Mangga menjadi salah satu komoditas hortikultura yang memiliki potensi besar dalam mendorong perekonomian nasional. Selain digemari masyarakat dalam negeri, buah tropis ini juga memiliki nilai strategis di pasar ekspor berkat rasanya yang khas dan permintaan yang terus meningkat.
Indonesia pun tercatat dalam daftar negara produsen mangga terbesar di dunia, sebuah posisi yang menegaskan betapa pentingnya pengembangan sektor ini dalam memperkuat daya saing pertanian sekaligus membuka peluang lebih luas bagi perekonomian nasional.
Berdasarkan data TradeImeX tahun 2024, India masih menjadi negara penghasil mangga terbesar di dunia dengan produksi mencapai 26,3 juta ton. Angka tersebut jauh melampaui negara-negara lain, menjadikan India sebagai pusat utama produksi mangga global.
Sementara itu, Indonesia menempati peringkat kedua dengan produksi sekitar 4,1 juta ton, disusul China di posisi ketiga yakni sebanyak 3,8 juta ton. Ketiga negara ini mendominasi pasar mangga dunia dengan kontribusi produksi yang sangat besar dibandingkan negara lainnya.
Pada peringkat selanjutnya terdapat Pakistan dengan produksi 2,8 juta ton, diikuti Meksiko sebesar 2,5 juta ton, Brasil 2,1 juta ton, serta Malawi 1,9 juta ton. Sementara itu, Bangladesh, Vietnam, dan Thailand menempati posisi terbawah dalam sepuluh besar produsen mangga global dengan kisaran produksi 1,4 sampai 1,5 juta ton.
Data ini menunjukkan bahwa meski India mendominasi, Indonesia berhasil menjaga posisi strategis sebagai salah satu produsen utama mangga dunia yang berpotensi besar dalam mendukung perekonomian nasional maupun ekspor komoditas hortikultura.
Namun yang disayangkan, meskipun menjadi salah satu negara produsen mangga terbesar dunia, nilai ekspor mangga Indonesia tidak termasuk ke dalam daftar 10 besar. Hal ini menunjukkan perlunya peran pemerintah dalam mendorong peningkatan ekspor mangga ke luar negeri.
Baru-baru ini Badan Karantina Indonesia (Barantin) mendorong percepatan proses ekspor mangga gedong gincu ke Jepang. Terdapat 11 tahapan negosiasi akses pasar yang keseluruhannya dikawal oleh Barantin. Deputi Bidang Karantina Tumbuhan, Bambang menegaskan bahwa petani harus segera menghentikan penggunaan pestisida dan memusnahkan seluruh sisa kemasannya dari kebun.
Arahan ini dilatarbelakangi karena salah satu persyaratan utama ekspor mangga gedong gincu ke Jepang adalah harus bebas dari residu.
“Kita fokus dulu pada kualitas, bukan volume, kalau sudah lolos standar Jepang, maka pasar negara lain akan lebih mudah ditembus. Barantin punya tanggung jawab moral untuk memastikan ekspor ini berhasil,” tegas Bambang pada Senin (16/6/2025) melansir laman resmi Badan Karantina Indonesia.
Baca Juga: Tak Hanya Soal Mal, Intip Produksi Buah dan Sayur di Surabaya 2024
Sumber:
https://www.tradeimex.in/blogs/top-10-Mango-exporter
https://karantinaindonesia.go.id/detailberita/Barantin-Dorong-Percepatan-Ekspor-Mangga-Gedong-Gincu-ke-Jepang
Penulis: Silmi Hakiki
Editor: Editor