Sektor Pemerintahan Jadi Sektor dengan Insiden Siber Terbanyak

Indonesia perlu memperkuat sistem keamanan sibernya serta meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga keamanan informasi di dunia digital.

Sektor Pemerintahan Jadi Sektor dengan Insiden Siber Terbanyak Ilustrasi Keamanan Siber | NEIT

Insiden siber menjadi ancaman yang semakin mengkhawatirkan di era digital saat ini. Kejadian tersebut mencakup serangan terhadap sistem komputer, jaringan, atau perangkat yang menyebabkan kerugian signifikan baik secara finansial, data, maupun reputasi. 

Bahaya dari insiden siber tidak hanya mengancam perusahaan besar, tetapi juga instansi pemerintah dan masyarakat umum. Dampak dari serangan siber bisa sangat luas, mulai dari pencurian data pribadi, gangguan operasional bisnis, hingga kerusakan infrastruktur kritis yang dapat mengganggu layanan publik.

Ada beberapa faktor yang mengakibatkan terjadinya insiden siber. Salah satunya adalah kelemahan dalam sistem keamanan informasi yang dapat dieksploitasi oleh peretas. Selain itu, kurangnya kesadaran dan edukasi tentang keamanan siber di kalangan pengguna juga menjadi penyebab utama.

Teknologi yang terus berkembang turut menciptakan celah baru yang bisa dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Sering kali, serangan siber terjadi karena adanya motif finansial, politik, atau bahkan hanya untuk memamerkan kemampuan peretas tersebut.

Indonesia tidak luput dari ancaman insiden siber. Berbagai sektor di tanah air, mulai dari perbankan, telekomunikasi, hingga pemerintahan, sering menjadi target serangan siber.

Pada tahun 2023, sektor administrasi pemerintahan mencatatkan jumlah insiden siber tertinggi di Indonesia dengan 186 insiden. Tingginya angka ini menunjukkan bahwa sektor publik sering menjadi target utama serangan siber. 

Sektor dengan Insiden Siber Terbanyak | GoodStats

Tingginya insiden ini terjadi karena data yang disimpan dan diproses oleh instansi pemerintah bersifat sensitif. Serangan terhadap sektor ini dapat mengakibatkan kebocoran data pribadi warga negara, gangguan layanan publik, dan penurunan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.

Sektor keuangan menduduki posisi kedua dengan 38 insiden siber. Bank dan institusi keuangan menjadi sasaran empuk bagi para peretas karena besarnya nilai uang dan data keuangan yang dikelola. 

Insiden siber di sektor ini dapat mengakibatkan kerugian finansial yang besar, baik bagi lembaga keuangan itu sendiri maupun nasabahnya. Selain itu, gangguan pada layanan keuangan bisa menyebabkan kekacauan ekonomi yang meluas.

Sektor transportasi juga tidak luput dari serangan siber, dengan total 24 insiden. Keamanan sistem transportasi sangat penting karena berhubungan langsung dengan keselamatan publik.

Serangan siber pada sektor ini dapat mengakibatkan gangguan operasional, keterlambatan, dan bahkan potensi kecelakaan jika sistem kontrol dan manajemen transportasi terganggu.

Sektor energi dan mineral mencatatkan 18 insiden siber. Mengingat pentingnya infrastruktur energi bagi stabilitas dan kelangsungan hidup masyarakat, serangan terhadap sektor ini bisa berakibat sangat serius. Gangguan pada jaringan listrik atau distribusi bahan bakar dapat menyebabkan pemadaman listrik yang meluas dan kekurangan energi yang parah.

Sektor informasi dan komunikasi mengalami 5 insiden siber, jumlah yang sama dengan sektor kesehatan dan pangan. Meskipun angka ini relatif kecil dibandingkan sektor lainnya, serangan terhadap sektor informasi dan komunikasi bisa berdampak luas karena sektor ini adalah tulang punggung dari hampir semua kegiatan digital. 

Sektor pertahanan, meskipun hanya mencatat 2 insiden, tetap harus meningkatkan kewaspadaannya. Keamanan siber dalam sektor ini berhubungan langsung dengan keamanan nasional, dan setiap insiden dapat menimbulkan ancaman besar bagi kedaulatan dan stabilitas negara.

Selain sektor-sektor tersebut, ada 60 insiden siber yang terjadi pada berbagai sektor lainnya. Jumlah ini menunjukkan bahwa ancaman siber bersifat menyeluruh dan dapat menyerang berbagai bidang kehidupan. Oleh karena itu, setiap sektor harus waspada dan terus memperkuat sistem keamanan sibernya untuk mengantisipasi dan menangkal serangan yang bisa terjadi kapan saja.

Data dari Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) ini kembali mengingatkan pentingnya kolaborasi antara sektor publik dan swasta dalam memperkuat keamanan siber demi melindungi kepentingan nasional dan kesejahteraan masyarakat.

Baca Juga: 10 Negara dengan Kasus Kebocoran Terbanyak di Dunia, Indonesia Termasuk?

Penulis: Brilliant Ayang Iswenda
Editor: Editor

Konten Terkait

Deforestasi Indonesia Sentuh Kawasan Konservasi dan Hutan Lindung

Deforestasi di Indonesia kembali mengalami peningkatan, apakah ini sinyal akan terjadinya konflik manusia dan satwa yang lebih masif?

Juni 2024, Commuter Line Jabodetabek Tembus 26,6 Juta Pengguna

Di periode lebaran 2024 saja, commuter line bukukan pendapatan Rp88 miliar. Jumlah rangkaian hanya 8, KAI sedang ajukan pembelian rangkaian baru.

Terima kasih telah membaca sampai di sini

Dengan melakukan pendaftaran akun, saya menyetujui Aturan dan Kebijakan di GoodStats

atau

Untuk mempercepat proses masuk atau pembuatan akun, bisa memakai akun media sosial.

Hubungkan dengan Google Hubungkan dengan Facebook