Membongkar Karakteristik Vapers Indonesia dan Alasannya

Tren merokok perlahan mulai tergerus dengan tren rokok elektrik. Di tengah revenue yang mencuat, pengguna vape semakimn banyak dan punya alasan yang variatif.

Membongkar Karakteristik Vapers Indonesia dan Alasannya Ilustrasi Vaping | Unsplash/RubénBagüés

Merokok sudah jadi budaya masyarakat di seluruh belahan dunia sejak dulu, tak terkecuali Indonesia. Di tengah bayang-bayang bahaya rokok yang terus menghantui dan telah banyak memakan korban, lahirlah rokok elektrik yang masif diberi klaim lebih sehat dan tidak seberbahaya rokok. Seiring perkembangan zaman dan industri, kini industri rokok elektrik semakin menjamur dan kian menjadi gaya hidup dan kian menjadi sektor bisnis yang menjanjikan.

Menurut data dari Statista, pendapatan global dari sektor rokok elektrik terus mencuat tinggi sejak 2012. Di tahun 2012 pendapatan global dari sektor rokok elektrik berada di angka 4517,6 juta euro, angka tersebut naik hingga tahun 2022 hingga mencapai angka 19 juta euro, dan diprediksikan akan terus naik di tahun-tahun berikutnya hingga tahun 2025. 

Pendapatan global tersebut hanya berasal dari negara-negara yang mengizinkan penjualan rokok elektrik. Berdasarkan data dari Global Center for Good Governance in Tobacco Control pada tahun 2021 lalu, ada sebanyak 73 negara yang mengizinkan penjualan rokok elektrik atau vape dengan regulasi tertentu. Sementara itu, sebanyak 37 negara di dunia tidak mengizinkan penjualan rokok elektrik. 

Di antara 73 negara di dunia yang tercatat mengizinkan penjualan rokok elektrik,  Indonesia menjadi salah satu negara yang mengizinkan penjualan rokok elektrik dengan regulasi tertentu. Di Indonesia sendiri, device yang diperjualbelikan tidak bisa ilegal, serta liquid vape yang akan dijual juga harus memiliki pita cukai karena memiliki EET atau Ekstrak Esens Tembakau yang juga harus dikenakan cukai. 

Pada tahun 2019, Jakpat pernah melakukan survei mengapa orang Indonesia memilih untuk mengonsumsi rokok elektrik atau vape dibanding rokok. Rupanya alasannya bervaritif, alasan yang paling dominan adalah karena vape dianggap kurang berbahaya dibanding rokok. Jawaban dengan variabel tersebut mendapatkan perolehan paling tinggi, yakni 94 persen dari pria dan 25 persen dari wanita. Selain itu, alasan paling dominan lainnya adalah karena memiliki bau yang enak dengan total perolehan 88 persen oleh pria dan 67 persen oleh wanita.

Berdasarkan data hasil survei yang dirilis oleh Statista pada bulan Desember 2022, 44 persen pengguna vape di Indonesia didominasi oleh anak muda usia 18 - 29 tahun. Sementara itu, disusul di bawahnya sebanyak 37 persen oleh golongan usia 30 - 39 tahun. Pola konsumsi rokok elektrik ini lebih didominasi oleh usia muda, semakin senja usianya semakin sedikit penggunanya.

Masih menyoal seputar pengguna vape, pengguna rokok elektrik Indonesia juga tercatat di dominasi oleh pria dengan total pengguna sebanyak 64 persen dari total pengguna vape. Sementara itu, dari total pengguna vape Indonesia, pengguna vape wanita tercatat berada di angka 36 persen.

Berdasarkan hasil survei tersebut juga ditemukan fakta bahwa, sebagian besar konsumen vape di Indonesia memiliki pendapatan yang tergolong tinggi. Sebanyak 41 persen responden konsumen vape dikategorikan memiliki pendapatan tinggi, sementara itu 36 persennya dikategorikan memiliki pendapatan menengah dan 24 persennya dikategorikan memiliki pendapatan yang rendah.

Penulis: Puja Pratama Ridwan
Editor: Iip M Aditiya

Artikel Sebelumnya Menyoal Kasus dan Penanganan HIV di Indonesia
Artikel Selanjutnya Serba-Serbi Gen Z dalam Menanggapi Isu Resesi 2023
Konten Terkait

Dengan melakukan pendaftaran akun, saya menyetujui Aturan dan Kebijakan di GoodStats

atau

Untuk mempercepat proses masuk atau pembuatan akun, bisa memakai akun media sosial.

Hubungkan dengan Google Hubungkan dengan Facebook