Selat Bali menjadi jalur vital penghubung Jawa–Bali, sehingga lonjakan kendaraan saat mudik langsung memicu antrean panjang di Pelabuhan Gilimanuk.
Padahal jarak selat yang relatif pendek membuat gagasan jembatan sudah muncul sejak 1960-an, namun hingga kini masih terbentur pertimbangan budaya dan sosial.
Sementara itu, kenaikan tajam jumlah motor menunjukkan semakin banyak pemudik memilih kendaraan pribadi untuk perjalanan lintas pulau.