Melihat Proyeksi Ekonomi RI Pada 2023, Mampukah Bertahan?

Meskipun berada di tengah ketidakstabilan ekonomi, namun perekonomian Indonesia masih diproyeksikan tetap menguat pada tahun 2023 mendatang.

Melihat Proyeksi Ekonomi RI Pada 2023, Mampukah Bertahan? Ilustrasi pertumbuhan ekonomi yang membaik | Freepik

Perekonomian global diprediksi akan menghadapi banyak tantangan pada tahun 2023 mendatang. Risiko kenaikan laju inflasi dan stagflasi diramal menjadi dampak dari kondisi geopolitik saat ini. Stagflasi biasanya ditandai dengan kenaikan tajam inflasi di suatu negara.

Namun, pemerintah dan Bank Indonesia (BI) optimis perekonomian Indonesia tetap kuat meski kondisi global berpotensi melemah. Ini terlihat dari data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat pemulihan ekonomi Indonesia menguat tumbuh 5,01 persen di Triwulan I dan menguat signiifikan menjadi 5,44 persen pada Triwulan II/2022.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia ditargetkan sebesar 5,3 persen pada tahun 2023. Hal ini disampaikan langsung oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo dalam pidato Penyampaian Keterangan Pemerintah atas Rancangan Undang-Undang (RUU) mengenai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2023 pada Selasa, (16/8).

Jokowi menyampaikan, untuk memenuhi target tersebut pemerintah bakal terus mendorong ekspansi produksi yang konsisten guna membuka lapangan kerja sebanyak-banyaknya. Adapun, angka pertumbuhan tersebut juga didasarkan pada pertimbangan dinamika perekonomian nasional terkini. Selain itu juga dari agenda pembangunan yang akan dicapai serta potensi risiko dan tantangan.

“Berbagai sumber pertumbuhan baru harus segera diwujudkan. Pelaksanaan berbagai agenda reformasi struktural terus diakselerasi untuk transformasi perekonomian. Investasi juga harus dipacu, serta daya saing produk manufaktur nasional di pasar global harus ditingkatkan,” jelasnya seperti yang dikutip dari situs Kominfo.

Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia | Goodstats

Sementara, terkait asumsi makro lainnya, yaitu inflasi, Jokowi menyebut bahwa proyeksinya akan tetap stabil di angka sekitar 3,3 persen. Kebijakan APBN disebut akan tetap dikerahkan untuk mengantisipasi tekanan inflasi dari faktor eksternal, seperti inflasi pangan dan energi.

“Asumsi inflasi pada level ini juga menggambarkan keberlanjutan pemulihan sisi permintaan, terutama akibat perbaikan daya beli masyarakat,” ujarnya.

Kemudian, nilai tukar rupiah diprediksi bergerak di kisaran Rp14.750 per dolar AS. Sedangkan, rata-rata suku bunga Surat Utang Negara (SUN) 10 tahun diproyeksikan berada pada level 7,58 persen.

Selain itu, harga minyak mentah Indonesia (ICP) juga diperkirakan berkisar pada 90 dolar AS per barel. Adapun, lifting minyak dan gas bumi diprediksi masing-masing mencapai 660 ribu barel per hari dan 1,05 juta barel setara minyak per hari di tahun 2023 mendatang.

Penulis: Nada Naurah
Editor: Iip M Aditiya

Artikel Sebelumnya 10 Perusahaan ini Miliki Lahan Pertambangan Terluas di Indonesia
Artikel Selanjutnya Indonesia Negara Paling Doyan Boba di Asia Tenggara 2022
Konten Terkait