Jagung adalah salah satu komoditas pertanian penting di Indonesia, baik sebagai pangan manusia maupun sebagai bahan baku pakan ternak. Produksi jagung di Indonesia mengalami fluktuasi dari tahun ke tahun, dipengaruhi oleh faktor seperti luas panen, produktivitas, dan kondisi iklim.
Berdasarkan data BPS pada tahun 2024, luas panen jagung pipilan atau jagung yang sudah dipisahkan dari tongkolnya, mencapai 2,55 juta hektare. Angka ini mengalami kenaikan sekitar 2,93% jika dibandingkan dengan luas panen pada tahun 2023 yang berada di kisaran 2,48 juta hektare. Kenaikan luas panen ini cukup penting karena semakin banyak lahan yang dipanen, semakin besar juga potensi produksi jagung nasional. Hal ini menunjukkan bahwa petani masih menaruh minat tinggi pada jagung sebagai salah satu komoditas pertanian yang dianggap stabil dan menguntungkan.
Untuk angka produksinya sendiri, BPS mencatat bahwa pada tahun 2024, produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14% mencapai 15,14 juta ton. Jumlah ini juga meningkat dari tahun 2023, di mana produksinya sekitar 14,77 juta ton. Dengan kata lain, kenaikan produksi ini berada di sekitar 2,47% dari tahun sebelumnya. Walaupun persentasenya tidak terlalu besar, peningkatan ini tetap menjadi tanda positif karena menunjukkan adanya perbaikan hasil panen di beberapa wilayah sentra produksi.
Jika dilihat dari data BPS, Indonesia pada tahun 2024 terbilang cukup berhasil mempertahankan tren kenaikan produksi jagung meskipun tantangan seperti perubahan cuaca tetap ada. Dalam publikasi “Buku Jagung 2024” dari Ditjen PKH (Kementan), dijelaskan bahwa pada tahun 2023 produksi jagung sempat menurun jika dibandingkan dengan tahun 2022. Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh fenomena iklim El Nino yang membuat musim kering lebih panjang dan lebih parah, sehingga tanaman jagung di beberapa daerah mengalami penurunan produktivitas. Kondisi ini menunjukkan bahwa sektor pertanian, termasuk jagung, sangat rentan terhadap perubahan iklim.
Artinya, meskipun pada tahun 2024 produksi kembali meningkat, dinamika iklim tetap menjadi faktor penting yang membuat hasil panen jagung tidak selalu stabil dari tahun ke tahun. Ada kalanya produksi naik ketika cuaca mendukung, tetapi bisa juga turun ketika musim kering berlangsung terlalu lama atau curah hujan tidak menentu. Inilah salah satu tantangan terbesar bagi petani jagung dan juga bagi pemerintah dalam menjaga produktivitas nasional agar tetap berada pada level yang aman untuk memenuhi kebutuhan pangan dan pakan dalam negeri.
Distribusi Produksi Jagung Berdasarkan Provinsi
Produksi jagung juga tidak merata di semua provinsi. Menurut BPS, lima provinsi dengan luas panen jagung terbesar di 2024 adalah Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Barat. Sedangkan produksi jagung (dalam ton jagung kering) paling tinggi datang dari provinsi-provinsi ini juga, terutama Jawa Timur dan Jawa Tengah.
Contohnya di provinsi DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta), pada 2024 luas panen jagung pipilan adalah 37,547 ribu hektare, dan produksinya sebesar 189,378 ribu ton (untuk kadar air 14 %) menurut BPS DIY. Sementara di Sulawesi Selatan, data BPS provinsi menunjukkan juga peningkatan luas panen jagung pada 2024.
Faktor pengaruh naik-turunnya produksi
Beberapa faktor sangat memengaruhi naik-turunnya produksi jagung di Indonesia. Salah satunya adalah kondisi iklim. Seperti yang dijelaskan dalam Buku Jagung, El Nino pada 2023 membuat cuaca lebih kering dan akhirnya menurunkan hasil panen di banyak daerah. Selain itu, cara penghitungan produksi juga berpengaruh. Data produksi jagung dihitung dari Survei KSA dan survei ubinan, lalu dikonversi menjadi produksi jagung pipilan kering melalui survei konversi jagung (SKJG).
Karena itu, perubahan metode survei atau cara konversi bisa membuat angka produksi berubah dari tahun sebelumnya. Faktor lain yang tidak kalah penting adalah luas panen, yang bisa naik atau turun tergantung keputusan petani dan ketersediaan lahan. Produktivitas per hektare juga sangat menentukan karena meskipun luas lahan tidak bertambah banyak, produksi tetap bisa meningkat jika hasil per hektarenya lebih baik. Semua hal ini saling berkaitan dan membuat produksi jagung setiap tahun tidak selalu sama.
Perkembangan Produksi Jagung
Secara keseluruhan, produksi jagung di Indonesia dari tahun ke tahun mengalami fluktuasi, tetapi data terbaru tahun 2024 menunjukkan adanya kenaikan dibanding tahun 2023. Hal ini terlihat dari meningkatnya luas panen jagung pipilan yang mencapai sekitar 2,55 juta hektare. Produksi jagung kering dengan kadar air 14% pada tahun tersebut juga tercatat sebesar 15,14 juta ton. Beberapa provinsi seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera Utara, dan Nusa Tenggara Barat menjadi penyumbang terbesar terhadap total produksi nasional. Perubahan produksi setiap tahunnya dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kondisi iklim seperti El Nino, metode survei yang digunakan, serta proses konversi data dari jagung basah menjadi jagung pipilan kering. Semua faktor ini membuat hasil produksi bisa naik atau turun dari tahun ke tahun.
Sumber :
- BPS Luas Panen, Produksi, dan Produktivitas Jagung Menurut Provinsi, 2024
- Produksi Jagung Nasional Meningkat 9,34 Persen Sepanjang 2025
Baca juga : Terus Naik, Simak Pergerakan Harga Beras 2018-2025
Penulis: Emily Zakia
Editor: Muhammad Sholeh