Perkebunan Jadi Sektor dengan Konflik Agraria Terbanyak pada 2025
Masyarakat • 28 Maret 2026Pada 2025, sektor perkebunan menjadi penyumbang konflik agraria terbanyak dengan 135 letusan konflik dengan luas mencapai 352.156,41 ha
Pada 2025, sektor perkebunan menjadi penyumbang konflik agraria terbanyak dengan 135 letusan konflik dengan luas mencapai 352.156,41 ha
Konflik agraria tembus 341 kasus pada 2025, naik 15% dari 2024. Sektor perkebunan menjadi wilayah dengan konflik terbanyak.
Pada 2025, menurut KPA, Jawa Barat mencatat 39 konflik agraria tertinggi seluas 2.894,90 ha, didominasi sektor properti dan infrastruktur
Pada 2025, konflik agraria mencapai 341 kasus, terjadi di 428 desa, berdampak pada 123.612 keluarga di Indonesia
Korporasi, pemerintah daerah, dan pemerintah pusat menjadi pihak yang paling banyak diadukan dalam konflik agraria pada 2020–2024, diikuti Polri dan TNI
Pada 2024, konflik agraria paling banyak terjadi di sektor perkebunan dan didominasi letusan konflik perkebunan sawit
Pada 2024, sektor perkebunan menjadi penyumbang konflik agraria terbesar dengan 111 letusan konflik dan 27 ribu keluarga terdampak
Jawa Barat, Sumatra Utara, DKI Jakarta, Jawa Timur, dan Sumatra Selatan menjadi provinsi dengan aduan konflik agraria terbanyak pada 2020-2024
Dari 121 konflik masyarakat adat, 58 konflik terjadi di konsesi perkebunan, 29 di pertambangan, dan 14 di proyek infrastruktur
Konflik agraria di Indonesia terus mengalami peningkatan, bahkan pasca terpilihnya pemerintahan baru
Fenomena konflik agraria ini tidak hanya berdampak pada individu atau komunitas tertentu, tetapi juga pada stabilitas sosial dan keberlanjutan lingkungan.
Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) mencatat sedikitnya terjadi 241 letusan konflik agraria di 2023, naik sekitar 14% dari tahun sebelumnya.
Untuk mempercepat proses masuk atau pembuatan akun, bisa memakai akun media sosial.
Hubungkan dengan Google Hubungkan dengan Facebook