Tren lari di Indonesia, mengalami kenaikan minat yang signifikan setiap tahunnya. Pandemi Covid-19, disebut-sebut sebagai salah satu momentum yang menginisiasi masyarakat Indonesia untuk mulai lebih fokus menerapkan gaya hidup sehat. Menurut Garmin Connect, jumlah pelaku aktivitas lari meningkat sekitar tiga sampai empat kali di tahun 2024-2025 jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.
Dikenal sebagai olahraga yang menyehatkan, lari juga menjadi aktivitas olahraga yang menyenangkan untuk dilakukan bersama teman atau keluarga, sehingga dikenal sebagai olahraga kebersamaan.
Namun, di antara penggemar lari yang semakin menjamur, seperti apa data mengenai jumlah event lari di Indonesia?
Jumlah Pertumbuhan Event Lari di Indonesia
Pada tahun 2025, jumlah event lari di Indonesia mencapai total terbesar jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yakni sebanyak 558 acara yang tersebar di seluruh daerah seperti Jakarta, Semarang, Jogja, Riau, Makassar, Palembang, dan kota-kota besar lainnya yang juga turut berlomba-lomba mengadakan event olahraga terlaris tahun ini.
Melansir data Jadwal Lari Indonesia, jumlah event lari mengalami kenaikan signifikan setiap tahunnya. Khususnya pada tahun 2025, jumlah event lari diperkirakan naik sebanyak 100 event dibandingkan tahun 2024 yakni sebanyak 458 acara terselenggara.
Event lari tersebut memiliki kategori yang beragam mulai dari jarak ringan seperti 1K, jarak sedang 25K-50K, hingga jarak jauh yang mencapai 80K. Konsep acaranya pun bervariasi, mulai dari Family Run, Road Run, Charity Run, hingga Virtual Run yang memadukan konsep daring dalam pelaksanaan acara, memungkinkan peserta dapat berlari di lokasi, waktu, dan kecepatan mereka sendiri, sambil tetap terhubung secara virtual dengan pelari lainnya.
Di tahun ini, bulan November diperkirakan akan menjadi bulan dengan event lari terbanyak sepanjang tahun dengan total 112 event lari di seluruh tanah air. Sejumlah event besar turut menjadi penyelenggara pada bulan ini, di antaranya, Bank Jateng Borobudur Marathon, Pertamina Eco RunFest, Arutmin Borneo Run dan masih banyak lagi, menawarkan momentum persiapan akhir tahun yang memicu penggiat lari untuk aktif sebagai bagian dari personal goal masing-masing.
Pertumbuhan Jumlah Pelari di Indonesia
Salah satu laporan dari Starva melaporkan, adanya peningkatan jumlah klub lari di Indonesia sebanyak enam kali lipat pada tahun 2025. Menariknya, pertumbuhan tersebut juga diikuti dengan meledaknya jumlah pelari yang semakin berlipat setiap bulannya.
Jika dilihat melalui infografik, jumlah pelari di Indonesia mengalami tren kenaikan yang cukup fluktuatif namun tetap naik secara signifikan. Jika dibandingkan dengan enam bulan sebelumnya, yakni pada Januari 2024 (56 ribu pelari), cabang olahraga ini mengalami setidaknya sekitar 330% kenaikan, menjadi 242 ribu jumlah pelari per Mei 2025.
Grafik naik tersebut sempat turun pada bulan Maret yang diperkirakan karena bertepatan dengan bulan Ramadan di mana umat muslim melakukan ibadah puasa. Namun kembali naik drastis pada bulan-bulan setelahnya.
Peningkatan jumlah event lari turut dipengaruhi oleh kemudahan akses dan teknologi yang mempermudah pelari untuk terlibat dalam komunitas dan acara lari. Event besar seperti Jakarta Running Festival yang kini berskala internasional dengan lebih dari 27.000 peserta serta ISOPLUS Run yang menyediakan program latihan terstruktur, meningkatkan popularitas olahraga ini.
Lari juga menjadi aktivitas yang inklusif dan tidak terbatas usia atau kemampuan, sehingga diminati oleh banyak kalangan, termasuk perempuan lewat acara seperti Indonesia Women’s Run. Penyelenggaraan event dengan misi kesehatan, sosial dan lingkungan juga menyumbang pertumbuhan ini, menjadikan lari sebagai bagian dari gaya hidup modern yang menyenangkan dan bermanfaat bagi kebugaran fisik maupun mental masyarakat Indonesia.
Diantara meriahnya even lari dan marathon yang diselenggarakan besar-besaran, bagaimana kira-kira tren ini tidak hanya bernilai positif bagi kesehatan, namun juga membawa dampak baik bagi perekonomian Indonesia?
Menyumbang Kontribusi Besar Berbagai Sektor Ekonomi
Tidak hanya berdampak bagi kesehatan saja, berbagai event lari juga membawa dampak ekonomi yang cukup besar. Misalnya BTN Jakarta International Marathon (BTN JAKIM) 2025 menghasilkan dampak perputaran ekonomi sebesar Rp127,1 miliar. Event dengan 31.000 peserta dari 53 negara ini berhasil menggerakkan berbagai sektor termasuk perhotelan, transportasi, kuliner, retail olahraga, hingga UMKM lokal di Jakarta. Peserta mengeluarkan belanja untuk akomodasi, transportasi, konsumsi, perlengkapan olahraga, dan aktivitas wisata.
Disusul dengan Maybank Marathon 2025 di Bali yang juga memberikan dampak ekonomi langsung sebesar Rp170,8 miliar, meningkat drastis dari tahun sebelumnya yakni Rp125 miliar. Selain itu ada juga Jakarta Running Festival 2025 dengan 27.300 pelari memicu lonjakan okupansi hotel dan keterlibatan lebih dari 100 brand sponsor, menandakan event lari sebagai pendorong aktivitas ekonomi di ibu kota.
Beberapa sektor yang terlibat seperti perhotelan, kuliner lokal, retail sport, transportasi, dan berbagai UMKM seperti souvenir, terkena dampak langsung dari adanya perputaran ekonomi besar-besaran ini. Pasalnya, selain menjadi ajang olahraga, tren ini juga merupakan momentum sport tourism yang meningkatkan pendapatan para pelaku ekonomi kreatif dan lokal. Turut menandakan adanya efek domino yang positif dari pertumbuhan tren ini.
Baca juga: Jadwal dan Lokasi Car Free Day (CFD) di Jabodetabek dan Kota Besar Lainnya Tahun 2025
Penulis: Emily Zakia
Editor: Muhammad Sholeh