10 Negara Penghasil Energi Nuklir Terbesar 2021

Sejak pandemi 2020, pembangkit tenaga nuklir global berangsur-angsur membaik pada 2021. Lalu, negara mana saja yang merupakan produsen energi nuklir terbesar?.

10 Negara Penghasil Energi Nuklir Terbesar 2021 Ilustrasi reaktor nuklir/Getty Images

Pembangkit tenaga nuklir berangsur-angsur pulih kembali dari penurunan akibat pandemi sejak tahun 2020. Tenaga nuklir global meningkat sebesar 100 terawatt-hour (TWh) dan mencapai 2,653 TWh pada 2021. Namun, perkembangan positif ini harus dimasukkan ke dalam konteks pergolakan yang telah ada dalam pasokan energi global selama 12 bulan terakhir.

Pemerintah dari seluruh dunia melipatgandakan komitmen mereka untuk mengurangi emisi gas rumah kaca di COP26 di Glasgow. Pemulihan ekonomi yang terdampak Covid-19 menyebabkan lonjakan permintaan energi yang melampaui pertumbuhan produksi dari sumber bersih seperti nuklir. Ini kemudian menghasilkan lebih banyak ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Seperti yang dikutip dari National Geographic, energi nuklir adalah energi dalam nukleus atau inti dari sebuah atom. Atom merupakan unit kecil yang membentuk semua materi di alam semesta, sedangkan energi adalah hal yang menyatukan nukleus. Energi nuklir dapat digunakan untuk membuat listrik, tetapi harus terlebih dahulu dilepaskan dari atom. Dalam proses fisi nuklir, atom dipecah untuk melepaskan energi itu.

10 negara produsen energi nuklir terbesar 2021 | Goodstats

Menurut laporan dari World Nuclear Association, Amerika Serikat menghasilkan listrik tenaga nuklir sebesar 771,6 TWh sepanjang tahun 2021. Angka fantastis itu menjadikan Amerika Serikat sebagai negara produsen energi nuklir terbesar dalam skala global.

Di bawah Amerika Serikat, ada China yang menyusul sebagai produsen energi nuklir terbesar sebanyak 383,2 TWh per 2021. Tercatat bahwa China memiliki sejumlah 54 reaktor yang dapat dioperasikan, terutama pada lokasi di daerah sepanjang garis pantai bagian tenggaranya.

Ukraina juga masuk ke dalam daftar 10 teratas negara produsen energi nuklir sebesar 81,1 TWh. Empat pembangkit listrik tenaga nuklir Ukraina menghasilkan sekitar setengah dari listrik negara itu. Total pembangkit nuklir di negara tersebut ada 15 reaktor.

Namun, pada Februari 2022, Rusia melancarkan serangan militer terhadap Ukraina. Perang yang dihasilkan telah berdampak langsung pada fasilitas nuklir di negara itu, terutama Zaporizhzhia dan Chernobyl. Kemudian, pada awal Maret 2022, pembangkit nuklir Zaporizhzhia telah diambil alih secara paksa oleh militer Rusia.

“Pembangkit listrik Zaporizhzhia di Ukraina menjadi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) sipil pertama yang diserang pasukan bersenjata,” ungkap laporan World Nuclear Association.

Sebelum dikuasai militer Rusia, PLTN Zaporizhzhia memiliki enam reaktor nuklir yang beroperasi. Namun, per 9 Agustus 2022, reaktor yang beroperasi hanya mencapai dua unit. Sehingga, produksi energi nuklir Ukraina tahun 2022 diperkirakan mengalami penurunan.

Selain itu, perang yang terjadi antara Rusia-Ukraina telah memperjelas kerapuhan rantai pasokan bahan bakar fosil, menggarisbawahi kekhawatiran yang sudah terungkap sebagai konsekuensi dari pandemi. Di banyak negara, harga energi menjadi naik dan kian memicu inflasi serta kemiskinan energi yang memburuk.

Penulis: Nada Naurah
Editor: Editor

Artikel Sebelumnya Menilik Program KPR 10 Bank Terbesar di Indonesia
Artikel Selanjutnya Bagaimana Kiprah Pemuda Indonesia di Sektor Pertanian?
Konten Terkait