Krisis Energi 2026, Penyesuaian Apa Saja yang Dilakukan Publik RI?

Populix mengungkapkan 38% publik mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dalam menghadapi krisis energi, diikuti dengan memangkas pengeluaran (17%).

Krisis Energi 2026, Penyesuaian Apa Saja yang Dilakukan Publik RI? Ilustrasi BBM Indonesia | Pertamina Retail
Ukuran Fon:

Sejak awal Maret lalu, distribusi energi bahan bakar global mengalami gangguan akibat dari penutupan akses di Selat Hormuz yang merupakan jalur perairan strategis dalam rantai pasok energi global dari kawasan Timur Tengah ke berbagai penjuru negara, termasuk Indonesia. Adapun, total impor energi Indonesia dari negara teluk mencapai US$35 miliar pada tahun 2024.

Penutupan tersebut merupakan imbas dari eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat-Israel dan Iran. Meskipun akses Selat Hormuz sempat dibuka kembali oleh Iran setelah adanya kesepakatan gencatan senjata dengan Amerika selama dua pekan, jalur vital tersebut kembali ditutup karena imbas dari serangan militer Israel di Lebanon.

Sebelumnya, pasokan energi menjadi perhatian publik Indonesia akibat ketidakpastian yang berujung pada kenaikan harga bahan bakar hingga 2,8% per 30 Maret 2026, lebih rendah dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya, sebagaimana yang dilaporkan oleh Global Petrol Price.

Seiring berjalannya waktu, dampak konflik di Timur Tengah semakin dirasakan oleh masyarakat Indonesia. Populix melakukan survei terhadap 2.772 responden melalui PopPoll pada periode tanggal 2-5 April 2026 untuk melihat perilaku penyesuaian publik di tengah krisis energi, berikut rinciannya.

Penyesuaian yang Dilakukan Publik dalam Menghadapi Krisis Energi | GoodStats
Mayoritas publik memilih untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi

Baca Juga: Harga BBM di ASEAN Terus Naik, Bagaimana Indonesia?

Seiring terjadinya gangguan pasokan energi, sebanyak 38% responden melakukan penyesuaian dalam menghadapi ketidakpastian dengan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi. Selanjutnya, 17% responden memangkas pengeluaran pada pos kategori lain demi memenuhi kebutuhan energi bahan bakar.

Kemudian, skema work from home (WFH) atau pembatasan mobilitas dilakukan oleh 16% responden. Di sisi lain, sebanyak 12% responden mengaku belum melakukan penyesuaian terhadap krisis energi sama sekali. Sisanya, sebanyak 6% responden melakukan penyesuaian lainnya.

Lebih lanjut, Populix juga memberikan pertanyaan terkait ketertarikan responden terhadap solusi energi atau transportasi yang lebih ramah lingkungan. Mayoritas dari mereka atau 72% mengaku sangat tertarik dengan solusi tersebut. Sementara, 20% lainnya menyatakan agak lebih tertarik dan 6% lainnya memilih netral. Hanya 2% responden yang tidak tertarik dengan solusi ramah lingkungan tersebut.

Secara keseluruhan, kondisi ini mencerminkan bahwa minat publik terhadap solusi yang lebih ramah lingkungan semakin meningkat.

Preferensi Publik terhadap Alternatif Energi

Alternatif Energi yang Paling Dipertimbangkan Publik | GoodStats
Panel surya jadi energi alternatif yang paling dipertimbangkan publik | GoodStats

Selain melakukan berbagai upaya penyesuaian, publik juga mulai mempertimbangkan penggunaan energi alternatif. Buktinya, sebagian besar responden memilih panel surya atau energi rumah tangga alternatif dengan 38%. Lalu, 28% dari mereka mulai mempertimbangkan penggunaan transportasi umum.

Sementara itu, sebanyak 16% responden mempertimbangkan penggunaan kendaraan listrik dan 14% lainnya mulai menunjukkan minat terhadap peralatan rumah tangga hemat energi. Menariknya, 6% responden belum menunjukkan minat terhadap alternatif apapun.

Sisanya, sebanyak 4% cenderung mempertimbangkan penggunaan kendaraan hybrid, jenis kendaraan yang menggabungkan dua sistem penggerak utama berupa mesin berbahan bakar bensin dan motor listrik.

Secara keseluruhan, mayoritas responden memilih alternatif energi yang paling mudah diakses, apabila dibandingkan dengan solusi yang paling canggih.

Kondisi Pasokan BBM dan LPG Nasional Saat Ini

Kabar baik datang dari Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, yang mengklaim bahwa Indonesia sudah melewati masa kritis ketersediaan bahan bakar minyak (BBM). Ia memastikan bahwa pasokan BBM dan LPG nasional dalam kondisi yang cukup dan aman.

"Jadi sebenarnya saya ingin menyampaikan bahwa masa kritis kita terhadap dinamika global untuk BBM, alhamdulillah kita sudah lewati," ujarnya ketika ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, pada Jumat (10/4/2026), mengutip Liputan6.

Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa stok BBM berada di atas batas minimal dan stok LPG juga aman.

"Stok nasional tetap berada pada batasan minimal di atas 20 hari semua. Termasuk LPG kita di atas 10 hari," tegasnya.

Bahlil Lahadalia juga mengimbau masyarakat untuk tetap bijak ketika menggunakan BBM dan LPG.

“Tetapi sudah barang tentu, saya meminta kepada seluruh masyarakat, kita harus bijak, arif dalam memakai BBM, termasuk LPG," ujarnya.

Baca Juga: Analisis Sentimen Publik RI Soal Krisis BBM 2026

Sumber:

https://www.instagram.com/p/DW8i-cAGpgt/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=NTc4MTIwNjQ2YQ==

Penulis: Faiza Az Zahra
Editor: Editor

Konten Terkait

Bukan Remote, 71% Gen Z Ternyata Lebih Pilih Hybrid Working System!

Survei menunjukkan Gen Z lebih memilih hybrid working system dibanding remote. Temukan alasannya di sini!

Bagaimana Publik Menilai Demokrasi Indonesia Saat Ini?

Menurut survei LSI, sebanyak 69,8% merasa puas dengan kondisi demokrasi saat ini. Meski demikian, tren kepuasan terhadap kinerja demokrasi mengalami penurunan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini

atau

Untuk mempercepat proses masuk atau pembuatan akun, bisa memakai akun media sosial.

Hubungkan dengan Google Hubungkan dengan Facebook