10 Kecelakaan Kereta Api Terparah di Indonesia, dari Lembah Anai hingga Bekasi 2026

Daftar 10 kecelakaan kereta api terparah di Indonesia dari insiden Lembah Anai 1944 hingga 2026.

10 Kecelakaan Kereta Api Terparah di Indonesia, dari Lembah Anai hingga Bekasi 2026 Ilustrasi Stasiun Kereta | Unsplash
Ukuran Fon:

Kereta api menjadi salah satu moda transportasi andalan di Indonesia karena efisien, terjangkau, dan mampu mengangkut jutaan penumpang setiap tahunnya. Pada periode angkutan Lebaran 2026 saja, tercatat lebih dari 1 juta penumpang berangkat dari Jakarta menuju berbagai kota di Pulau Jawa.

Namun di balik tingginya mobilitas tersebut, Sejarah transportasi kereta api di Indonesia juga memiliki catatan kelam. Sejumlah kecelakaan besar pernah terjadi, bahkan menelan korban jiwa dalam jumlah ratusan orang.

Data dari PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 1 Jakarta menunjukkan bahwa sepanjang Januari hingga September 2025 terdapat 183 insiden kecelakaan. Mayoritas kejadian melibatkan manusia (132 kasus), disusul kendaraan (47 kasus), serta hewan (4 kasus). Fakta ini menegaskan bahwa risiko kecelakaan masih menjadi tantangan serius, terutama di titik-titik rawan seperti perlintasan sebidang.

Peristiwa terbaru terjadi pada 27 April 2026 di Bekasi Timur, Jawa Barat, yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir–Surabaya Pasar Turi dan KRL Commuter Line menuju Kampung Bandani–Cikarang. Insiden ini kembali mengingatkan bahwa, meskipun sistem keselamatan terus berkembang, potensi kecelakaan belum sepenuhnya hilang.

Daftar Kecelakaan Kereta Api Terparah di Indonesia 

Berdasarkan data yang telah dihimpun, terdapat setidaknya 10 kecelakaan kereta api paling parah di Indonesia. Jika dilihat dari jumlah korban jiwa, terlihat bahwa tragedi besar lebih banyak terjadi pada periode sebelum Indonesia merdeka, sementara era  menunjukkan penurunan fatalitas meskipun insiden masih terjadi.

Daftar kecelakaan kereta api terbesar di Indonesia
Caption

1. Kecelakaan Lembah Anai, Padang Panjang (1944)

Kecelakaan kereta api di Lembah Anai, Sumatera Barat, pada 22–25 Desember 1944 menjadi tragedi paling mematikan dalam sejarah perkeretaapian Indonesia. Peristiwa ini terjadi saat kereta melintasi jalur menurun curam di kawasan pegunungan dan kehilangan kendali.

Rem yang tidak berfungsi menyebabkan rangkaian kereta meluncur tanpa kendali hingga terperosok ke jurang. Akibatnya, sekitar 200 orang meninggal dunia dan ratusan lainnya mengalami luka-luka, mencerminkan rendahnya sistem keselamatan pada masa itu.

2. Tabrakan Kereta Ratujaya, Depok (1968)

Tabrakan Kereta Api Ratujaya pada 20 September 1968 terjadi di jalur tunggal antara Stasiun Depok dan Citayam. Dua kereta dari arah berlawanan, yakni KA 406 (uap) dan KA 309 (diesel), bertabrakan secara frontal dalam insiden yang dikenal sebagai “adu banteng”.

Kecelakaan ini dipicu oleh kegagalan komunikasi manual dan gangguan sinyal akibat kabel lama. Peristiwa tersebut menewaskan sekitar 116 orang dan melukai puluhan hingga ratusan penumpang lainnya.

3. Tragedi Bintaro I, Jakarta (1987)

Kecelakaan Bintaro I terjadi akibat tabrakan antara dua kereta penumpang di kawasan Bintaro, Jakarta. Peristiwa ini menjadi salah satu tragedi paling dikenal dalam sejarah transportasi Indonesia.

Kesalahan komunikasi dan sistem persinyalan menjadi penyebab utama. Kecelakaan ini menewaskan sekitar 156 orang serta melukai 300 penumpang.

4. Tabrakan KRL Ratujaya, Depok (1993)

Kecelakaan ini terjadi pada 2 November 1993 di lintasan Depok Lama Citayam. Peritiwa kecelakaan terjadi ketika dua rangkaian KRL Ekonomi bertabrakan akibat masalah operasional. 

