2.500 Kilometer Jalan Tol Siap Layani Puncak Lalu Lintas Mudik 2022

Pembangunan jalan tol membantu menguraikan arus lalu lintas lebaran setiap tahunnya. Lalu bagaimana perkembangannya sejak masa Presiden Soeharto hingga Jokowi?.

2.500 Kilometer Jalan Tol Siap Layani Puncak Lalu Lintas Mudik 2022 Ilustrasi Jalan Tol | Kementerian PUPR

Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Danang Parikesit mengatakan bahwa 2.500 kilometer jalan tol akan dioperasikan selama periode mudik lebaran tahun 2022.

Danang memastikan mulai H-10 masa mudik, tidak akan ada jalan tol yang melakukan pembangunan ataupun mengalami kerusakan, hal ini dilakukan demi kenyamanan para pengendara dan tidak mengganggu mobilitas masyarakat.

"Kami juga pesan agar memastikan untuk menjaga kondisi kendaraan dengan baik, kesehatan diri yang fit," sebut Danang dikutip dari laman BPJT, Jumat (15/4).

Dalam rangka mengoptimalkan lalu lintas saat Idulfitri 1443 Hijriah, pemerintah akan melakukan pengaturan operasional angkutan barang pada masa arus mudik dan balik. Sejumlah petugas dipersiapkan di pos-pos pelayanan yang tersebar di daerah rawan kemacetan seperti kawasan wisata, kecelakaan, gempa, banjir, dan sebagainya.

Data dari Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan (Batlitbanghub) memaparkan sejumlah daerah yang paling krusial sepanjang masa mudik liburan 2022 terbanyak berasal dari Jawa Timur, yakni mencapai 14,6 juta orang.

Disusul dari daerah Jabodetabek sebanyak 14,3 juta pemudik dan Jawa Tengah sebanyak 12,1 juta orang. Selan itu, daerah tujuan terbanyak terdapat ke daerah Jawa Tengah (23,5 juta pemudik), Jawa Timur (16,8 juta pemudik), dan Jawa Barat (14,7 juta pemudik).

Banyaknya jumlah jalan tol di Indonesia sangat menguntungkan untuk menguraikan perjalanan puncak mudik lebaran tiap tahunnya. Menurut data dari BPJT PUPR, hingga pada Februari 2022 total panjang jalan tol yang beroperasi di Indonesia mencapai 2.499 kilometer (km).

Jalan tol paling panjang terdapat di jalan tol Trans Jawa dengan panjang 1.056,38 km yang terbagi dalam 20 ruas, diikuti oleh jalan tol Trans Sumatera dengan panjang total 684,5 km yang terbagi dalam 10 ruas. Kemudian, jalan tol Jabodetabek menyusul sepanjang 298,71 km dengan 21 ruas dan 290,66 km jalan tol Non-Trans Jawa dengan 11 ruas, serta jalan tol di Kalimantan sepanjang 97,27 km.

Seluruh pembangunan jalan tol di Indonesia tidak lepas dari peran penting sang pemipin negara. Sejak era Presiden Soeharto hingga masa Presiden Joko Widodo pada tahun 2022, pembangunannya terus mengalami pertambahan signifikan.

Jika dirunut sejarahnya, pembangunan Jalan Tol Jakarta-Bogor-Ciawi (Jagorawi) dinobatkan sebagai jalan tol pertama yang beroperasi di Indonesia dengan memiliki panjang 59 km dan diresmikan langsung oleh Presiden Soeharto pada 9 Maret 1978.

1. Era Presiden Soeharto (1978-1998)

Selama 32 tahun menjabat, Presiden Soeharto berhasil menyelesaikan 546,880 km dengan 15 ruas jalan tol. Jalan Tol Jagorawi yang menjadi jalan tol pertama dengan panjang 59,00 km dan dibangun sejak 1973.

Tol yang berhasil dibangun pada era ini adalah Tol Semarang Seksi A,B,C (24,75 km), Jakarta-Tangerang (33,00 km), Dr. Ir. Soedjiatmo (14,30 km), Surabaya-Gempol (48,85 km), Jakarta-Cikampek (83,00 km), Cawang-Tj. Priok-Pluit (27,05 km), Belawan-Medan-Tj Morawa (42,70 km), Padalarang-Cileunyi (64,40 km), Tangerang-Merak (73,00 km), Surabaya-Gresik (20,70 km), JORR S (14,25 km), Cawang-Tomang-Pluit (23,50 km), Palimanan-Kanci (26,30 km), dan Ujung Pandang Seksi (10,08 km)

2. Era Presiden B. J. Habibie (1998-1999)

Presiden Baharudin Jusuf Habibie hanya menjabat sebagai presiden selama satu tahun menggantikan Soeharto yang mengundurkan diri pada tahun 1998. Insinyur penerbangan Jerman ini berhasil membangun jalan tol sepanjang 12,79 km, yakni dengan pembangunan Jalan Tol Pondok Aren-Bintaro-Ulujami (5,55 km), dan Pondok Aren-Serpong (7,24 km).

