Indonesia Miliki Biodiversitas Terbesar ke-2 di Dunia

Brasil menempati urutan teratas sebagai negara megabiodiversitas terbesar dengan skor 0,772. Kemudian disusul oleh Indonesia dan Kolombia.

Indonesia Miliki Biodiversitas Terbesar ke-2 di Dunia Hutan | Unsplash/Eelco Bohtlingk

Negara megabiodiversitas (megabiodiversity) merupakan negara yang memiliki keanekaragaman hayati lebih banyak dibandingkan negara-negara lain, baik bersifat endemis maupun hayati asli. Melansir dari Media Indonesia, biodiversitas diartikan sebagai keseluruhan gen, spesies, dan ekosistem yang ada di suatu kawasan, termasuk keanekaragaman genetik dan ekosistem.

Peneliti Pusat Penelitian Bioteknologi Lembaga Pengetahuan Indonesia (LIPI) Wulansih Dwi Astuti menjelaskan, bahwa suatu negara dikatakan sebagai megabiodiversity jika memiliki paling sedikit 5.000 spesies tumbuhan endemis dan memiliki marine ecosystem pada wilayahnya. Beberapa negara menampung sebagian besar keanekaragaman hayati yang ada di bumi ini. Maka dari itu, terdapat beberapa negara yang disebut sebagai negara megabiodiversitas.

Negara megabiodiversitas

Berdasarkan data dari Mongabay, Brasil menempati urutan teratas sebagai negara megabiodiversitas terbesar dengan skor 0,772. Mengutip dari Indonesia.go.id, Hutan Amazon sebagai hutan tropis terluas di dunia menjadi latar belakang tingginya tingkat keanekaragaman hayati di Brasil.

Kemudian, posisi kedua diduduki oleh Indonesia dengan skor 0,614. Tak heran, jika Indonesia masuk dalam jajaran negara megabiodiversitas. Indonesia adalah negara kepulauan dengan bentang alam yang sangat luas, di mana terdapat flora dan fauna yang beragam.

Selanjutnya, terdapat Kolombia dengan skor 0,567. Mengutip dari Colombia.co, salah satu negara Amerika Selatan ini terletak di daerah tropis khatulistiwa, sehingga memiliki topografi yang beragam dengan berbagai iklim dan ekosistem yang meningkatkan keanekaragaman hayatinya. Saat ini, Kolombia mencakup 10 persen flora dan fauna di bumi. Salah satu wilayah yang tinggi akan ekosistem keragaman hayatinya adalah wilayah Andes.

Posisi keempat terdapat China dengan skor 0,543. China memiliki hampir 10 persen spesies tumbuhan dan 14 persen hewan di bumi. Keanekaragaman hayati ini membantu dalam rangka menjaga produktivitas ekosistem, ketahanan pangan, serta menyediakan sumber daya penting, terutama obat-obatan.

Kelima diduduki oleh Peru dengan skor 0,509. Peru menjadi tempat hidup dari berbagai spesies burung, amfibi, mamalia, dan tumbuhan. Kemudian lima negara lainnya sebagai megabiodiversitas terdapat Meksiko, Australia, Ekuador, India, dan Amerika Serikat.

Indonesia sebagai negara megabiodiversitas ke-2

Mengutip dari ICCTF (Indonesia Climate Change Trust Fund), Indonesia memiliki 25 persen spesies ikan di dunia, mencakup 3.429 jenis ikan hidup di air laut dan 39 persen jenis ikan karang. Sebagian dari jenis ikan tersebut, sebanyak 120 jenis tercatat sebagai ikan endemis.

Keanekaragaman hayati di Indonesia | Goodstats

Kemudian, terumbu karang Indonesia meliputi 14 persen terumbu karang dunia yang terdiri atas 596 jenis karang. Dilansir dari Kompas.id, selain 25 persen spesies ikan di dunia ada di perairan Indonesia, terdapat pula 17 persen keragaman spesies burung, 16 persen amfibi dan reptil, 15 persen serangga, 12 persen mamalia, dan 10 persen tanaman berbunga di dunia ada di Indonesia.

Melansir dari Indonesiabaik, angka ini juga memengaruhi terhadap peringkat spesies milik Indonesia di dunia. Indonesia meraih peringkat satu spesies mamalia terbanyak, peringkat dua spesies ikan, peringkat empat spesies burung, reptil, dan tumbuhan. Kemudian, peringkat lima spesies krustasea dan peringkat sembilan spesies amfibi di dunia.

Kurang mendapatkan sentuhan riset

Namun, dibalik keragaman hayati yang besar ini dinilai masih minim akan riset dan pengembangan budidayanya. Melansir dari Kompas.id, Ahli Konservasi dan Biodiversitas Indonesia dari Universitas Indonesia, Jatna Supriatna mengatakan keanekaragaman hayati dan beragamnya spesies jika mendapatkan sentuhan riset dan pengembangan memadai dan terpadu akan mencukupkan kehidupan masyarakat secara berkelanjutan.

Jika dikembangkan secara tepat, Indonesia seharusnya tak perlu bergantung pada impor berbagai jenis pangan. Banyak sumber pangan lokal yang dapat dikonsumsi. Jatna mencontohkan masyarakat Mentawai yang menjadikan 150 jenis serangga sebagai sumber pangan lokal.

Kemudian, ikan berbobot besar di Kalimantan dan Sumatra juga kurang dalam pengembangan budidaya dan riset yang dilakukan. Alhasil, kekayaan ini sulit dipastikan keberlanjutannya. Selain itu, Indonesia juga punya anoa dan rusa tapi hanya diburu tanpa dikembangkan atau dibudidayakan.

Jika hal ini terus dibiarkan, tak menutup kemungkinan akan terjadi kepunahan di alam tanpa disadari. Maka dari itu, kita tak boleh hanya berhenti sampai pemanfaatan atau menghabiskan saja. Perlindungan, pelestarian, dan pengembangan keanekaragaman hayati juga harus dilakukan agar keberlanjutannya tetap dapat dirasakan.

Penulis: Brigitta Raras
Editor: Iip M Aditiya

Artikel Sebelumnya Survei Danareksa: Peran Istri Dominan dalam Rumah Tangga
Artikel Selanjutnya YouTube Jadi Platform Hiburan Favorit Masyarakat Indonesia 2022
Konten Terkait