dan akses terhadap pasar global. Hal ini berdampak langsung pada nilai mata uang dan harga barang domestik.

Myanmar menyusul dengan inflasi sekitar 25,9%. Kondisi ini tidak lepas dari ketidakstabilan politik pasca kudeta militer yang berdampak pada aktivitas ekonomi. Gangguan produksi dan distribusi membuat harga barang meningkat signifikan.

Terakhir, Burundi mencatat inflasi sebesar 24,1%. Negara ini menghadapi tantangan struktural seperti kemiskinan, ketergantungan pada sektor pertanian, serta keterbatasan infrastruktur yang memengaruhi stabilitas harga.

Secara keseluruhan, data dari IMF menunjukkan kesenjangan yang sangat besar antara Venezuela dan negara lainnya. Hal ini menegaskan bahwa hiperinflasi adalah kondisi ekstrem yang biasanya dipicu oleh krisis ekonomi mendalam dan struktural.

Baca Juga: Perkembangan Indeks Harga Konsumen Maret 2026

Bagaimana Tingkat Inflasi di Indonesia?

Berbeda dengan negara-negara di atas, kondisi inflasi di Indonesia relatif terkendali. Berdasarkan proyeksi Bank Indonesia dan berbagai laporan pemerintah, tingkat inflasi Indonesia 2026 diperkirakan berada di kisaran 2,5±1%. Hal ini masih berada di target yang ditetapkan.

Dari sisi komponen, inflasi di Indonesia didorong oleh beberapa faktor utama. Pada kelompok Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga, kenaikan tarif listrik dan harga energi sempat memberikan tekanan, meskipun masih dalam batas wajar. Pemerintah juga berperan dalam menjaga stabilitas melalui subsidi dan kebijakan harga.

Sementara itu, inflasi pangan (volatile food) menjadi salah satu penyumbang utama fluktuasi. Komoditas seperti beras, cabai, dan bawang sering mengalami kenaikan harga akibat faktor cuaca, distribusi, dan produksi.

Di sisi lain, komponen administered price atau harga yang diatur pemerintah justru mengalami deflasi dalam beberapa periode. Data dari BI menunjukkan deflasi sebesar 0,32% (mtm). Meskipun demikian, inflasi tetap terjadi dalam hal year-on-year sebesar 9,71%.

Di lain sisi, inflasi inti di Indonesia masih terjaga dengan perkiraan month-to-month sebesar 0,37% dan year-on-year 2,45%. Hal ini mencerminkan permintaan domestik yang stabil dan ekspektasi inflasi yang terkendali. Inflasi inti ini biasanya dipengaruhi oleh faktor fundamental seperti daya beli masyarakat dan kondisi ekonomi secara keseluruhan.

Apa Saja Faktor yang Menyebabkan Inflasi pada Suatu Negara?

1. Ketidakseimbangan Permintaan dan Penawaran

Inflasi sering terjadi ketika permintaan terhadap barang dan jasa lebih tinggi dibandingkan ketersediaannya. Kondisi ini membuat harga naik karena produsen tidak mampu memenuhi kebutuhan pasar secara optimal.

Dalam jangka panjang, ketidakseimbangan ini bisa dipicu oleh pertumbuhan ekonomi yang terlalu cepat tanpa diimbangi peningkatan produksi. Akibatnya, harga terus terdorong naik dan inflasi menjadi sulit dikendalikan.

2. Kebijakan Moneter yang Longgar

Kebijakan moneter yang terlalu ekspansif juga dapat memicu inflasi. Kebijakan ini termasuk pencetakan uang berlebihan atau penetapan suku bunga rendah dalam waktu lama. Ketika jumlah uang beredar meningkat drastis, nilai mata uang akan menurun.

Hal ini terlihat jelas pada kasus hiperinflasi seperti di Venezuela, di mana pencetakan uang dilakukan untuk menutup defisit anggaran. Dampaknya, harga barang melonjak tajam dan mata uang kehilangan nilainya.

3. Kenaikan Biaya Produksi

Inflasi juga bisa berasal dari sisi produksi. Hal ini dikenal dengan istilah cost-push inflation. Ketika biaya bahan baku, energi, atau tenaga kerja meningkat, produsen akan menaikkan harga jual untuk menjaga margin keuntungan.

Kondisi ini sering terjadi saat harga minyak dunia naik atau terjadi gangguan rantai pasok global. Dampaknya bisa dirasakan secara luas karena hampir semua sektor terdampak.

4. Ketidakstabilan Politik dan Ekonomi

Faktor non-ekonomi seperti konflik, perang, atau ketidakstabilan politik juga dapat memicu inflasi. Ketika kondisi negara tidak stabil, distribusi barang terganggu dan kepercayaan investor menurun. Hal ini menyebabkan nilai tukar melemah dan harga barang impor meningkat. Situasi ini memperparah inflasi dan membuat pemulihan ekonomi menjadi lebih sulit.

Melihat kondisi global, jelas bahwa inflasi merupakan tantangan besar bagi banyak negara. Namun, Indonesia masih berada dalam posisi yang relatif aman dengan tingkat inflasi yang terkendali. Kuncinya adalah menjaga keseimbangan antara kebijakan, stabilitas ekonomi, dan ketahanan sektor riil agar inflasi tetap terkendali di masa depan.

Baca Juga: 10 Provinsi dengan Inflasi Tertinggi Awal 2026

Sumber:

https://www.imf.org/en/publications/weo/issues/2025/10/14/world-economic-outlook-october-2025

Penulis: Aisha Zahrany
Editor: Firda Wandira

Konten Terkait

BPS: Kota Yogyakarta Juara 1 Nasional dalam Konsumsi Sayur Matang

Di Yogyakarta sendiri, akses terhadap hidangan sayur matang memang tergolong mudah dan merata.

10 Kabupaten Paling Gemar Konsumsi Mi Instan di Pulau Jawa, Ada Daerahmu?

Kabupaten Lebak menduduki peringkat pertama dengan konsumsi mi instan per kapita dalam seminggu sebesar 0,287 porsi, diikuti oleh Brebes dengan 0,173.

Terima kasih telah membaca sampai di sini

atau

Untuk mempercepat proses masuk atau pembuatan akun, bisa memakai akun media sosial.

Hubungkan dengan Google Hubungkan dengan Facebook