Perusahaan NFT Rajai Pasar Asia-Pasifik, Bagaimana Potensinya di RI?

Startup blockchain mendominasi pasar Asia-Pasifik dalam bidang fintech dan berhasil mengalahkan 18 subsektor lainnya. Lalu, bagaimana potensinya di Indonesia?.

Perusahaan NFT Rajai Pasar Asia-Pasifik, Bagaimana Potensinya di RI? Ilustrasi NFT terpopuler Cryptopunk/Egamer

Token non-fungible (NFT) merupakan aset kriptografi pada blockchain dengan kode identifikasi unik dan metadata yang membedakannya satu sama lain. Namun, mereka tidak dapat diperdagangkan atau ditukar dengan nilai sama.

Berbeda dengan cryptocurrency, yang identik satu sama lain. Oleh karena itu, kripto bisa dijadikan pembayaran untuk transaksi komersial. NFT memiliki potensi untuk beberapa penggunaan. Misalnya, mereka adalah transportasi yang ideal secara digital karena mewakili aset fisik seperti real estat maupun karya seni.

Karena didasarkan pada blockchain, NFT juga dapat digunakan untuk menghilangkan perantara dan menghubungkan penjual dengan audiens. Selain itu, NFT bisa dipakai untuk manajemen identitas, menyederhanakan transaksi, hingga menciptakan pasar baru.

Pada awal tahun ini di Indonesia, atensi masyarakat terhadap NFT meledak setelah viralnya sosok Ghozali yang melimbang miliaran rupiah hanya dalam hitungan hari. Ia berhasil menjual foto dirinya dengan nilai total menyentuh Rp12 miliar. Sebagai pembuat foto dan pihak pertama yang mendaftarkan NFT, ia mengaku telah mendapat 10 persen dari tiap transaksi.

Namun, fenomena viralnya Ghozali hanyalah pemicu tren NFT di Indonesia. Sebelumnya, bisnis NFT di Indonesia sebenarnya sudah tumbuh, namun hanya pada golongan kecil seperti komunitas. Lantas, bagaimana potensi pasar NFT? Apakah menjanjikan?

NFT dominasi pasar Asia-Pasifik

Berdasarkan hasil studi yang dilakukan bersama oleh raksasa akuntansi asal Kanada KPMG dan perusahaan perbankan internasional HSBC (The Hongkong and Shanghai Banking Corporation Limited) dalam judul Emerging Giants in Asia Pacific 2022, menunjukkan bahwa seperempat dari semua bisnis di kawasan tersebut yang terkait kripto pada bidang adopsi fintech tumbuh cepat.

10 subsektor fintech teratas di kawasan Asia-Pasifik | Goodstats

Perusahaan atau startup blockchain merupakan yang terkuat dalam jumlah pemain dan berada di posisi teratas dalam daftar 20 subsektor industri menurut laporan. Terutama, perusahaan NFT dan keuangan terdesentralisasi (Decentralized Finance/DeFi). Dari total sebanyak 6.472 pemain, penelitian ini mengidentifikasi sebanyak 1.130 raksasa NFT dan 650 DeFi yang baru muncul.

Bisnis industri berkelanjutan yang memiliki aspek ESG (Environmental, Social, and Governance) juga menonjol, dengan tiga subsektornya (infrastruktur pengisian EV, pengemasan berkelanjutan, dan mode berkelanjutan) termasuk di antara 20 subsektor teratas, membuat produk dan layanan terkait keberlanjutan menjadi fokus utama untuk sekitar 15 persen dari raksasa yang diidentifikasi. Daftar 20 teratas juga termasuk empat subsektor terkait perawatan kesehatan, termasuk teknologi bantu, bertenaga AI penemuan obat, neuroteknologi dan teknologi kesehatan jiwa.

Melansir Finbold, perusahaan blockchain termasuk pengembang game NFT Vietnam Sky Mavis, Korea Selatan pertukaran kripto pemilik Dunamu, dan perusahaan buku besar terdistribusi di China Hyperchain juga ikut masuk menjadi salah satu perusahaan yang diamati.

Dari hasil ini, subsektor NFT dan DeFi telah mengalahkan beberapa bidang berbasis fintech, termasuk infrastruktur pengisian kendaraan listrik (EV), komputasi kuantum, otomatisasi proses robot, satelit kecil, keamanan Internet of Things (IoT), dan lainnya.

