Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan pergerakan pada perdagangan hari ini, 28 April 2026. Berdasarkan data terbaru, rupiah tercatat di level Rp17.235 per dolar AS, sedikit melemah dibandingkan posisi sehari sebelumnya di Rp17.229 per dolar AS.
Meski pergerakannya hanya selisih kecil, perubahan ini tetap mencerminkan pelemahan nilai tukar. Pelemahan ini terjadi di tengah dinamika global yang masih dibayangi ketidakpastian, termasuk arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat dan pergerakan arus modal.
Baca Juga: Harga LPG Naik 18,75%, Simak Harga LPG Terbaru dan Dampaknya
Pergerakan Rupiah Hari Ini terhadap Dolar AS
Menurut data dari Trading Economics, nilai tukar rupiah pada 28 April 2026 berada di Rp17.235 per dolar AS pada penutupannya. Sementara pada pembukaan hari ini, rupiah tercatat Rp17.235 per US$. Hal ini menunjukkan pelemahan sebesar 0,10%.
Meskipun terlihat kecil, pergerakan ini tetap signifikan dalam konteks harian. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah masih berlajut, meskipun tidak dalam skala besar. Pelemahan tipis ini juga mencerminkan adanya keseimbangan antara sentimen positif dan negatif di pasar.
Pekan lalu, Bank Indonesia sendiri sudah mempertahankan suku bunga acuan sebesar 4,75%. Hal ini menandakan kepercayaan diri BI dalam menjaga fluktuasi mata uang.
Meskipun rupiah melemah hari ini, Gubernur Bank Indonesia Perry Warijyo menyatakan bahwa nilai tukar Rupiah maish undervalued. Hal ini berarti masih ada potensi rupiah untuk menguat karena fundamental ekonomi Indonesia yang kuat.
Menariknya, dolar AS sendiri juga sudah mengalami penurunan sejak tahun 2026. Namun, pada akhir bulan April, dolar kembali mengalami kenaikan kecil. Dinamika dolar AS ini tidak hanya mempengaruhi harga rupiah hari ini, tetapi juga mata uang asing lainnya.
Baca Juga: Harga BBM Hari Ini Naik, Ini Rincian Lengkap per Provinsi di Indonesia
Perbandingan Mata Uang Asia terhadap Dolar AS
Berdasarkan data dari Refinitiv, mayoritas mata uang Asia pada 28 April 2026 mengalami pelemahan terhadap dolar AS. Hanya beberapa mata yang yang mampu mencatatkan penguatan. Mata uang tersebut adalah Dong Vietnam (+0,09%) dan Ringgit Malaysia (+0,03%).
Sebaliknya, tekanan cukup terlihat pada mata yang lain. Baht Thailand menjadi mata uang Asia paling tertekan dengan pelemahan sekitar 0,31% (THB 32,42/US$).
Hal ini kemudian diikuti oleh rupiah hari ini yang berada di angka Rp17.229 per dolar AS. Kemudian, Peso Filipina dengan penurunan 0,14% ke PHP 60,79/US$.
Tidak hanya mata uang Asia Tenggara, beberapa mata uang Asia Timur pun mengalami pelemahan dibandingkan dolar AS. Dolar Taiwan mengalami penurunan 0,11%. Sementara itu, Yuan China turun 0,09% dan Yen Jepang 0,05%. Terakhir, Won Korea juga melemah tipis sebanyak 0,04%.
Pelemahan mata uang terus berlanjut bahkan hingga ke Dolar Singapura. Mata uang ini mengalami pelemahan yang cukup kecil, hanya 0,02%.
Melihat pergerakan berbagai mata uang Asia terhadap dolar AS menunjukkan bahwa pelemahan rupiah hari ini merupakan bagian dari tren regional. Meskipun rupiah hari ini melemah, posisinya masih sejalan dengan pergerakan mata uang Asia lainnya.
Tekanan terhadap dolar AS ini terjadi karena kenaikan indeks dolar AS (DXY). Hal ini beriringan dengan beberapa pertemuan penting bank sentral AS dan keputusan untuk mempertahankan suku bunga.
Secara keseluruhan, nilai rupiah hari ini (28/4) masih mengalami pelemahan tipis terhadap dolar AS. Meskipun hanya 0,10%, pergerakan ini menegaskan bahwa tekanan terhadap rupiah masih berlangsung.
Perbandingan dengan mata uang Asia lainnya menunjukkan bahwa pelemahan ini merupakan bagian dari tren regional. Hal ini dipengaruhi oleh fluktuasi dolar AS. Dengan kata lain, faktor eksternal masih menjadi penentu utama arah pergerakan rupiah saat ini.
Baca Juga: Harga Emas Hari Ini 27 April 2026: Antam Turun Rp16.000
Sumber:
https://id.tradingeconomics.com/indonesia/currency
Penulis: Aisha Zahrany
Editor: Firda Wandira