Teknologi mesin pesawat terbang semakin berkembang pesat. Penggunaan teknologi mesin standar pesawat komersial modern (turbofan) yang berdaya dorong tinggi, seperti Rolls-Royce Trent XWB pada Airbus A350 dan bodi pesawat berbahan komposit ringan kini memungkinkan penerbangan nonstop lebih dari 18 jam.
Melansir readyfortakeoffbook.com, jenis pesawat Airbus A350-900ULR (Ultra Long Range) menjadi gambaran paling nyata. Pesawat ini menggunakan dua mesin efisien untuk menggantikan konfigurasi empat mesin pada generasi lama seperti Airbus A340-500, sekaligus dilengkapi sistem bahan bakar yang mampu menampung hingga sekitar 165.000 liter. Hasilnya, jangkauan terbangnya bisa mencapai ±18.000 km.
Menurut pantauan data dari Flightradar24, sejak 2020, Singapore Airlines memegang rekor sebagai penerbangan komersial terjauh di dunia melalui rute Bandara Internasional Changi (SIN) menuju Bandara Internasional John F. Kennedy (JFK), New York, sejauh 15.349 km, dengan durasi tempuh sekitar 18 jam 50 menit.
Maskapai Singapore Airlines bahkan belum lama ini menjadwalkan penerbangan ke Bandara Internasional Newark Liberty (EWR) sebagai titik kedua penerbangan komersial terjauh di dunia, dengan jarak tempuh sekitar 15.344 km dan durasi ±18 jam 45 menit. Berikut beberapa rute penerbangan terjauh di dunia pada tahun 2025.
Daftar 10 Rute Penerbangan Terpanjang di Dunia 2025
Baca Juga: Daftar 10 Pesawat Tercepat di Dunia, Ini Datanya!
Posisi ketiga, Qatar Airways melalui rute Doha–Auckland (DOH–AKL) menempati salah satu jalur terpanjang dengan jarak 14.535 km. Meski jaraknya sangat jauh, durasi penerbangan yang relatif lebih singkat sekitar 16 jam 30 menit menunjukkan efisiensi rute serta kemungkinan dukungan angin jet stream. Penggunaan Airbus A350-1000 juga menegaskan fokus maskapai pada efisiensi bahan bakar dan kenyamanan penumpang jarak jauh.
Di posisi keempat masih ditempati oleh Qantas pada rute Perth–London (PER–LHR) menjadi tonggak penting karena membuka koneksi nonstop antara Australia dan Eropa. Dengan mengandalkan Boeing 787-9 Dreamliner, Qantas mampu menekan konsumsi bahan bakar sekaligus menjaga kenyamanan dalam penerbangan berdurasi lebih dari 17 jam.
Masih dari Qantas, rute Dallas–Melbourne (DFW–MEL) memperkuat konektivitas langsung antara Australia dan Amerika Serikat. Durasi sekitar 17 jam lebih mencerminkan kompleksitas rute lintas Pasifik, namun tetap dapat dijalankan secara efisien berkat teknologi pesawat modern.
Berikutnya, rute Perth–Paris (PER–CDG) menunjukkan strategi ekspansi Qantas ke Eropa daratan. Rute ini tidak hanya melayani kebutuhan wisata, tetapi juga memperkuat posisi Perth sebagai gerbang utama penerbangan jarak jauh dari Australia Barat.
Pada urutan selanjutnya, kolaborasi Air New Zealand dan Qantas melalui rute New York–Auckland (JFK–AKL) menghadirkan koneksi langsung antara Amerika Utara dan Selandia Baru. Dengan durasi mendekati 17 jam, rute ini menuntut efisiensi operasional tinggi, terutama dalam pengelolaan kru dan bahan bakar.
Kemudian, Emirates melalui rute Auckland–Dubai (AKL–DXB) tetap mempertahankan eksistensinya sebagai salah satu penerbangan terpanjang di dunia. Penggunaan Airbus A380-800 yang berkapasitas besar menunjukkan bahwa permintaan tinggi masih mampu menopang operasional pesawat berbadan lebar untuk rute ultra-long range.
