7 Kecelakaan Pesawat Paling Mematikan di Indonesia 2020-2025

Awal tahun 2026, dunia penerbangan Indonesia berduka dengan terjadinya kecelakaan pesawat ATR 42-500 Indonesia Air Transport.

7 Kecelakaan Pesawat Paling Mematikan di Indonesia 2020-2025 Ilustrasi pesawat jatuh | Dan Meyers/Unsplash
Ukuran Fon:

Meski matahari sudah di atas kepala, Gunung Bulusaraung yang berada di Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan masih berselimutkan kabut. Angin kencang turut menyertai langkah Resky (20) dan Muslimin (18), dua pemuda yang melakukan pendakian sejak pukul 10.00 WITA pada Sabtu (17/1/2026).

Setelah dua jam ditempuh untuk tiba di puncak, keduanya mengabadikan momen sembari mengistirahatkan kaki di atas gunung dengan ketinggian 1.353 meter di atas permukaan laut (mdpl) tersebut.

Resky jadi yang pertama mendengar suara pesawat jatuh. Bahkan mulanya, ia mengira suara tersebut berasal dari pesawat yang melintas jauh di atas gunung.

“Tadinya saya kira pesawat lewat biasa. Tapi suaranya makin dekat, lalu tiba-tiba ada ledakan,” tuturnya ketika dijumpai di kediamannya, dilansir dari Tribun Timur, Minggu (18/1/2026).

Lanjutnya, ledakan tersebut disertai api dan asap hitam yang muncul di sekitar puncak gunung. Sayangnya cuaca sangat tidak bersahabat karena jarak pandang ke pesawat tersebut dihalangi oleh kabut tebal. Padahal Resky memperkirakan jaraknya dari sumber ledakan hanya sekitar 50 meter hingga 100 meter.

“Yang terlihat hanya api dan asap,” imbuhnya.

Setelah ledakan, beberapa dokumen dan serpihan fiber pesawat tampak berterbangan di area puncak. Resky hampir terkena serpihan tersebut, jika tidak ditarik oleh Muslimin untuk berlindung di balik sebuah batu besar.

Sempat mendokumentasikan kejadian jatuhnya dokumen hingga puing pesawat yang terbakar, keduanya memutuskan untuk turun ke basecamp. Ketika turun pun, mereka menemukan sejumlah dokumen yang berceceran di sepanjang jalur pendakian.

Setibanya di bawah, keduanya baru mengetahui bahwa mereka menjadi saksi mata dari kecelakaan pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) yang menewaskan 11 orang, mencakup 3 penumpang dan 8 awak kabin.

Pesawat tersebut tengah dinaiki oleh petugas dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Republik Indonesia (RI) yang berangkat dari Bandar Udara Adisutjipto, Yogyakarta. Diketahui pilot telah mendapat izin dari Makassar Terminal Service Center untuk melakukan pendekatan (approach) ke landasan pacu 21 Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar.

Saat proses pendekatan, pesawat tidak berada pada jalur yang benar dan kemudian diinstruksikan untuk menyesuaikan posisinya. Setelah beberapa kali komunikasi terkait koreksi jalur penerbangan, kontak radar dengan pesawat tersebut tiba-tiba hilang sekitar pukul 11.23 WITA.

Baca Juga: Membandingkan Jumlah Insiden Pesawat Boeing vs Airbus

Kecelakaan Pesawat Paling Mematikan di Indonesia

Jatuhnya Lion Air (2018) jadi kecelakaan yang paling banyak memakan korban di Indonesia sejak dua dekade terakhir, dengan korban 189 jiwa
Jatuhnya Lion Air (2018) jadi kecelakaan yang paling banyak memakan korban di Indonesia sejak dua dekade terakhir, dengan korban 189 jiwa | GoodStats

Dilansir dari PlaneCrashInfo, berikut ini 7 kecelakaan pesawat yang paling mematikan di Indonesia dari tahun 2000 hingga 2025.

1. Lion Air (29 Oktober 2018) – Laut Jakarta

Dari rentang tahun 2000-2025, kecelakaan pesawat Lion Air yang terjadi pada 29 Oktober 2018 menjadi kecelakaan pesawat yang memakan korban paling banyak. Jatuhnya pesawat ini menewaskan seluruh penumpang dan awak kabin dengan total 189 korban jiwa, dengan rincian 181 penumpang dan 8 awak kabin.

Pesawat jenis Boeing 737-MAX 8 ini jatuh ke laut di Jakarta sekitar 13 menit setelah lepas landas dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, yaitu pukul 06.31 WIB. Saat itu, pesawat sedang menjalani penerbangan menuju Pangkal Pinang, Bangka Belitung. Tidak lama setelah mengudara, awak pesawat meminta izin untuk kembali ke bandara karena terjadi masalah.

