Permukaan Air Laut Terus Naik, Apakah Giant Sea Wall Solusi yang Tepat?

Permukaan laut terus naik dari tahun ke tahun. Apakah giant sea wall bisa menjadi solusi jangka panjang? Simak analisis pro dan kontranya.

Permukaan Air Laut Terus Naik, Apakah Giant Sea Wall Solusi yang Tepat? Ilustrasi Giant Sea Wall | Parker Hilton/Unsplash
Ukuran Fon:

Kenaikan permukaan air laut (sea level rise) yang dipicu oleh perubahan iklim membuat banyak negara mulai mempertimbangkan pembangunan tanggul laut raksasa atau giant sea wall sebagai bentuk perlindungan pesisir.

Fenomena ini tidak lagi dipandang sebagai ancaman jangka panjang semata, melainkan sudah menjadi risiko nyata bagi kota-kota pesisir yang padat penduduk dan memiliki aktivitas ekonomi tinggi.

Di berbagai wilayah pesisir Indonesia, banjir rob semakin sering terjadi. Di sisi lain, abrasi perlahan mengikis garis pantai dan mengancam permukiman warga.

Karena itu, pembangunan proyek giant sea wall mulai dipandang sebagai salah satu opsi infrastruktur untuk menahan dampak kenaikan muka air laut di masa depan.

Namun, di balik ambisi pembangunan tanggul laut raksasa tersebut, muncul perdebatan mengenai efektivitasnya sebagai solusi jangka panjang. Apakah benar proyek ini mampu melindungi wilayah pesisir dari krisis iklim, atau justru menimbulkan masalah baru bagi lingkungan dan masyarakat setempat?

Apa Itu Giant Sea Wall?

Giant Sea Wall atau tanggul laut raksasa merupakan struktur besar yang dibangun di sepanjang garis pantai untuk memisahkan daratan dan laut.

Infrastruktur ini dirancang untuk menahan gelombang laut, mencegah abrasi, serta mengurangi risiko banjir rob yang sering terjadi di kawasan pesisir.

Di Indonesia, konsep ini dikenal melalui proyek National Capital Integrated Coastal Development (NCICD) yang dirancang untuk melindungi pesisir Jakarta dari banjir rob dan penurunan permukaan tanah.

Pembangunan tanggul ini juga masuk dalam agenda proyek strategis nasional yang bertujuan memperkuat perlindungan pesisir dari dampak perubahan iklim.

Cara kerja tanggul laut raksasa pada dasarnya adalah mengendalikan energi gelombang laut sebelum mencapai daratan. Struktur tembok yang kokoh akan memantulkan atau memecah energi gelombang sehingga dampaknya terhadap wilayah pesisir dapat dikurangi.

Pada beberapa desain modern, permukaan tanggul dibuat miring atau tidak rata agar energi gelombang tidak hanya dipantulkan saja, tetapi juga dipecah dan disebarkan. Cara ini dilakukan dengan tujuan untuk mengurangi tekanan terhadap struktur tanggul sekaligus meminimalkan risiko erosi di sekitar area pesisir.

Urgensi Pembangunan Giant Sea Wall

Kenaikan permukaan air laut yang dipicu oleh pemanasan global menjadi salah satu alasan utama munculnya proyek giant sea wall di berbagai negara.

Ketika suhu bumi meningkat, es di wilayah kutub mencair dan volume air laut bertambah. Sementara itu, pemuaian air laut akibat suhu yang lebih hangat turut mempercepat kenaikan muka laut. Data suhu rata-rata global menunjukkan tren peningkatan yang cukup konsisten dalam dua dekade terakhir.

Indeks Suhu Darat-Laut Global Tahun 2000-2025 | GoodStats
Indeks Suhu Darat-Laut Global Tahun 2000-2025 | GoodStats

Melansir data dari NASA's Goddard Institure for Space Studies (GISS) Pada tahun 2000, anomali suhu global tercatat sekitar 0,39°C di atas rata-rata pra-industri, lalu meningkat hingga sekitar 1,28°C pada tahun 2024 dan 1,19°C pada 2025.

Hal ini menunjukkan bahwa pemanasan global terus berlangsung dan berpotensi mempercepat kenaikan muka air laut.

Bagi Indonesia sebagai negara kepulauan, kondisi ini menjadi ancaman serius bagi wilayah pesisir. Banjir rob, abrasi, serta intrusi air laut ke dalam tanah mulai terjadi di berbagai kota pesisir, terutama di kawasan Pantai Utara Jawa.

Selain dipengaruhi oleh perubahan iklim, kawasan Pantura juga menghadapi masalah land subsidence akibat eksploitasi air tanah dan pembangunan perkotaan yang masif.

