Potret Ruang Terbuka Hijau di Ibu Kota Negara ASEAN, Jakarta Kalah Jauh!

Jakarta hanya memiliki 6,48% ruang terbuka hijau, menempatkannya jauh di bawah rata-rata ibu kota negara ASEAN lainnya yang mencapai 19,47%.

Potret Ruang Terbuka Hijau di Ibu Kota Negara ASEAN, Jakarta Kalah Jauh! Ilustrasi RTH | Jakarta Tourism
Ukuran Fon:

Ketersediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) sering kali menjadi indikator penting bagi kesehatan warga di kota besar. Sebuah data menarik memaparkan perbandingan luas ruang terbuka hijau di berbagai ibu kota negara ASEAN. Sayangnya, data tersebut menunjukkan bahwa Jakarta masih memiliki PR yang sangat besar dalam menyediakan area hijau bagi para penduduknya.

Di tengah pesatnya pembangunan gedung pencakar langit, Jakarta tercatat hanya memiliki 6,48% ruang terbuka hijau. Angka ini menempatkan Jakarta jauh di bawah rata-rata ibu kota negara ASEAN lainnya yang mencapai 19,47%. Minimnya area hijau ini menjadi penanda betapa tingginya tekanan beban kota terhadap lingkungan akibat pembangunan yang sangat padat.

Perbandingan Area Hijau di Ibu Kota ASEAN

Jika menengok negara tetangga, Singapura dan Hanoi berhasil membuktikan bahwa menjadi kota yang padat bukan berarti harus mengorbankan area hijau. Singapura memimpin di posisi pertama dengan ketersediaan ruang hijau mencapai 48%, disusul ketat oleh Hanoi dengan 47%. Hal ini menunjukkan bahwa kepadatan sebuah kota tidak selalu berbanding lurus dengan minimnya lahan terbuka hijau jika dikelola dengan perencanaan yang matang.

Berikut adalah daftar lengkap luas RTH di ibu kota negara ASEAN:

Baca Juga: Jajaran Kota Termahal Dunia 2025, Jakarta Masuk 20 Besar!

Salah satu hal yang menarik untuk diperhatikan adalah Vientiane. Sebagai ibu kota baru dengan jumlah penduduk yang lebih kecil, Vientiane memiliki proporsi ruang hijau sebesar 22,5%. Keberhasilan ini membuktikan bahwa perencanaan awal sebuah kota sangat menentukan ketersediaan lahan hijau untuk jangka panjang. Bagi kota yang sudah terlanjur padat seperti Jakarta, menambah lahan hijau tentu menjadi tantangan yang jauh lebih berat karena terbatasnya lahan yang tersedia.

Selain berdampak pada estetika kota, minimnya ruang hijau juga berpengaruh langsung pada kualitas udara dan suhu udara yang semakin panas di perkotaan. Area hijau berfungsi sebagai "paru-paru" kota yang membantu menyerap polusi serta menjadi area serapan air untuk mencegah banjir. Oleh karena itu, penambahan taman kota dan hutan kota menjadi kebutuhan mendesak yang tidak bisa ditunda lagi demi kenyamanan hidup jutaan warga di dalamnya.

Masa Depan Hijau di Ibu Kota Baru

Rendahnya angka ketersediaan RTH di Jakarta sering kali memicu diskusi mengenai solusi jangka panjang. Salah satu isu yang sering muncul adalah apakah pemindahan ibu kota ke Nusantara (IKN) dapat menjadi jawaban atas krisis ruang terbuka hijau yang dialami Jakarta saat ini. Dengan merancang ibu kota baru sejak awal, pemerintah memiliki kesempatan untuk menciptakan kota dengan standar area hijau yang jauh lebih baik, seperti yang telah diterapkan oleh negara-negara maju.

Tantangan dalam mengelola kota sebesar Jakarta memang tidak mudah. Dibutuhkan kerja sama antara pemerintah dan masyarakat untuk menjaga area hijau yang tersisa serta menciptakan inovasi baru, seperti taman di atas gedung atau taman vertikal di lahan sempit. Dengan pengelolaan yang tepat, Jakarta diharapkan dapat perlahan-lahan memperbaiki kualitas lingkungannya agar menjadi tempat tinggal yang lebih sehat dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.

Baca Juga: Naik 2 Kali Lipat, Simak Luas Ruang Terbuka Hijau Indonesia 2019-2024

Penulis: Emily Zakia
Editor: Editor

Konten Terkait

KPK Berhasil Pulihkan Rp1,53 Triliun Aset Negara pada 2025

Melalui Konferensi Pers Kinerja Akhir Tahun 2025, KPK mengumumkan berhasil mengembalikan aset negara sebesar Rp1,53 triliun.

8 Ribu Hektare Hutan dan Lahan Terbakar pada 2025, Aceh Kini Terbakar Lagi

Luas karhutla Aceh tergolong tinggi pada 2025, capai 8.942 hektare. Kini, Aceh kembali dilanda kebarakan pada awal tahun 2026.

Terima kasih telah membaca sampai di sini

atau

Untuk mempercepat proses masuk atau pembuatan akun, bisa memakai akun media sosial.

Hubungkan dengan Google Hubungkan dengan Facebook