Namun, pesawat justru terbang tidak stabil dan terus kehilangan ketinggian. Diketahui, pesawat juga sempat mengalami gangguan pada penerbangan sehari sebelumnya.

Kecelakaan ini berkaitan dengan sistem otomatis pesawat yang seharusnya membantu menjaga keseimbangan saat terbang. Sistem tersebut menerima data yang keliru dari sensor, sehingga terus memaksa hidung pesawat naik meski pilot berusaha mengendalikannya. Akibatnya, pesawat kehilangan daya angkat dan menukik tajam, hingga akhirnya jatuh sekitar 9 mil dari pesisir Jakarta.

2. Mandala Airlines (5 September 2005) – Medan

Masih pesawat penumpang, pesawat jenis Boeing 737-230 milik Mandala Airlines yang jatuh pada 5 September 2005 dengan rute penerbangan Medan – Jakarta berada di urutan kedua dengan total korban tewas akibat kecelakaan ini sebanyak 143 orang.

Sekitar pukul 09.40 WIB atau beberapa detik setelah lepas landas, pesawat ini tiba-tiba bergetar hebat dan membelok ke kiri, sebelum akhirnya jatuh menimpa kawasan permukiman sekitar 500 yard atau 450 meter dari ujung landasan pacu Pangkalan Udara Soewondo, Medan (dulu Bandar Udara Polonia). Diduga, pesawat tersebut mengalami kelebihan muatan, sehingga gagal terbang dengan stabil.

Selain dari dalam pesawat, peristiwa ini juga memakan korban dari daratan. Sebanyak 44 penduduk tewas akibat kejadian. Sementara itu dari 112 penumpang, 94 di antaranya meninggal dunia. Adapun seluruh awak kabin dinyatakan tewas, dengan total 5 orang.

3. TNI AU (30 Juni 2015) – Medan

Pesawat milik Tentara Negara Indonesia (TNI) Angkatan Udara (AU) berjenis Lockheed C130-B Hercules yang jatuh pada 30 Juni 2015 menewaskan seluruh penumpang dan awak kabin. Total korban tewas sebanyak 141 orang, terdiri dari 110 penumpang, 12 awak kabin, dan 19 orang di darat.

Pesawat angkut militer tersebut jatuh tidak lama setelah lepas landas dari Pangkalan Udara Soewondo, Medan dan hendak bertolak ke Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. Sekitar dua menit setelah terbang, awak pesawat melaporkan melalui radio bahwa mereka mengalami masalah pada mesin dan berniat kembali ke bandara.

Namun tidak lama kemudian, pada pukul 11.48 WIB pesawat justru jatuh di kawasan permukiman dan menghantam dua bangunan kosong. Pesawat tersebut diketahui mengangkut keluarga sipil dari personel militer.

4. TNI AU (20 Mei 2009) - Madiun

Pesawat jenis Lockheed C-130 Hercules kembali muncul dalam daftar 7 kecelakaan pesawat paling mematikan di Indonesia tahun 2000-2025 ini. Berada di peringkat keempat, kecelakaan ini menewaskan 114 orang.

Pesawat ini berangkat dari Jakarta ke Madiun. Saat hendak mendarat pukul 06.30 WIB, pesawat angkut militer tersebut jatuh dan menabrak empat rumah warga, kemudian tergelincir ke area persawahan sebelum akhirnya terbakar hebat.

Seluruh penumpang dan awak kabin dinyatakan tewas, dengan rincian 98 penumpang dan 14 awak kabin. 2 orang penduduk di darat juga meninggal akibat peristiwa ini.

5. Adam Air (1 Januari 2007) – Parepare

Tidak hanya tahun 2026 yang diawali oleh kecelakaan pesawat ATR 42-500 IAT, Indonesia juga sempat berkabung di awal tahun pada 1 Januari 2007 lalu. Pesawat penumpang milik Adam Air dengan rute Surabaya – Manado jatuh dan menewaskan seluruh penumpang serta awak kabin.

Dalam kondisi cuaca buruk, pesawat tersebut dilaporkan menghilang saat terbang di ketinggian jelajah sekitar 35 ribu kaki setelah pilot melaporkan adanya angin kencang.

Kecelakaan ini terjadi karena autopilot pesawat tidak sengaja terlepas. Kedua pilot sedang berusaha memperbaiki gangguan pada sistem navigasi, sehingga tanpa sadar mematikan autopilot dan kehilangan kendali pesawat. Tanpa bantuan autopilot, pesawat miring ke kanan dan menukik ke bawah hingga akhirnya jatuh sekitar pukul 14.07 WITA.