Peristiwa ini menyebabkan sekitar 20 orang meninggal dunia dan lebih dari 100 orang mengalami luka-luka, menambah daftar kecelakaan besar di jalur Jabodetabek.

5. Tabrakan KA Empu Jaya dan KA Gaya Baru Malam Selatan (2001)

Kecelakaan ini terjadi pada 25 Desember 2001 di wilayah Brebes, Jawa Tengah, akibat tabrakan antara dua kereta jarak jauh. Kedua kereta berada di jalur yang sama karena kesalahan manusia atau human erorr.

KA 146 Empu Jaya menabrak KA 153 Gaya Baru Malam Selatan yang sedang berhenti di emplasemen stasiun untuk menunggu bersilangan.

Akibat insiden ini, sekitar 31 orang meninggal dunia dan puluhan lainnya luka-luka. Peristiwa ini menjadi salah satu kecelakaan besar di awal era 2000-an.

6. Tabrakan KA Kertajaya dan KA Sembrani (2006)

Kecelakaan ini terjadi 15 April 2006 di Stasiun Gubug, Grobogan, Jawa Tengah, saat dua kereta bertabrakan akibat gangguan operasional di jalur kereta. Insiden ini sempat mengganggu perjalanan kereta di lintas utama Jawa.

Peristiwa tersebut menewaskan sekitar 14 orang dan melukai lebih dari 20 orang, menunjukkan bahwa risiko kecelakaan masih tinggi meski sistem mulai berkembang.

7. Tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dan KA Senja Utama (2010)

Tabrakan ini terjadi pada 2 Oktober 2010 di Stasiun Petarukan, Pemalang, Jawa Tengah, ketika dua kereta berada di jalur yang sama akibat kesalahan sistem persinyalan.

Kecelakaan ini menewaskan sekitar 34 orang dan melukai puluhan lainnya. Insiden ini kembali menyoroti pentingnya modernisasi sistem pengendalian perjalanan kereta.

8. Peristiwa Bintaro II (2013)

Kecelakaan ini terjadi pada 9 Desember 2013, melibatkan KRL Commuter Line yang bertabrakan dengan truk tangki di perlintasan sebidang di Bintaro, Jakarta. Insiden ini sempat menjadi perhatian nasional karena melibatkan transportasi perkotaan.

Peristiwa tersebut menyebabkan 7 orang meninggal dunia dan sekitar 60 orang luka-luka, serta menyoroti bahaya perlintasan sebidang yang tidak steril.

9. Tabrakan KA Turangga dan Commuter Line Bandung Raya (2024)

Kecelakaan ini terjadi pada 5 Januari 2024, di wilayah Cicalengka, Jawa Barat, akibat tabrakan antara kereta jarak jauh dan kereta komuter. Insiden ini menunjukkan bahwa kecelakaan masih bisa terjadi meski sistem semakin modern.

Peristiwa ini menewaskan 4 orang dan melukai lebih dari 30 penumpang, serta kembali memicu evaluasi sistem keselamatan operasional.

10. Kecelakaan Bekasi Timur (2026)

Kecelakaan terbaru terjadi pada 27 April 2026 di Bekasi Timur, melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line. Insiden ini terjadi di kawasan padat dengan aktivitas perlintasan tinggi.

Peristiwa ini menyebabkan sekitar 15 orang meninggal dunia dan lebih dari 80 orang luka-luka. Kasus ini menegaskan bahwa perlintasan sebidang masih menjadi titik paling rawan dalam sistem perkeretaapian Indonesia.

Penulis: Helni Sadiyah
Editor: Muhammad Sholeh

Konten Terkait

10 Provinsi dengan Utang Pinjol Tertinggi 2025, Jawa Barat Teratas

Jawa Barat jadi provinsi dengan utang pinjol terbanyak mencapai Rp23.938 miliar, disusul DKI Jakarta dan Jawa Timur.

Dinamika Dunia Kerja Modern dan Implikasinya bagi Tenaga Kerja

Perubahan terbesar di dunia kerja yang dirasakan pekerja pada tahun ini berasal dari pekerjaan itu sendiri, dengan persentase mencapai 49%.

Terima kasih telah membaca sampai di sini

atau

Untuk mempercepat proses masuk atau pembuatan akun, bisa memakai akun media sosial.

Hubungkan dengan Google Hubungkan dengan Facebook