Kombinasi antara kenaikan muka air laut dan penurunan tanah membuat wilayah pesisir semakin rentan terhadap banjir dan kerusakan lingkungan.

Karena itu, pembangunan proyek giant sea wall dipandang sebagai upaya mitigasi untuk mengurangi risiko bencana hidrometeorologi sekaligus melindungi kawasan ekonomi penting.

Nilai aset yang terancam di wilayah Pantura diperkirakan mencapai sekitar Rp6.187 triliun, sehingga perlindungan pesisir menjadi isu yang tidak hanya berkaitan dengan lingkungan, tetapi juga stabilitas ekonomi.

Apakah Giant Sea Wall Bisa Menjadi Solusi Jangka Panjang?

Pemerintah Indonesia berencana membangun proyek giant sea wall di sepanjang Pantai Utara Jawa dengan melibatkan berbagai kementerian dan calon investor dari luar negeri.

Bahkan hingga 2025 telah dibentuk Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa untuk mengoordinasikan pengembangan proyek ini. Meski demikian, efektivitas tanggul laut raksasa sebagai solusi jangka panjang masih memunculkan berbagai pro dan kontra.

Pro Pembangunan Giant Sea Wall:

1. Potensi Melindungi Wilayah Pesisir dari Banjir Rob

Tanggul laut raksasa dapat berfungsi sebagai perlindungan fisik bagi kota-kota pesisir yang rentan terhadap banjir rob dan gelombang ekstrem.

Infrastruktur ini juga dinilai mampu melindungi kawasan ekonomi, permukiman, serta lahan pertanian dari dampak kenaikan muka air laut.

2. Membuka Peluang Pengembangan Ekonomi Pesisir

Pembangunan tanggul laut sering kali diikuti oleh pengembangan infrastruktur lain seperti pelabuhan, jalur transportasi, dan kawasan ekonomi baru.

Hal ini dinilai dapat meningkatkan konektivitas wilayah pesisir sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat setempat.

Sisi Kontra Pembangunan Giant Sea Wall:

1. Risiko Kerusakan Ekosistem Laut dan Pesisir

Di sisi lain, pembangunan tanggul laut raksasa membutuhkan material dalam jumlah sangat besar, termasuk pasir laut yang diambil dari wilayah perairan sekitar. Aktivitas ini berpotensi merusak ekosistem laut serta mengganggu habitat berbagai spesies yang hidup di kawasan pesisir.

2. Ancaman terhadap Mata Pencaharian Nelayan

Wilayah tangkap nelayan dapat berkurang akibat pembangunan tanggul laut dan reklamasi pesisir.

Sejumlah kajian menunjukkan bahwa berkurangnya wilayah perairan dapat menyebabkan kerugian ekonomi yang cukup besar bagi nelayan dan pelaku usaha perikanan.

3. Dampak terhadap Ekosistem Mangrove

Mangrove selama ini berfungsi sebagai pelindung alami pantai yang mampu meredam energi gelombang serta menahan abrasi. Jika pembangunan tanggul laut mengganggu ekosistem mangrove, maka perlindungan alami pesisir justru bisa berkurang.

4. Biaya Pembangunan dan Perawatan yang Sangat Besar

Pembangunan tanggul laut raksasa diperkirakan membutuhkan investasi hingga ratusan triliun rupiah, sementara biaya perawatan tahunan juga tidak kecil.

Seiring waktu, kenaikan permukaan air laut juga dapat menuntut peningkatan tinggi tanggul yang berarti tambahan biaya baru.

Pada akhirnya, giant sea wall memang dapat menjadi salah satu bentuk perlindungan pesisir dari ancaman kenaikan permukaan air laut.

Namun banyak ahli menilai bahwa solusi ini tidak bisa berdiri sendiri, karena perlindungan pesisir juga membutuhkan cara lain seperti pengendalian eksploitasi air tanah, pemulihan ekosistem mangrove, dan pengelolaan wilayah pesisir yang lebih berkelanjutan.

Penulis: Raka Adichandra
Editor: firda wandira

Konten Terkait

Siap Daftar Beasiswa LPDP? Pahami Dulu Kewajiban dan Sanksinya

Ingin daftar Beasiswa LPDP? Yuk pahami dulu kewajiban penerima, aturan return ke Indonesia, hingga sanksi jika tidak memenuhi komitmen pengabdian

Jawa Barat jadi Provinsi dengan Desa yang Memiliki Perguruan Tinggi Terbanyak 2025

Jawa Barat jadi provinsi dengan desa yang memiliki perguruan tinggi terbanyak pada 2025, jumlahnya mencapai 481 desa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini

atau

Untuk mempercepat proses masuk atau pembuatan akun, bisa memakai akun media sosial.

Hubungkan dengan Google Hubungkan dengan Facebook