Membandingkan Indeks Keamanan Siber Indonesia dengan Negara ASEAN

Menurut laporan National Cyber Security Index (NCSI) per Juni 2022, skor keamanan siber Indonesia 38,96 dari 100 dan menempati urutan nomor 83 secara global.

Membandingkan Indeks Keamanan Siber Indonesia dengan Negara ASEAN Indonesia tempati peringkat ke-6 dalam tingkat keamanan siber di ASEAN/Freepik

Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah pengguna internet terbesar di dunia. Bahkan, Indoensia menempati posisi nomor satu sebagai negara dengan ekonomi digital tertinggi di Asia Tenggara dan telah berkontribusi sebesar 70 miliar dolar AS terhadap ekonomi digital nasional pada 2021.

Melansir We Are social 2022, jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 204,7 juta dengan tingkat penetrasi sebanyak 73,3 persen per Januari 2022. Angka ini naik sekitar 1,03 persen dibandingkan tahun lalu.

Sayangnya, jumlah pengguna internet di Indonesia yang melimpah tidak dibarengi dengan tingkat keamanan siber yang baik. Menurut laporan dari National Cyber Security Index (NCSI), indeks keamanan siber di Indonesia menempati posisi nomor enam se-ASEAN dan nomor 83 dari 160 negara di dunia.

Indeks keamanan siber negara-negara di Asia Tenggara per Juni 2022 | Goodstats

Mengutip Databoks, NCSI membuat indeks penilaian tersebut berdasarkan beberapa indikator, misalnya aturan hukum negara bersangkutan mengenai keamanan siber, kerja sama pemerintah dalam hal keamanan siber, hingga lembaga pemerintah maupun rangkaian program terkait kemanan siber.

Sementara itu, Malaysia menempati peringkat nomor satu sebagai negara dengan indeks keamanan siber terbaik di ASEAN dengan skor79,22 dari 100 dan nomor 19 secara global. Di sisi lain, nilai indeks keamanan Indonesia hanya 38,96 per Juni 2022.

Menurut laporan dari Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), tercatat ada lebih dari 1,6 miliar anomali trafik keamanan siber dari periode Januari hingga Desember 2021. Angka ini meningkat hampir empat kali lipat dari tahun 2020 yang saat itu berjumlah 495 juta ancaman serangan siber.

Dari total anomali trafik tersebut, infeksi malware (perangkat lunak berbahaya) menyumbang ancaman paling banyak sebesar 62 persen. Diikuti dengan aktivitas trojan sebanyak 10 persen dan pengumpulan informasi untuk mencari celah keamanan (information gathering) sebanyak 9 persen.

Adapun, sepanjang tahun 2021 juga telah terjadi sekitar 5.574 kasus peretasan di beberapa sektor di Indonesia. Rinciannya yakni, lingkungan pendidikan tinggi sebanyak 36,49 persen, situs swasta sebanyak 25,1 persen, serta situs pemerintahan daerah sebanyak 18,23 persen.

Penulis: Nada Naurah
Editor: Iip M Aditiya

Artikel Sebelumnya Persiapan Pemerintah Hadapi Wabah PMK pada Ternak Jelang Idul Adha
Artikel Selanjutnya 7 eCommerce Paling Dipercaya Masyarakat untuk Belanja Gadget 2022
Konten Terkait