Memulai bisnis dinilai sebagai salah satu cara untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus menekan angka pengangguran di Indonesia.
Hal tersebut disampaikan Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), Maman Abdurrahman, yang menekankan pentingnya peningkatan rasio kewirausahaan untuk menciptakan sumber pertumbuhan baru yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
“Dengan meningkatnya rasio kewirausahaan, kita berharap akan muncul daya dorong baru bagi pertumbuhan ekonomi nasional yang lebih inklusif, sekaligus menjadi solusi nyata dalam menekan angka pengangguran dan kemiskinan,” ujar Maman, dikutip dari rilis pers Kementerian UMKM, Sabtu (18/10/2025).
Dorongan untuk memulai bisnis ini juga terlihat kuat di kalangan generasi muda Indonesia. Hal tersebut tercermin dalam survei Jakpat bertajuk Trends in Modern Entrepreneurship yang menggali minat masyarakat Indonesia dalam membangun usaha.
Survei yang dilaksanakan secara daring pada 5-6 Februari 2026 ini melibatkan 1.387 responden berumur 17–50 tahun dari berbagai daerah Indonesia, dengan margin of error di bawah 5%.
Lebih dari Setengah Gen Z ingin Membuka Bisnis
Baca Juga: 7 Alasan Publik RI Ingin Memulai Bisnis
Survei Jakpat menunjukkan, sekitar 68% Gen Z memiliki rencana untuk mendirikan bisnis. Meski demikian, sebagian besar dari mereka belum memiliki waktu pasti kapan rencana tersebut akan direalisasikan.
Sebanyak 46% responden mengaku ingin memulai bisnis tetapi belum menentukan kapan akan dimulai. Sementara itu, 22% berencana memulai dalam satu hingga dua tahun ke depan.
Di sisi lain, jumlah Gen Z yang telah menjalankan bisnis menunjukkan kemajuan positif meski angkanya relatif lebih kecil. Sekitar 14% responden menyebutkan sudah menjalankan usaha selama satu hingga dua tahun, dan 8% lainnya telah bertahan menjalani bisnis lebih dari tiga tahun.
Temuan ini menunjukkan bahwa minat berwirausaha di kalangan Gen Z cukup tinggi, tetapi masih berada pada tahap awal atau perencanaan.
Motivasi di balik minat mendirikan bisnis juga beragam. Menurut survei Jakpat, mayoritas responden mengatakan ingin memiliki penghasilan yang tidak terbatas serta fleksibilitas kerja tanpa terikat jam kantor. Selain itu, sebagian Gen Z juga ingin berbisnis untuk membuka lapangan kerja, mengembangkan hobi menjadi sumber penghasilan, hingga membangun warisan ekonomi demi masa depan keluarga.
Namun, memulai bisnis tidak semudah yang dibayangkan. Ada berbagai tantangan yang perlu dipertimbangkan, terutama bagi mereka yang baru ingin memulai dari nol.
Modal Jadi Kendala Terbesar
Survei Jakpat turut menunjukkan, faktor terbesar sebelum memulai bisnis adalah keterbatasan modal. Sebanyak 60% responden menyebut tidak memiliki cukup uang untuk memulai bisnis. Kekhawatiran ini berkaitan dengan risiko kerugian, terutama jika modal yang digunakan berasal dari tabungan pribadi tanpa jaring pengaman finansial.
Selain itu, 42% responden mengaku belum memiliki ide produk yang jelas. Di tengah persaingan pasar yang semakin ketat, calon pelaku usaha dituntut untuk menghadirkan produk yang inovatif agar dapat bersaing.
Kendala lain yang cukup dominan adalah kebingungan dalam memulai bisnis, yang dialami oleh 41% responden. Hal ini menunjukkan bahwa selain modal dan ide, pengetahuan serta panduan praktis juga menjadi faktor penting dalam memulai usaha.
Temuan ini menegaskan bahwa meski minat berwirausaha di kalangan Gen Z cukup tinggi, masih ada sejumlah tantangan yang perlu diatasi agar potensi tersebut dapat terwujud menjadi aktivitas ekonomi yang berdampak.
Baca Juga: Modal Jadi Penghalang Terbesar Memulai Bisnis di Indonesia
Sumber:
https://insight.jakpat.net/trends-in-modern-entrepreneurship/
Penulis: Talita Aqila Shafidhya
Editor: Editor