3. Era Presiden Abdurrahman Wahid dan Megawati (1999-2004)

Pembangunan tol pada era ini terus berlanjut pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid yang akrab disapa Gus Dur. Tidak ada pembangunan jalan tol baru yang beroperasi pada periode ini.

Pada 2003, putri sang proklamator Presiden Soekarno, Megawati Soekaroputri hanya sempat meresmikan pembangunan Jalan Tol Surabaya-Madura (Suramadu) dengan panjang 5,4 km. Namun, jalan tol ini baru mulai beroperasi pada tahun 2009 di bawah masa kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono atau akrab disapa SBY.

4. Era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (2004-2014)

Pada era ini, Presiden SBY berhasil membangun dan mengoperasikan jalan tol sejauh 352,220. Pertumbuhannya sangat terlihat signifikan dibanding masa kepemimpinan presiden sebelumnya.

Jalan tol yang berhasil dibangun pada era tersebut yakni, Cikampek-Padalarang (58,50 km), JORR NON S (31,18 km), Waru-Juanda (12,80 km), Makassar Seksi IV (11,60 km), Bogor Ring Road Seksi I-IIIA (11,30 km), Jembatan Suramadu (5,40 km), Kb Jeruk-Penjaringan (9,85 km), Kanci-Pejagan (35,00 km), Semarang-Solo (72,95 km), Surabaya-Mojokerto (36,27 km) Cinere-Jagorawi (9,20 km), Kebon Jeruk-Ulujami (7,87 km), Nusa Dua-Ngurah Rai-Benoa (10,07 km), dan Kertosono-Mojokerto (40,23 km).

5. Era Presiden Joko Widodo (2014-Februari 2022)

Dari seluruh presiden yang pernah memimpin, terhitung hingga Februari 2022, Jokowi menjadi yang paling unggul dalam pembangunan jalan tol. Jokowi mampu merampungkan pembangunan jalan tol sepanjang 1.569 km.

Beberapa proyek jalan tol yang berhasil dibangun dan beroperasi di era Jokowi yakni, Cikampek-Palimanan (116,75 km), Gempol-Pandaan (13,61 km), Pejagan-Pemalang (57,50 km), Akses Tanjung Priuk (11,40 km), Bekasi-Cawang-Kp Melayu (8,40 km), Gempol-Pasuruan (34,50 km), Soreang Pasir Koja (8,15 km), Palembang Indralaya (21,58 km), Medan-Binjai (17,67 km), Medan-Kualanamu-Tb Tinggi (62,11 km), Depok Antasari (12,10 km), Pemalang-Batang (39,20 km), Semarang-Batang (75,00 km), Solo-Ngawi (90,12 km).

Kemudian juga terdapat jalan tol Ngawi-Kertosono (87,05 km), Ciawi-Sukabumi (15,35 km), Bakauheni-Terbanggi Besar (140,41 km), Kunciran-Serpong (11,14 km), Jalan Layang MBZ (38,00 km), Pasuruan-Probolinggo (31,30 km), Pandanaan-Malang (38,46 km), Tbgi Besar-Kayu Agung (189,40 km), Balikpapan-Samarinda (97,27 km), Cimanggis-Cibitung Seksi (2,75 km), Krian-Legundi-Bunder (29,00 km), Kayuagung-Kramasan (37,62 km), Sigli Banda Aceh (29,52 km), Pekanbaru-Dumai (131,69 km), Manado-Bitung (39,78 km), Serpong-Cinere Seksi (6,51 km), Cengkareng-Kunciran (14,19 km), Cibitung-Cilincing Seksi (2,65 km), Kelapa Gading-Pulo Gebang (9,29 km), Serang-Panimbang Seksi (26,50 km), Cileunyi-Pamulihan (11,40 km), dan Binjai-Langsa Seksi (11,80 km).

Arus puncak mudik diprediksi akan terjadi sepanjang tanggal 29-30 April 2022, sementara arus balik akan terjadi pada 8 Mei 2022. Menteri Perhubungan (Menhub), Budi Karya Sumadi memastikan akan adanya rekayasa lalu lintas bekerja sama dengan Korlantas Polri.

Penerapan rekayasa lalu lintas tersebut meliputi sistem satu arah atau one way, contra flow, buka-tutup jalur, pengalihan jalur, ganjil-genap, dan strategi rekayasa lalu lintas lainnya.

Penulis: Nabilah Nur Alifah
Editor: Editor

Artikel Sebelumnya Mengintip Pengeluaran Masyarakat Indonesia Setelah Menerima Gaji
Artikel Selanjutnya Apa Jenis Minuman Favorit Masyarakat Indonesia di Tahun 2022?
Konten Terkait