Anggaran untuk belanja pertahanan di Indonesia tercatat jadi salah satu yang terbesar di kawasan Asia Pasifik. Laporan The Military Balance dari The International Institute for Strategic Studies (IISS) yang dipublikasikan pada 2024 menyebutkan bahwa belanja pertahanan Indonesia mencapai US$8,8 miliar, sekitar Rp145 triliun pada 2023. Menurut IISS, nilainya setara dengan 1,7% dari produk domestik bruto (PDB) Indonesia di tahun yang sama.
Di urutan pertama diisi oleh China, yang belanja pertahanannya mencapai US$219,46 miliar, sekitar 43% dari PDB negara tersebut. India menyusul di posisi kedua dengan US$73,58 miliar (14,4% dari PDB), diikuti Jepang dengan US$49,04 miliar (9,6% dari PDB) dan Korea Selatan yang menghabiskan US$43,48 miliar (8,6% dari PDB).
Tingginya belanja militer di Indonesia menunjukkan komitmen pemerintah dalam menjamin pertahanan dan keamanan negara di tengah situasi geopolitik yang tak menentu. Menurut IISS, tidak hanya Indonesia, negara-negara seperti Australia, Jepang, Korea Selatan, hingga Taiwan kini meningkatkan belanja militernya untuk bisa menghadapi ancaman terutama dari China dan Korea Utara.
AD vs AL vs AU, Mana yang Anggarannya Terbesar?
Ditinjau dari Nota Keuangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2024, maka TNI AD mendapatkan anggaran tertinggi pada periode 2019-2020, mencapai Rp112,4 triliun, menunjukkan bahwa pemerintah lebih banyak fokus pada kekuatan militer darat ketimbang laut maupun udara.
Sementara itu, anggaran untuk TNI AL mencapai Rp39,26 triliun, sedangkan TNI AU mendapatkan porsi terkecil, di angka Rp30,38 triliun.
Jumlah Personelnya Masuk Top 10
Kekuatan militer Indonesia yang disokong oleh anggaran besar yang dialokasikan pemerintah memang tidak bisa diremehkan. Laporan IISS turut menyebutkan bahwa Indonesia memiliki jumlah personel tentara aktif mencapai 404.500 orang, jadi yang terbanyak kedua di ASEAN sekaligus ketujuh di kawasan Asia pada 2024.
Jumlah personel militer di Indonesia bahkan mengalahkan negara-negara yang terkenal akan kekuatan militernya, seperti Jepang yang memiliki 247.200 orang.
Sejauh ini, jumlah personel militer aktif di dunia telah mencapai 20,64 juta orang, Sebanyak 43,7% di antaranya berada di Asia, mencapai 9,02 juta personel.
Masih Kurang
Meski begitu, dalam makalah Kompetensi Digital dan Manajemen SDM TNI pada Era Revolusi Industri 4.0 karya Chandra dkk, tercatat bahwa menurut data yang dihimpun dari Rapat Pimpinan TNI, jumlah personel TNI saat ini masih kurang.
Jabatan Kapten menjadi yang paling banyak kekurangan personel. Jumlah personel kapten per Januari 2024 mencapai 13.097 orang, namun jumlah idealnya direncanakan berada di angka 32.976 orang. Dengan demikian, Indonesia kekurangan sekitar 19.879 personel TNI berpangkat Kapten.
Selain Kapten, jabatan lain juga tercatat kurang personel. Letnan Satu kekurangan 12.821 personel, Mayor kekurangan 11.566 personel, Letnan Kolonel kekurangan 4.902 personel, dan Bintang 3 kurang 1 personel dari yang direncanakan.
Baca Juga: Benarkah Indonesia Kelebihan Perwira Tinggi dan Kolonel TNI?
Penulis: Agnes Z. Yonatan
Editor: Editor