Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla sedang melanda berbagai wilayah Indonesia saat ini. Bukan hanya Indonesia, belahan dunia lain juga sedang mengalami musibah yang sama. Berikut 10 negara dengan karhutla terparah di dunia.
Top 10 Negara dengan Karhutla Terparah di Dunia
Republik Demokratik Kongo menduduki peringkat atas dengan tingkat karhutla terparah yakni lebih dari 13,6 juta hektare.
Posisi kedua ditempati oleh Australia dengan luas kebakaran lahan 11,8 juta hektare.
Peringkat ketiga diisi oleh Angola dengan karhutla seluas 7,4 juta hektare. Sudan Selatan berada di peringkat keempat dengan karhutla seluas 6,9 juta hektare.
Peringkat kelima ditempati oleh Republik Afrika Tengah dengan luas karhutla 6,01 juta hektare. Myanmar berada di peringkat keenam dengan luas karhutla 4,3 juta hektare.
Peringkat ketujuh diisi oleh India dengan luas karhutla 4,09 juta hektare.
Peringkat kedelapan ada Rusia dengan luas karhutla 3,3 juta hektare. Di bawahnya ada Ginea dengan luas karhutla 3,2 juta hektare.
Posisi kesepuluh diisi oleh Zambia dengan luas karhutla 3,2 juta hektare.
Baca Juga: Katanya/Datanya: Karhutla 2026 Jauh di Bawah Beberapa Tahun Lalu
Bagaimana dengan Karhutla yang Terjadi di Indonesia Selama 2026?
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat luas karhutla di Indonesia mencapai 72.798 hektare.
Data BNPB menunjukkan provinsi dengan luas karhutla terbesar adalah Kalimantan Barat dengan luas 38.310,89 hektare. Ada pun petugas darat yang dikerahkan untuk memadamkan api di Kalimantan Barat sebanyak 10.010.
Di urutan kedua ada Riau dengan luas karhutla 16.249,24 hektare dengan pengerahan petugas pemadam kebakaran sebanyak 17.764 orang.
Kalimantan Selatan menduduki peringkat ketiga dengan luas karhutla 8.019,62 hektare, dengan mengerahkan sebanyak 1.408 petugas pemadam kebakaran.
Kalimantan Tengah berada di urutan keempat dengan luas karhutla 7.634,46 hektare dan mengerahkan 10.700 petugas pemadam kebakaran.
Di urutan kelima ada Sumatera Selatan dengan luas karhutla 1.926,23 hektare. Jambi berada di posisi keenam dengan luas karhutla 658,29.
Baca Juga: 10 Korporasi Konsesi Penyumbang Titik Api Karhutla Terbanyak di Kalimantan 2026
Mengapa Indonesia Rawan Terjadi Karhutla?
Ancaman karhutla di Indonesia belum benar-benar hilang. Menurut data Sistem Pemantauan Karhutla Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, luas karhutlah terus terjadi setiap tahunnya.
Berbagai lembaga pemantau juga mencatat titik-titik panas masih terus muncul di sejumlah wilayah rawan.
Fakta ini menunjukkan bahwa kebakaran hutan bukanlah kejadian insidental, melainkan risiko berulang yang harus dikelola secara sistematis, berkelanjutan, dan berbasis mitigasi.
Berikut alasan mengapa Indonesia rawan terjadi karhutla.
- Tata Kelola yang Belum Terintegrasi
Indonesia memiliki sistem pemantauan hotspot berbasis satelit, prakiraan cuaca yang semakin akurat, serta berbagai perangkat kelembagaan yang terlibat dalam pengendalian kebakaran.
Tantangan utama terletak pada bagaimana seluruh instrumen tersebut diintegrasikan dalam tata kelola yang efektif dan berkesinambungan.
Karhutla tidak hanya berurusan dengan sektor lingkungan hidup, tetapi juga berkaitan erat dengan tata ruang, pertanian, perkebunan, penegakan hukum, pemerintahan daerah, hingga pemberdayan masyarakat.
Oleh karena itu, diperlukan pendekatan lintas sektor untuk dapat mengendalikannya. Pada kenyataannya, koordinasi antarlembaga baru menguat ketika kebakaran terjadi, bukan pada tahap pencegahan.
- Kelemahan Pengawasan
Data hotspot dan riwayat kebakaran selama bertahun-tahun telah memperlihatkan lokasi yang berulang. Namun, pengawasan, patroli, dan langkah antisipatif masih belum dilakukan secara konsisten sebelum kemarau tiba.
Tanpa langkah ini, wilayah yang sama akan terus mengalami kebakaran berulang setiap tahunnya.
- Beralih dari Pemadaman ke Pencegahan
Selama ini, ketika ancaman kebakaran meningkat, rapat koordinasi digelar, posko didirikan, personel disiagakan, dan berbagai sumber daya dimobilisasi.
Namun, begitu musim hujan datang, intensitas mitigasi ikut mereda padahal pencegahan efektif justru dibangun ketika tidak ada kebakaran.
Peralatan harus dipersapkan sejak dini, pelatihan personel dilakukan berkelanjutan, dilakukan pemetaan kawasan rawan, serta pelibatan masyarakat dalam pengawasan maupun deteksi dini.
Di berbagai daerah, masyarakat lokal telah lama mempraktikkan kearifan tradisional dalam mengantisipasi musim kering dan mengurangi risiko kebakaran. Pengetahuan lokal tersebut dapat menjadi bagian dari strategi mitigasi nasional.
Baca Juga: Luas Kebakaran Hutan Kalimantan Tembus 57 Ribu Ha hingga Juni 2026
Apa Saja Upaya Pemadaman Karhutla di Indonesia?
Upaya pengendalian karhutla telah diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 45 tahun 2004 tentang Perlindungan Hutan. Pada pasal 20 disebutkan bahwa upaya pengendalian meliputi pencegahan, pemadaman, dan penanganan pascakarhutla.
Untuk pemadaman sendiri terdapat empat cara sebagai berikut.
- Pemadaman Manual
Pemadaman ini dilakukan dengan cara menyiramkan titik api dengan air yang disambungkan menggunakan selang. Pemadaman dilakukan dengan pemadam karhutla dan tangki air.
- Sekat Bakar
Sekat bakar adalah jalur pemisah areal dalam hamparan bahan bakaran untuk mencegah dan atau mengurangi kemungkinan terjadinya kebakaran yang lebih luas.
Sekat bakar terbagi menjadi sekat bakar buatan dan sekat bakar alami.Sekat bakar buatan dibuat dengan sengaja pada lokasi yang rawan terjadi kebakaran.
Sementara itu, sekat alami adalah sekat bakar yang terbentuk karena kondisi alam seperti sungai, jalan, atau danau.
- Water Bombing
Water bombing dilakukan dengan cara menjatuhkan air dari atas pada titik panas di area lahan yang terbakar.
Air dengan kapasitas 4.000-5.000 liter dibawa menggunakan helikopter untuk disiramkan ke area kebakaran. Air dapat diambil dari sumber air atau sungai terdekat.
- Teknologi Modifikasi Cuaca
Teknologi modifikasi cuaca atau disebut juga hujan buatan, merupakan penggabungan teknologi dengan fenomena alam. Zat higroskopis seperti garam dapur (NaCL) dan CaCl2 ditaburkan di bibit awan.
Garam-garam ini harus berbentuk butiran halus dengan diameter 10-50 mikron. Garam yang telah ditabur akan membentuk titik-titik uap air untuk terjadinya hujan.