Di posisi kesembilan, Singapore Airlines kembali muncul melalui rute Los Angeles–Singapura (LAX–SIN). Meskipun tidak sepanjang rute (SIN–JFK), jalur ini tetap penting dalam menghubungkan Asia Tenggara dengan Amerika Serikat secara langsung.
Terakhir, Air India melalui rute San Francisco–Bangalore (SFO–BLR) menonjol karena menghubungkan dua pusat teknologi global. Dengan Boeing 777-200LR, maskapai ini mampu menjalankan penerbangan jarak jauh secara efisien sekaligus memenuhi kebutuhan mobilitas pebisnis dan profesional di sektor teknologi.
Secara keseluruhan, terlihat bahwa maskapai dari Timur Tengah, Australia, dan Asia mendominasi rute ultra-long range. Selain faktor teknologi pesawat, pemilihan rute sangat dipengaruhi oleh kebutuhan konektivitas global, khususnya antara pusat bisnis, ekonomi, dan teknologi dunia.
Ambisi Project Sunrise oleh Qantas
Era penerbangan ultra-long masih akan berlanjut. Melansir dari Tempo.co, Qantas Airways mengembangkan rute penerbangan jarak jauh bertajuk “Project Sunrise” yang dirancang untuk melayani rute Sydney–London (SYD-LHR) dan Sedney–New York (SYD-JFK) nonstop.
Jarak penerbangan dari Bandara Internasional Sydney ke Bandara Internasional Heathrow, London, diperkirakan mencapai ~17.015 km, dengan durasi penerbangan sekitar 21 jam. Sedangkan penerbangan dari Bandara Internasional Sydney ke Bandara Internasional John F Kennedy, New York, menempuh waktu sekitar 19 jam, dengan jarak ~16.013 km.
Qantas menargetkan peluncuran pada akhir 2026 atau awal 2027, menggunakan 12 pesawat Airbus A350-1000ULR yang dipesan khusus.
Melansir dari timeout.com, pesawat A350-1000ULR ini dilengkapi tangki bahan bakar tambahan (~20.000 L rear tank) agar mampu menempuh jarak ekstrem. Desain kabin pesawat juga memfokuskan pada kenyamanan, selain kursi First dan Business modern, tersedia juga zona khusus “Wellbeing Zone” untuk peregangan dan relaksasi di tengah penerbangan. Misalnya, area ini menyediakan ruang untuk jalan-jalan ringan dan camilan sehat, serta pencahayaan kabin adaptif yang mengikuti ritme sirkadian penumpang. CEO Qantas, Alan Joyce, menegaskan bahwa ruangan ini unik, penumpang bisa berdiri dan bergerak untuk mengurangi kelelahan terbang panjang.
Secara ringkas, Project Sunrise berupaya untuk memberikan inovasi baru dengan memadukan teknologi pesawat terbaru dan desain kabin berorientasi kesehatan penumpang. Jika berhasil, Qantas akan memegang rekor baru (lompatan dari 15.349 km menjadi 17.015 km) sekaligus memberi inspirasi bagi industri penerbangan global.
Baca Juga:Garuda Indonesia Jadi Maskapai Paling Tepat Waktu Ke-6 di Asia Pasifik 2025
Rahasia di Balik Penerbangan Ultra-Long Range
Apa rahasia teknis di balik penerbangan super panjang? Yang pertama tentu adalah manajemen bahan bakar. Pesawat ULR seperti A350-900ULR dan A350-1000ULR memiliki sistem bahan bakar yang telah dimodifikasi: tangki sayap dan pusat diperbesar untuk menampung puluhan ribu liter ekstra. Teknik ini memungkinan membawa bahan bakar sejak lepas landas (blok bakar penuh), sehingga tidak memerlukan isi ulang di tengah jalan. Untuk mengompensasi berat bahan bakar, ruang kargo depan juga dikurangi. Semua ini memungkinkan terbang nonstop tanpa mengurangi jarak tempuh.
