Inilah Perbedaan Gaya Investasi Gen X, Milenial, dan Gen Z!

Saat ini, sudah banyak orang Indonesia yang sadar untuk berinvestasi. Survei Populix yang berjudul Insights and Future Trends of Investment in Indonesia menyata.

Inilah Perbedaan Gaya Investasi Gen X, Milenial, dan Gen Z! Ilustrasi perhiasan emas (shutterstock.com/g/NAR+studio)

Saat ini, sudah banyak orang Indonesia yang sadar untuk berinvestasi. Survei Populix yang berjudul Insights and Future Trends of Investment in Indonesia menyatakan bahwa 72 persen orang Indonesia memiliki investasi. 39 persen dari mereka menyisihkan sekitar 100.000-250.000 rupiah dari pemasukan reguler dan 10-15 persen dari pemasukan sampingan untuk berinvestasi.

Tidak asal berinvestasi, tentu perlu ada beberapa pertimbangan sebelum investasi. 75 persen responden Populix mempertimbangkan kondisi finansialnya sebelum berinvestasi. Selain itu, 65 persen responden juga mempertimbangkan informasi produk investasi yang jelas, 62 persen responden mempertimbangkan resiko profil produk investasi.

Investasi terdiri dari berbagai macam instrumen. Ada investasi properti, mata uang asing, deposito, saham, reksadana, emas, dll. Instrumen-instrumen investasi tersebut dipilih karena nilainya yang berfluktuatif, walaupun tingkat fluktuasinya berbeda tergantung tingkat resikonya. Pilihan instrumen investasi tergantung pada kebutuhan investor, serta tingkat resiko yang sanggup diambil.

Meski demikian, survei Populix menemukan pola pilihan instrumen investasi berdasarkan generasi. Berikut perbedaan preferensi investasi antara Generasi X (kelahiran tahun 1965-1980), Milenial (kelahiran tahun 1981-1996), dan Generasi Z (1997-2012). Terdapat perbedaan tujuan serta pilihan investasi antara Generasi X, Milenial, dan Generasi Z.

Tujuan Berinvestasi

Tujuan utama investasi terbanyak baik generasi X, milenial, maupun generasi Z sama, yaitu sebagai dana darurat. Mereka membutuhkan jenis investasi yang mampu dicairkan dengan mudah ketika ada kondisi darurat.

Perbedaannya ada pada motivasi investasi selain untuk dana darurat. Dibandingkan antar generasi, generasi Z paling banyak berinvestasi untuk mencari pemasukan tambahan, generasi milenial lebih banyak berinvestasi untuk biaya pendidikan anak, sedangkan generasi X berinvestasi untuk rencana pensiun nanti. 

Meski demikian, selisih angka minat berinvestasi untuk pemasukan tambahan antara generasi milenial dan generasi Z hanya satu persen. Artinya, motivasi investasi antara generasi milenial dan generasi Z tidak berbeda jauh.

Tujuan investasi yang berbeda antar generasi memiliki hubungan dengan fase hidup yang sedang dijalani. Sebagai contoh, kebanyakan generasi milenial mulai memasuki fase berkeluarga, sehingga membutuhkan pemasukan tambahan untuk biaya rumah tangga, termasuk pendidikan anak. Sedangkan beberapa generasi X akan memasuki masa pensiun, sehingga perlu mempersiapkan dana dari sekarang, sekaligus sebagai pemasukan pasif.

Pilihan Investasi

Secara keseluruhan, investasi mutual funds, atau yang lebih dikenal sebagai reksadana, lebih dipilih untuk investasi dibandingkan alat investasi yang lain. Namun, jika dibagi berdasarkan generasi, 46 persen generasi milenial dan 60 persen generasi X lebih menyukai investasi lewat perhiasan emas, sedangkan 55 persen responden generasi Z lebih menyukai investasi reksadana.

Investasi reksadana lebih diminati karena modal awal yang dikeluarkan tidak perlu besar. Selain itu, resiko dari investasi reksadana cenderung lebih rendah, dengan return yang tinggi. Investasi reksadana juga dapat dilakukan lewat smartphone masing-masing. Sehingga, cara investasi ini dianggap praktis bagi generasi Z.

Sama seperti investasi reksadana, investasi emas juga memiliki nilai jual yang lebih stabil. Harga emas tidak mengikuti fluktuasi pasar yang ekstrem, sehingga investasi ini dinilai lebih aman. Sekarang, emas pun dapat dibeli secara online, sehingga proses transaksi lebih mudah. Perbedaan pilihan investasi antar generasi ini berdasarkan pada pengetahuan mengenai investasi pada masa mereka yang berbeda.

Penulis: Kristina Jessica
Editor: Iip M Aditiya

Konten Terkait

Anak Muda di Indonesia Banyak Terjerat Pinjol, Apa Penyebabnya?

Berdasarkan laporan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), kelompok usia muda menyumbang kredit macet pinjol nasional terbanyak di Indonesia

Survei: Sebanyak 46% Masyarakat RI Masuk Kategori Financial Fragility

Berdasarkan riset dari tSurvey.id, sekitar 46% responden merasa tidak yakin untuk mengeluarkan sejumlah dana jika dihadapkan pada kondisi darurat

Terima kasih telah membaca sampai di sini

Dengan melakukan pendaftaran akun, saya menyetujui Aturan dan Kebijakan di GoodStats

atau

Untuk mempercepat proses masuk atau pembuatan akun, bisa memakai akun media sosial.

Hubungkan dengan Google Hubungkan dengan Facebook