NextRise 2022: Qiwii dan 3 Startup Indonesia Ikuti Pameran Startup Terbesar di Asia

Indonesia diwakili oleh Qiwii dan 3 startup lainnya berpartisipasi dalam gelaran NextRise 2022 di Seoul yang merupakan pameran startup terbesar di Asia.

NextRise 2022: Qiwii dan 3 Startup Indonesia Ikuti Pameran Startup Terbesar di Asia Salah satu booth startup asal Indonesia, Qiwii dalam pameran NextRise 2022 | Dokumentasi Qiwii

Pameran startup terbesar di Asia bertajuk NextRise 2022 baru usai digelar pada hari Kamis hingga Jumat, 16-17 Juni 2022 berlokasi di Seoul, Korea Selatan. Gelaran ini melibatkan lebih dari 10 ribu partisipan dengan menyertakan lebih dari 300 booth startup, 2.000 pertemuan bisnis, dan juga 300 seminar lebih.

NextRise 2022 dihelat atas kerja sama antara Korea Development Bank (KDB) dan Korea International Trade Association (KITA). Lebih lanjut, NextRise mendeklarasikan bahwa platform-nya berjanji menyediakan panggung yang lebih besar bagi para startup untuk mengutarakan berbagai inovasi serta mengambil momentum untuk melangkah ke depan.

Acara ini terdiri dari berbagai rangkaian kegiatan di antaranya ialah ekshibisi berbagai startup dari beragam sektor, konferensi dengan 6 topik berbeda, pertemuan 1:1 untuk membuka peluang kolaborasi bisnis, serta seminar yang ditujukan untuk para developer, desainer, serta pengusaha eCommerce skala kecil.

Didukung Kemenperin

Mengutip siaran pers dari Qiwii yang dirilis pada 16 Juni 2022, terdapat 4 startup yang menjadi perwakilan Indonesia dalam gelaran NextRise 2022 di Seoul, Korea Selatan. Keempat startup tersebut di antaranya ialah Qiwii, Eresto, Ruanghalal, dan Bepah Kupi.

Keikutsertaan keempat startup ini dudukung oleh Startup4Industry.id yang merupakan representasi dari Ditjen Industri Kecil, Menengah, dan Aneka di bawah naungan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Indonesia.

Selain tampil dalam ekshibisi, dalam acara tersebut chief executive officer (CEO) Qiwii, Panji Prabowo berkesempatan untuk menjadi pembicara di atas panggung NextRise. Adapun Irfan selaku Business Development Officer Qiwii mengungkapkan bahwa keikutsertaannya dalam NextRise 2022 merupakan kesempatan yang tidak boleh dilewatkan.

“Saya merasa ini pengalaman yang luar biasa bagi startup Indonesia. Terlebih di sini kami bertemu dengan banyak startup, akselerator, dan venture capital dari seluruh dunia.” tutur Irfan lebih lanjut.

CEO Qiwii, Panji Prabowo saat menjadi pembicara di NextRise 2022, Seoul | Dokumentasi Qiwii

Di samping itu, Gandi Sulistiyanto selaku Duta Besar Indonesia untuk Korea Selatan turut menghadiri acara NextRise 2022. Adapun ia mengunjungi pameran booth-booth startup dan juga memberikan dukungan bagi startup Indonesia.

“Saya berpesan agar ke-4 startup Indonesia terus aktif dalam membangun jejaring usaha dan menjalin relasi dengan venture capital potensial yang dapat mendukung pengembangan startup." pungkasnya.

Industri digital Indonesia bertumbuh pesat, kesempatan emas bagi para pelaku startup

Dalam kurun waktu beberapa tahun ke belakang, industri digital Indonesia mengalami pertumbuhan yang signifikan seiring dengan masa pemulihan pasca pandemi Covid-19. Meningkatnya jumlah konsumen yang mengadopsi layanan digital memimpin pertumbuhan serta memberikan dampak positif terhadap industri digital.

Laporan dari The e-Conomy SEA pada 2021 mengungkapkan bahwa Indonesia telah memperoleh lebih dari 21 juta pengguna layanan online baru selama masa pandemi. Laporan yang diproduksi oleh Google, Temasek Holdings, dan Bain & Co ini memprediksi bahwa ekonomi digital Indonesia telah mencapai angka 70 miliar dolar AS dalam hal gross merchandise value (GMV) pada tahun 2021, tumbuh 49 persen dibandingkan tahun 2020.

Proyeksi pertumbuhan ekonomi digital Indonesia berdasarkan GMV tahun 2019 - 2025 | GoodStats

Tidak hanya sampai di sana, laporan tersebut juga memproyeksikan pertumbuhan ekonomi digital Indonesia akan menyentuh angka 146 miliar dolar AS pada tahun 2025. Adapun prediksi pertumbuhannya sebesar 20 persen per tahun.

Selain terdorong pandemi sebagai enabler bagi industri digital, faktor lainnya yang mendorong pertumbuhan ekonomi digital Indonesia ialah mayoritas penduduk di tanah air telah menggunakan internet.

Faktanya, Indonesia adalah pengguna internet terbesar ke-4 di dunia dengan total sekitar 204 juta pengguna aktif. Jumlah pengguna internet di Indonesia telah mencakup 73,65 persen dari keseluruhan total penduduk yang diestimasikan mencapai 277 juta jiwa.

Terlebih, Indonesia akan menerima bonus demografi dari generasi melek internet yakni milenial dan generasi Z yang saat ini sudah memasuki usia produktif. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2020, adapun persentase generasi milenial Indonesia mencapai 25,8 persen dan generasi Z sebesar 27,9 persen dari total populasi.

Di sisi lain, pasar eCommerce Indonesia merupakan yang terbesar di kawasan Asia Tenggara. Ukuran pasar Indonesia yang besar serta banyaknya konsumen yang melek teknologi serta penggunaan layanan digital menjadi alasan dibalik pencapaian tersebut. Menurut laporan The e-Conomy SEA 2021, total pasar eCommerce Indonesia mencakup hampir 50 persen dari total ukuran pasar eCommerce di Asia Tenggara.

Data dari BPS mengungkapkan bahwa ekonomi digital berkontribusi sebesar 4 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada tahun 2020. Angkanya pun diprediksi akan mencapai 18 persen pada tahun 2030 sebagaimana yang dicanangkan oleh pemerintah.

Kondisi serta momentum yang ada saat ini tentunya menjadi peluang dan kesempatan emas bagi para pelaku startup, di mana pada umumnya startup Indonesia telah mengedepankan digitalisasi di berbagai sektor sesuai dengan bidang usaha. Hal ini tidak terpisahkan sebagai salah satu proses transformasi digital menuju ekonomi Indonesia yang lebih maju di masa depan.

Penulis: Diva Angelia
Editor: Iip M Aditiya

Artikel Sebelumnya Covid-19 di Indonesia: Selalu Tembus 1.000 Kasus per Hari, Bagaimana dengan Jumlah Tes?
Artikel Selanjutnya Rapor Tengah Semester, Penyimpangan BBM Subsidi Tembus 181.583 Liter
Konten Terkait