Kesehatan adalah aset paling berharga dalam hidup. Dengan tubuh yang sehat, seseorang dapat menjalani aktivitas sehari-hari secara optimal. Namun, penyakit tetap bisa datang kapan saja, baik karena paparan virus maupun kebiasaan hidup yang kurang sehat.
Tak heran, banyak orang bersedia mengeluarkan biaya ekstra untuk menjaga tubuh tetap sehat, mulai dari upaya pencegahan hingga pengobatan rutin ketika penyakit sudah terlanjur muncul.
Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan tren pengeluaran kesehatan penduduk Indonesia tahun 2024 yang dihitung berdasarkan rata-rata jumlah uang yang dikeluarkan oleh satu orang untuk biaya kesehatan dalam satu bulan.
Pengeluaran kesehatan kuratif yang merupakan biaya untuk mengobati penyakit, seperti berobat ke dokter dan rawat inap, mengalami kenaikan yang konsisten. Pada tahun 2022, rata-rata pengeluaran sebesar Rp18.754, naik setahun berikutnya menjadi Rp21.429, dan pada 2024 tembus Rp24.327.
Selanjutnya, pengeluaran kesehatan preventif yang meliputi biaya untuk pencegahan penyakit menunjukkan tren penurunan dalam tiga tahun terakhir. Penurunan cukup signifikan, pada tahun 2022 rata-rata pengeluaran sebesar Rp9.370, turun menjadi Rp5.514 pada 2023, dan Rp5.417 pada 2024.
Berbeda dari pengeluaran kesehatan preventif, biaya membeli obat justru mengalami tren fluktuatif. Terbukti pada 2022 rata-rata pengeluaran untuk obat sebesar Rp4.044, meningkat pada 2023 menjadi Rp4.502, namun turun pada 2024 menjadi Rp4.272.
Kondisi tersbut menandakan bahwa masyarakat Indonesia semakin banyak mengeluarkan uang untuk keperluan berobat saat sedang sakit, tetapi semakin sedikit yang mengeluarkan biaya untuk pencegahan.
Pengeluaran Pelayanan Kuratif
Terdapat enam jenis pengeluaran kesehatan kuratif. Pengeluaran untuk rumah sakit swasta mendapat porsi tertinggi, mencapai 46,55%, disusul dengan rumah sakit pemerintah sebanyak 36,98%.
Proporsi pengeluaran lainnya mencakup poliklinik (7,19%), praktik petugas kesehatan (4,18%), puskesmas (3,31%), pengobatan tradisional (1,37%), dan dukun persalinan (0,41%).
Pengeluaran Pelayanan Pencegahan
Selanjutnya, pengeluaran biaya kesehatan untuk pencegahan terbanyak untuk biaya pemeliharaan kesehatan, dengan proporsi mencapai 39,73%, diikuti imunisasi (24,95%), keluarga berencana (20,71%), pemeriksaan kehamilan (8,7%), dan tes kesehatan (5,91%).
Pengeluaran Pelayanan Obat
Apabila ditinjau dari pengeluaran pelayanan obat, rata-rata penebusan tertinggi untuk biaya obat diisi dengan kategori obat tanpa resep dari tenaga kesehatan mencapai 46,62%, diikuti dengan resep dari tenaga kesehatan sebesar 36,61%. Sisanya, obat tradisional seperti jamu untuk pengobatan memiliki proporsi 12,40% serta pembelian kacamata dan lain-lain sebesar 4,36%.
Baca Juga: Indikator Kesehatan Apa yang Sering Jadi Perhatian Publik Asia?
Sumber:
https://www.bps.go.id/id/publication/2024/12/31/a919c55a72b74e33d011b0dc/profil-kesehatan-ibu-dan-anak-2024.html
Penulis: Faiza Az Zahra
Editor: Editor