Secara khusus, penelitian ini menganalisis 6,472 berfokus pada teknologi startup dengan valuasi hingga 500 juta dolar AS di 12 pasar regional utama (China Daratan, India, Jepang, Australia, Singapura, Korea Selatan, Hong Kong (SAR), Malaysia, Indonesia, Vietnam, Taiwan, dan Thailand), serta beberapa startup yang juga diwawancarai.

Di antara beberapa startup yang diteliti, leporan tersebut berhasil mengidentifikasi sepuluh perusahaan raksasa terkemuka dari masing-masing pasar yang diamati. Selain itu, terdapat lima perusahaan yang berpotensi menjadi unicorn atau swasta yang bernilai lebih dari satu miliar dolar AS.

Porsi tertinggi dari sejumlah startup yang teridentifikasi berasal dari China dengan persentase sebanyak 32,8 persen. Lalu, diikuti oleh India dengan total 30,1 persen, dan Jepang sebanyak 12,7 persen.

Potensi NFT di Indonesia

Indonesia masuk dalam daftar negara dengan jumlah pengguna NFT tertinggi di dunia pada 2021 menurut laporan dari Statista Digital Economy Compass 2022. Indonesia berada di urutan kedelapan dengan jumlah total mencapai 1,25 juta pengguna.

Daftar negara dengan jumlah pengguna NFT terbesar di dunia pada tahun 2021 | Goodstats

Adapun, Thailand memimpin dengan total 5,65 juta pengguna dan dinobatkan sebagai negara yang memiliki pengguna NFT terbanyak pada 2021 berdasarkan hasil laporan Statista.

Lalu, Brazil menyusul di urutan kedua dengan total pengguna sebanyak 4,99 juta orang. Amerika Serikat ada di urutan ketiga dengan 3,81 juta pengguna. Sedangkan, Tiongkok berada di posisi keempat dan memiliki 2,68 juta pengguna NFT pada 2021.

Berdasarkan data tersebut, diketahui bahwa peminat NFT di Indonesia sudah tinggi dan masih punya potensi besar untuk berkembang di masa mendatang. Bahkan, di tengah gempuran harga kripto yang tidak stabil dan cenderung menurun, platform di dalam negeri masih tak terdistraksi.

COO Tokocrypto Teguh Kurniawan Harmanda mengatakan bahwa pertumbuhan industri kripto pada saat market bearish masih cukup baik. Ia menyebut, masyarakat Indonesia masih melihat kripto sebagai investasi yang cukup menjanjikan di masa depan. Selain itu, model bisnis industri kripto di Indonesia juga sudah mulai berkembang.

“Jika dahulu hanya berbicara tentang perdagangan kripto atau bitcoin, kini sektornya sudha berkembang dalam ekosistem yang kompleks. Ini mencakup perkembangan Web3, DeFi, NFT, dan lainnya,” paparnya seperti yang dikutip dari CNNIndonesia.

Menurut laporan L’Atelier BNP Paribas, NFT memberikan peluang meraup untung hingga 2.000 persen, seperti yang terjadi di beberapa jenis NFT selama tahun 2020. Namun, angka ini bukan angka yang mudah diraih dengan kalkulasi yang matang.

NFT merupakan jenis investasi berupa kepemilikan objek. Harganya dipengaruhi oleh tingkat kepopuleran dan ikatan emosional antara objek dan audiensnya. Investasi seperti ini sulit untuk diprediksi, karena tidak ada tren yang dapat diikuti dan dianalisis. Singkatnya, faktor keberuntungan berperan besar dalam investasi ini.

Selain itu, NFT juga merupakan aset berbasis digital yang mudah untuk diperjualbelikan karena penjual tidak memerlukan ruang nyata. Sementara potensi bagi perusahaan adalah selain kemudahan, penggunaan NFT juga bisa meminimalisir biaya dan mendukung kelangsungan bisnis digital.

Penulis: Nada Naurah
Editor: Iip M Aditiya

Artikel Sebelumnya Kesiapan Masyarakat Indonesia Menyambut Jaringan 5G
Artikel Selanjutnya Preferensi Bekerja Pasca Pandemi, Balik Kantor atau Tetap di Rumah?
Konten Terkait