Kedua, teknologi kabinnya juga disesuaikan untuk kenyamanan. Pesawat modern seperti A350 mampu menjaga tekanan kabin lebih rendah (~6000 ft ekuivalen) dan kelembapan lebih tinggi (~15-20%) dibanding pesawat lama. Hal ini terbukti mengurangi efek jet lag dan dehidrasi. Misalnya, Qantas menambahkan sistem kontrol kelembapan terintegrasi di suite kelas utamanya. Selain itu, pencahayaan kabin dikalibrasi untuk membantu penumpang mengatur ritme tidur (mode “sunrise” dan “sunset” mengikuti sirkadian). Ringkasnya, setiap aspek kabin ultra-long haul dirancang agar penumpang lebih segar saat tiba.
Tips Menempuh Penerbangan Jarak Jauh 18 Jam agar Tetap Nyaman
Untuk mendukung kenyamanan selama menempuh perjalanan belasan jam tanpa henti, persiapan yang matang menjadi kunci utama. Berikut beberapa tips yang bisa diterapkan:
1. Mempersiapkan Fisik dan Stamina Sebelum Keberangkatan
Pastikan tubuh dalam kondisi fit dengan istirahat yang cukup sebelum terbang. Idealnya, persiapan fisik sudah dilakukan sejak dua hingga tiga hari sebelum keberangkatan dengan menjaga kualitas tidur agar tubuh lebih siap menghadapi perjalanan panjang.
Selain itu, perhatikan asupan makanan dengan mengonsumsi makanan bergizi untuk menjaga daya tahan tubuh. Pilih makanan yang kaya vitamin dan serat namun tetap ringan bagi pencernaan. Di sisi lain, sebaiknya hindari makanan yang terlalu asin atau tinggi gas agar tidak menimbulkan rasa mual atau begah saat harus duduk dalam waktu lama di pesawat.
2. Mengatur Waktu Tidur dengan Baik
Begitu masuk dan duduk di dalam pesawat, segeralah atur waktu pada perangkat elektronik mengikuti zona waktu kota tujuan. Langkah ini membantu tubuh beradaptasi lebih cepat dan mengurangi efek jet lag. Selanjutnya, atur jadwal tidur sesuai waktu di destinasi agar ritme biologis tetap terjaga.
Selain itu, penumpang dapat memanfaatkan kursi yang bisa direbahkan (terutama di Business atau Premium Economy) agar tubuh bisa beristirahat optimal. Selain itu, gunakan bantal leher dan penutup mata supaya tidur lebih nyenyak meski di kabin pesawat.
3. Menjaga Hidrasi Tubuh
Minum air putih secara rutin selama penerbangan sangat penting. Selain itu, kurangi konsumsi kafein dan alkohol karena dapat mempercepat dehidrasi dan membuat tubuh lebih cepat lelah.
4. Melakukan Peregangan Ringan
Cobalah berdiri, berjalan, atau melakukan peregangan setiap 2–3 jam. Hal ini membantu melancarkan peredaran darah sekaligus mencegah kram dan pembengkakan pada kaki.
5. Menggunakan Pakaian yang Nyaman
Kenakan pakaian longgar dan kaus kaki kompresi agar sirkulasi darah tetap lancar selama duduk dalam waktu lama.
6. Menyiapkan Hiburan Pribadi
Unduh film, musik, atau podcast favorit sebelum terbang agar tidak bergantung sepenuhnya pada sistem hiburan pesawat.
7. Membawa Perlengkapan Penting
Pastikan membawa headphone noise-cancelling, power bank, serta perlengkapan kebersihan seperti tisu basah dan sikat gigi kecil agar tetap segar sepanjang perjalanan.
Sumber: https://www.flightradar24.com/blog/longest-flights/#:~:text=Great%20circle%20distance%3A%2015%2C344km%20,900ULR
Penulis: Helni Sadiyah
Editor: Editor