Keberadaan bibit siklon tropis yang terdeteksi oleh BMKG beberapa waktu lalu di sekitar wilayah Indonesia kini telah berevolusi menjadi Siklon Tropis FINA terhitung sejak 19 November 2025 pukul 01:00 WIB. Siklon Tropis FINA saat ini berada di Laut Arafuru, selatan Pulau Tanimbar, tepatnya pada koordinat 9.7oLS, 131.6oBT (sekitar 465 km sebelah selatan barat daya Banda).
Fenomena ini sekaligus mengingatkan bahwa Indonesia, meski berada di garis ekuator, ternyata beberapa kali pernah terdampak siklon tropis dengan dampak yang cukup signifikan.
Apa itu Siklon Tropis?
Siklon tropis adalah sistem badai berputar yang terbentuk di atas lautan hangat dengan suhu permukaan minimal 26,5°C.
Fenomena ini memiliki pusat tekanan rendah dan dikelilingi awan konvektif yang menghasilkan angin kencang dengan kecepatan lebih dari 63 km/jam.
Dalam beberapa kasus, terbentuk mata siklon di bagian tengah yang relatif tenang dan dikelilingi dinding awan dengan angin terkuat.
Siklon tropis memperoleh energinya dari uap air lautan, sehingga akan melemah saat memasuki daratan atau perairan yang lebih dingin.
Apakah di Indonesia Pernah Terjadi Siklon Tropis?
Indonesia tercatat beberapa kali terjadi siklon tropis, meskipun wilayahnya berada di garis ekuator yang bukan zona utama pembentukan siklon.
Data menunjukkan bahwa sejak 2008 hingga 2021 terdapat sejumlah siklon yang memberi dampak signifikan pada berbagai daerah di Indonesia. Berikut rinciannya.
Siklon Durga pada April 2008 memiliki kecepatan angin 95 km/jam dan mempengaruhi wilayah Bengkulu, Banten, Lampung, hingga Jawa Barat.
Siklon Anggrek Pada Oktober-November 2010, juga membawa angin hingga 75 km/jam dan berdampak pada perairan Bengkulu, Sumatra Barat, serta Lampung.
Siklon Bakung pada Desember 2014 kembali memicu cuaca ekstrem dengan kecepatan angin 95 km/jam di Lampung, Banten, dan Jawa Barat.
Pada November-Desember 2017 menjadi salah satu periode paling aktif, dengan kemunculan Siklon Cempaka dan Dahlia yang menyebabkan hujan ekstrem dan angin kencang di Yogyakarta, Jawa Timur, Banten, hingga Bengkulu.
Siklon Flamboyan pada Apreil-Mei 2018 membawa kecepatan angin tinggi mencapai 110 km/jam dan berdampak pada wilayah Sumatra bagian selatan.
Siklon Kenanga di tahun yang sama tepatnya pada Desember 2018 bahkan mencapai kecepatan 185 km/jam dan memengaruhi sejumlah wilayah pesisir Sumatra.
Kasus paling kuat dalam periode ini adalah Siklon Seroja pada April 2021, dengan kecepatan 130 km/jam, yang menyebabkan bencana besar di NTT dan wilayah-wilayah sekitarnya.
Dan kini pada November 2025 muncul Siklon Fina dengan kecepatan angin maksimum sekitar sistem mencapai 40 knots (75 km/jam) dan tekanan minimum 993 hPa di Laut Arafuru, selatan Pulau Tanimbar, tepatnya pada koordinat 9.7oLS, 131.6oBT (sekitar 465 km sebelah selatan barat daya Banda).
Peringatan BMKG tentang Bibit Siklon Tropis
BMKG mengeluarkan peringatan resmi terkait keberadaan siklon tropis Fina yang terdeteksi aktif di wilayah NTT.
Siklon Fina ini berpotensi menimbulkan hujan lebat, angin kencang, hingga gelombang tinggi di sejumlah provinsi.
Masyarakat di wilayah selatan dan barat Indonesia diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama daerah pesisir.
BMKG melalui TCWC Jakarta juga terus melakukan pemantauan intensif dan pembaruan informasi secara berkala.
Seluruh masyarakat diminta mengikuti informasi hanya dari kanal resmi agar dapat mengambil langkah mitigasi dengan cepat dan tepat.
Baca Juga: Rangkuman Fakta Lengkap Badai Melissa Tahun 2025
Sumber:
https://www.bmkg.go.id/cuaca/siklon-tropis
https://tropicalcyclone.bmkg.go.id/#3.82/2.58/114.56
Penulis: Angel Gavrila
Editor: Muhammad Sholeh