Hingga akhirnya, puing-puing pesawat jenis Boeing B-737-4Q8 tersebut kemudian ditemukan sekitar 5 mil di selatan Parepare. Sebanyak 102 orang tewas dalam kecelakaan ini, dengan rincian 96 penumpang dan 6 awak kabin.

6. Sriwijaya Air (9 Januari 2021) – Laut Jawa

Urutan keenam kecelakaan pesawat paling mematikan di Indonesia ditempati oleh maskapai Sriwijaya Air dengan rute Jakarta – Pontianak yang terbang pada 9 Januari 2021. Kecelakaan pesawat penumpang jenis Boeing 737-524 ini menewaskan seluruh orang dalam pesawat dengan total 62 korban yang terdiri dari 56 penumpang dan 6 awak kabin.

Sebelum kontak radar dan radio tiba-tiba hilang, pesawat sedang menanjak di ketinggian sekitar 10,9 ribu kaki, sekitar 11 mil laut di utara Bandara Soekarno-Hatta, di atas Laut Jawa. Tak lama setelah itu, sekitar pukul 14.40 WIB, pesawat turun dengan sangat cepat dan jatuh ke Laut Jawa. Puing-puing pesawat kemudian ditemukan di sekitar Pulau Lancang.

Hasil penyelidikan menemukan bahwa kecelakaan ini disebabkan oleh gangguan pada sistem autothrottle atau autothrust, yaitu sistem otomatis pada pesawat yang mengendalikan daya dorong mesin untuk mempertahankan kecepatan penerbangan sehingga mengurangi beban kerja pilot dan mengoptimalkan penggunaan bahan bakar.

Terganggunya sistem tersebut dapat mengakibatkan daya dorong mesin pesawat tidak seimbang dan kehilangan kendali sebelum akhirnya terjatuh.

7. Sukhoi (9 Mei 2012) – Gunung Salak

Kecelakaan pesawat Sukhoi Superjet 100-95 menutup pemeringkatan dalam daftar ini. Peristiwa yang terjadi pada 9 Mei 2012 ini memakan korban seluruh orang dalam pesawat. Sebanyak 45 jiwa dinyatakan meninggal dunia, dengan rincian 39 penumpang dan 6 awak kabin.

Pesawat jet asal Rusia ini jatuh di lereng Gunung Salak pada ketinggian sekitar 5,2 ribu kaki saat melakukan penerbangan demonstrasi untuk calon pembeli. Kontak radio terakhir terjadi sekitar pukul 15.30 WIB, ketika pilot meminta izin turun dari 10 ribu kaki ke 6 ribu kaki. Tak lama setelah meminta berbelok, pesawat menabrak gunung.

Diketahui, kecelakaan ini disebabkan oleh kesalahan pilot yang mematikan sistem peringatan karena mengira adanya kesalahan data. Sistem peringatan pesawat sebenarnya sudah berkali-kali memberi tanda bahaya bahwa ada medan di depan.

Selain itu, awak pesawat juga terdistraksi oleh kehadiran tamu di kokpit dan tidak menyelesaikan manuver belokan sesuai rencana. Dengan peta yang kurang memadai serta kondisi berkabut, kru tidak menyadari adanya pegunungan di jalur terbang mereka.

Rangkaian kecelakaan pesawat paling mematikan dalam dua dekade terakhir ini menjadi pengingat bahwa keselamatan penerbangan tidak pernah dapat ditawar.

Tragedi demi tragedi ini tidak hanya meninggalkan duka, tetapi juga pelajaran penting bagi dunia penerbangan Indonesia bahwa keselamatan harus selalu menjadi prioritas utama demi menjaga kepercayaan publik dan melindungi setiap nyawa yang berada di udara.

Baca Juga: Rencana Garuda Indonesia Tambah 20 Armada Pesawat di 2025

Sumber:

https://www.planecrashinfo.com/database.htm

Penulis: Shahibah A
Editor: Editor

Konten Terkait

Duel Timnas Indonesia vs Vietnam Kembali Tersaji di ASEAN Championship 2026

Timnas Indonesia akan berjuang di ASEAN Champioship 2026 pada Juli-Agustus mendatang.

Pelatih Persib Sebut Juara Paruh Musim Tidak Terlalu Penting, Berikut Daftar Juara Paruh Musim dan Tim Pemenang Pada 5 Musim Terakhir

Persib jadi juara paruh musim 2025-2026 dengan koleksi poin 38.

Terima kasih telah membaca sampai di sini

atau

Untuk mempercepat proses masuk atau pembuatan akun, bisa memakai akun media sosial.

Hubungkan dengan Google Hubungkan dengan Facebook