Menilik Preferensi Makanan Sahur dan Berbuka Masyarakat Indonesia

Untuk sahur dan berbuka, mayoritas masyarakat Indonesia lebih menyukai memasak di rumah ketimbang membeli makanan di luar hingga katering

Menilik Preferensi Makanan Sahur dan Berbuka Masyarakat Indonesia Ilustrasi makanan sahur dan berbuka masyarakat | Tekkol/Shutterstock

Bulan Ramadan merupakan bulan yang spesial, khususnya bagi umat muslim di seluruh dunia. Sebab, pada bulan ini seluruh umat muslim menjalankan ibadah puasa yang dilakukan selama sebulan penuh.

Aktivitas yang berbeda dari bulan-bulan sebelumnya ini turut mengubah gaya hidup sebagian besar masyarakat, khususnya di Indonesia sebagai negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam. Menariknya, banyak gaya hidup yang juga turut berubah dari bulan Ramadan beberapa tahun ke belakang dibandingkan dengan bulan Ramadan tahun ini.

Beberapa perubahan tersebut pada dasarnya dipengaruhi oleh digitalisasi dalam segala unsur kehidupan yang semakin menjamur. Di luar itu, pandemi covid-19 yang hadir pada 2020 lalu juga turut memengaruhi gaya hidup masyarakat yang saat ini disebut dengan istilah 'kenormalan baru'.

Kamis (13/4) lalu, lembaga survei Jakpat baru saja merilis laporan survei terbarunya mengenai seri laporan survei Ramadan bagian 2 yang bertajuk "Media Habit, Food Consumption, and Hampers". Dalam survei ini, Jakpat berusaha mendeskripsikan rencana umum masyarakat Indonesia dalam menjalani bulan Ramadan dan mempersiapkan Idulfitri 2023 yang berhubungan dengan kebiasaan bermedia, persiapan bahan makanan pada sahur dan berbuka, hingga gaya hidup lainnya.

"Beberapa hal berubah di bulan Ramadan 2023, seperti kebiasaan bermedia, konsumsi makanan, hingga gaya hidup. Kemudahan di era digital membantu masyarakat dalam beraktivitas, terutama dalam menghabiskan waktu dan memesan makanan saat sahur dan berbuka," tulis Jakpat dalam pengantar laporan surveinya.

"Bahkan, sebagian besar masyarakat juga mengandalkan pemesanan dan pembelian secara sigital dalam mengantarkan bingkisan Ramadan. Namun, masih ada sebagian masyarakat yang masih senang melakukan hal-hal konvensional seperti memasak di rumah saat berbuka puasa," sambung Jakpat.

Pada survei kali ini, Jakpat mengumpulkan data dari total 1.371 responden yang tersebar secara proporsional menurut populasi warganet Indonesia. Proses pengumpulan data dilakukan sebelum Jumat (31/3) lalu dan pihaknya mengeklaim laporan ini memiliki tingkat toleransi kesalahan di bawah 3%.

Mayoritas masyarakat memilih masak di rumah untuk sahur dan berbuka

Dalam salah satu bagian surveinya, Jakpat turut membahas mengenai konsumsi makanan masyarakat Indonesia untuk sahur dan berbuka puasa. Pada bagian ini, Jakpat secara umum berusaha mendeskripsikan kebiasaan masyarakat Indonesia dalam pengolahan makanan hingga jenis makanan yang digunakan untuk sahur dan berbuka puasa.

Misalnya dalam hal penyiapan bahan makanan untuk sahur dan berbuka, Jakpat mengungkapkan bahwa mayoritas masyarakat Indonesia lebih menyukai memasak di rumah ketimbang membeli makanan di luar hingga katering. Jumlah responden yang lebih menyukai masak di rumah sebanyak 90% untuk sahur dan 83% untuk berbuka.

Preferensi persiapan makanan untuk sahur dan berbuka masyarakat Indonesia | GoodStats

Sementara itu, ada 52% (sahur) dan 61% (berbuka) masyarakat yang lebih menyukai membeli makanan dari luar, baik itu secara langsung maupun melalui pesan antar. Lebih lanjut, ada 10% responden yang lebih memilih makan di luar untuk sahur dan ada 20% responden yang lebih memilih makan di luar untuk berbuka.

"Sebagian besar responden menyiapkan makanan baik untuk sahur maupun berbuka puasa dengan memasak di rumah, baik dimasak sendiri maupun dimasak oleh anggota keluarga. Pilihan kedua adalah membeli makanan dari luar secara langsung. Juga, orang cenderung makan di luar saat berbuka puasa daripada sahur, jumlahnya dua kali lipat," kata Jakpat dalam laporan surveinya.

"3 dari 5 responden memesan makanan secara daring melalui platform multi layanan on-demand seperti GoFood, GrabFood, dan ShopeeFood. Hampir 30% dipesan melalui aplikasi atau layanan pesan antar yang disediakan restoran," lanjut Jakpat.

Jenis makanan yang dimasak secara langsung jadi favorit

Dalam hal jenis makanan yang disiapkan untuk sahur dan berbuka, Jakpat mengungkapkan bahwa mayoritas masyarakat Indonesia lebih menyukai makanan yang dimasak langsung untuk sahur dan berbuka puasa. Jumlah responden yang memilih opsi tersebut berada di angka 78% untuk sahur dan 88% untuk berbuka.

Preferensi jenis makanan sahur dan berbuka masyarakat Indonesia | GoodStats

Lima besar jenis makanan lain yang disukai masyarakat untuk sahur adalah mi instan dengan persentase 44%, makanan beku dengan persentase 42%, makanan siap saji dengan persentase 26%, dan ikan kaleng dengan persentase 21%. Roti hanya dipilih oleh sekitar 16% responden.

Sementara itu, makanan beku lebih difavoritkan sebagai kudapan untuk berbuka puasa dengan persentase pemilih sebanyak 32%, disusul makanan siap saji dengan persentase 28%. Mi instan berada di posisi empat dengan persentase 21%, diikuti ikan kaleng dan roti dengan persentase masing-masing sebesar 15%.

Penulis: Raihan Hasya
Editor: Iip M Aditiya

Konten Terkait

Lebih dari Separuh Bahasa di Indonesia Terancam Punah

Indonesia menjadi negara dengan jumlah bahasa terbanyak yang terancam punah, yaitu sebanyak 425 bahasa.

7 Tradisi Natal Terunik di Seluruh Dunia, Austria Paling Aneh!

7 negara ini punya tradisi tersendiri dalam merayakan Natal, Austria merayakannya dengan parade kostum Krampus.

Terima kasih telah membaca sampai di sini

Dengan melakukan pendaftaran akun, saya menyetujui Aturan dan Kebijakan di GoodStats

atau

Untuk mempercepat proses masuk atau pembuatan akun, bisa memakai akun media sosial.

Hubungkan dengan Google Hubungkan dengan Facebook
Student Diplomat Mobile
X