Menilik Ambisi Indonesia dalam Industri Kendaraan Listrik

Indonesia tengah gencar mengupayakan percepatan penerapan kendaraan listrik sebagai transportasi jalan dan diproyeksikan akan tumbuh pesat hingga tahun 2030.

Menilik Ambisi Indonesia dalam Industri Kendaraan Listrik Mobil listrik sedang melakukan pengisian daya di charging station | buffaloboy/Shutterstock

Indonesia tampak antusias menyambut masuknya era industri kendaraan listrik sejak 3 tahun ke belakang. Pemerintah kini tengah mengambil langkah serius dalam menyiapkan ekosistem kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB) untuk dapat segera diterapkan.

Menjalankan amanat Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Battery Electric Vehicle) untuk Transportasi Jalan, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memberikan petunjuk bagi para stakeholder industri otomotif mengenai strategi, kebijakan, dan program dalam rangka mencapai target Indonesia sebagai basis produksi dan hub ekspor kendaraan listrik.

Hyundai Motor Manufacturing Indonesia (HMMI) menjadi perusahaan industri otomotif pertama di Indonesia yang akan melakukan proses produksi kendaraan listrik pada Maret 2022 mendatang. HMMI akan memproduksi sebanyak 1.000 unit kendaraan listrik per tahun di tahap awal.

Produksi kendaraan listrik menjadi bagian dari showcase kapabilitas industri otomotif Indonesia yang juga bergerak ke arah industri ramah lingkungan. Melalui hal ini, dunia internasional dapat melihat potensi Indonesia yang siap untuk menjadi hub ekspor utama bagi kendaraan listrik di kawasan ASEAN dan wilayah sekitarnya.

Ambisi dan Tantangan Besar Indonesia dan Thailand Menjadi Pusat Kendaraan Listrik ASEAN

Sebaran charging station kendaraan listrik di Indonesia

Data dari Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan (Ditjen Gatrik), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan bahwa sepanjang 2021, jumlah Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) atau charging station di Indonesia mencapai 267 unit yang tersebar di 224 lokasi.

Adapun lokasi SPKLU tersebar di beberapa titik di antaranya Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) dan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG), pusat perbelanjaan, perkantoran, area parkir, dan perhotelan.

tahun 2021
Sebaran Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) tahun 2021 | Agaphier/GoodStats

Saat ini, DKI Jakarta masih mendominasi jumlah SPKLU terbanyak di Indonesia yakni sebanyak 101 unit yang tersebar di 77 lokasi. Salah satu lokasi SPKLU di DKI Jakarta ialah di Kantor Ditjen Gatrik yang memiliki 3 unit SPKLU. Hyundai menyumbang jumlah SPKLU terbanyak di DKI Jakarta yakni sebanyak 27 unit yang tersebar di 27 lokasi.

Posisi ke-2 diraih oleh wilayah Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara dengan total 43 unit SPKLU. Beberapa lokasi SPKLU di wilayah ini di antaranya ialah PLN UID Jatim dan Bali, Hyundai Jatim dan Bali, PLN UIW NTB dan NTT, serta masih banyak lagi.

Wilayah Jawa Barat menempati posisi ke-3 dengan total 37 unit SPKLU. Beberapa titik sebaran SPKLU di Jawa Barat di antaranya PLN UID Jabar, BPPT/LEN, Ruas Tol Jakarta-Surabaya, dan Hyundai.

Kendaraan Listrik Terus Digencarkan, Mobil Tesla Mulai Dijual di eCommerce Lokal

Diproyeksikan meningkat pesat dalam kurun waktu 10 tahun

Mengutip dari Ditjen Gatrik, jumlah KBLBB dan SPKLU diproyeksikan akan terus meroket dalam 10 tahun ke depan. Jumlah KBLBB diproyeksikan akan mencapai 254.181 unit dengan total SPKLU mencapai 24.720 pada tahun 2030.

2021-2030
Proyeksi jumlah KBLBB dan SPKLU tahun 2021 - 2030 | Agaphier/GoodStats

Jumlah ini tentunya meningkat drastis dibandingkan proyeksi tahun 2021 yang hanya mencapai 1.865 unit KBLBB dan 190 unit SPKLU di seluruh Indonesia. Penggunaan kendaraan listrik memberikan sejumlah keuntungan dibandingkan kendaraan konvensional berbasis bahan bakar minyak (BBM).

Mengutip dari CNBC Indonesia, keuntungan pertama ialah mampu menghemat biaya pengeluaran. Biaya pengisian daya pada kendaraan listrik lebih murah dibandingkan kendaraan berbasis BBM. Satu liter BBM setara dengan 1,3 kilo watt hour (kWh) listrik yang memiliki tarif sekitar Rp1,4 ribu per kWh, jauh lebih murah dibandingkan harga 1 liter BBM yang mencapai Rp7 hingga 8 ribu.

Kemudian, penggunaan BBM dinilai kurang efisien karena energi yang dihasilkan lebih banyak diubah menjadi panas dibandingkan energi kinetik, sementara kendaraan berbahan bakar listrik lebih optimal dalam menghasilkan energi kinetik.

Peralihan kendaraan konvensional berbasis BBM menuju kendaraan listrik mendorong terciptanya upaya ramah lingkungan yang signifikan. Emisi yang dihasilkan 1 liter bensin mencapai 2,4 kilogram (kg) CO2 sementara dengan jumlah yang setara, bahan bakar listrik sanggup menurunkan emisi hingga setengahnya yakni sebanyak 1,2 kg CO2. Terlebih, PLN dapat mengendalikan emisi yang dihasilkan dari kendaraan listrik oleh karena berada di pembangkitnya.

Bagi negara, dampak positif yang dapat diperoleh ialah menekan angka impor BBM. Separuh kebutuhan BBM nasional sebanyak 1,5 juta barel per hari (bph) masih dipenuhi dari impor.

Meninjau keuntungan-keuntungan yang ditawarkan dari penggunaan kendaraan listrik, diharapkan seluruh kementerian, lembaga, serta masyarakat di Indonesia gencar mendukung upaya pelaksanaan program percepatan penerapan kendaraan listrik nasional sebagai transportasi jalan agar dapat terealisasi dengan lancar.

Kendaraan Listrik Sebagai Transportasi Ramah Lingkungan di Masa Depan

Penulis: Diva Angelia
Editor: Editor

Artikel Sebelumnya Merek Cokelat Favorit Masyarakat Indonesia 2021, Cocok untuk Hadiah Valentine
Artikel Selanjutnya 10 Negara dengan Alam Terindah Tahun 2022, Indonesia Jawaranya
Konten Terkait