Membedah Stigma Milenial Tak Bisa Beli Rumah Karena Gaya Hidup Boros

Stigma dan tanggapan masyarakat dengan gaya hidup boros selalu dikaitkan dengan alasan utama persoalan tersebut. Namun, benarkah demikian?.

Membedah Stigma Milenial Tak Bisa Beli Rumah Karena Gaya Hidup Boros Ilustrasi Kelompok Anak Muda | AlessandroBiascioli /Shutterstock

Gaya hidup serba boros, tak pandai mengatur keuangan, dan mengutamakan kesenangan sudah terlanjur melekat sebagai citra para anak muda masa kini atau yang sering disebut generasi milenial, atau Gen Y. Generasi yang lahir di tahun 1981-1996 dan berusia antara 25-40 tahun pada 2021 ini mendominasi populasi kalangan muda produktif.

Angka ini tentu menjadi sebuah peluang menguntungkan bagi sektor properti. Pasalnya, kalangan muda merupakan segmen yang akan mencari hunian maupun produk properti pertamanya. Riset data juga menunjukkan generasi millenial memiliki minat yang tinggi untuk mencari properti.

Namun, berbanding terbalik dengan keadaan di lapangan para generasi muda dihadapkan dengan kenyataan dengan tingginya harga hunian tak sebanding dengan jumlah pendapatan. Kesenjangan kondisi sosial juga kerap kali disepelekan stigma gen milenial tidak dapat memiliki rumah selalu dikaitkan dengan pola hidup mereka yang serba boros. Benarkah demikian?

Generasi millennial atau Gen-Y dominasi peminat tertinggi pencari properti

Menilik hasil riset data tren properti pasar semester 1-2021, Lamudi.co.id perusahaan teknologi yang bergerak di bidang properti (PropTech) menyebutkan dalam lima tahun terakhir demografis pencari properti meningkat.

Tercatat pertumbuhan tren penjualan properti secara year-over-year meningkat sebesar 36,8 persen pada periode Juni 2020 hingga Juni 2021 meski tengah berada di tengah pandemi.

Kelompok usia ini mengalami kenaikan 781 persen sejak 2016 hingga semester I/2021, dan menjadi 30 persen dari pengguna platform, baik menggunakan smartphone, desktop, ataupun perangkat lainnya.

Pencari properti berdasarkan kelompok usia (tahun 2021) | GoodStats

Minat akan penggunaan platform pencarian digital menunjukkan berada di antara usia 25 sampai 34 tahun dengan jumlah pengunjung pria 48,5 persen dan wanita 51,5 persen. Pada kelompok usia ini memiliki hunian menjadi kebutuhan krusial untuk berkeluarga.

Perbedaan demografi ini dibagi dalam beberapa kelompok usia. Di peringkat pertama didominasi oleh usia 25-43 tahun sebesar 52,7 persen, adalah kelompok yang mayoritas sudah mencapai stabilitas finansial dan baru membina rumah tangga atau berkeluarga.

Disusul oleh peringkat kedua dengan kelompok usia 18-24 tahun sebesar 26,7 persen yang berada dalam tahap mencari (scouting), belum memiliki kekuatan ekonomi, tetapi bercita-cita ingin memiliki rumah sendiri.

Kelompok usia 35-44 tahun sebesar 20,6 persen merupakan kelompok usia pencari rumah yang telah berpengalaman dalam hal jual beli properti dan tengah berusaha berinvestasi.

Selayang Pandang Guru dan Tenaga Kependidikan di Indonesia, Kaum Milenial Mendominasi

Mayoritas pencari properti didominasi dari kota-kota besar

Hasil riset ini tentu menjadi angka yang menggiurkan bagi para pengembang dan pengusaha properti.Ditambah dengan bonus demografi usia produktif atau yang sering disebut generasi milenial di Indonesia lebih tinggi dibanding generasi non-produktif.

Namun, riset tersebut juga memberi fakta bahwa para pencari properti didominasi oleh pencari yang berasal dari kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Depok, dan Medan.

Hasil riset menunjukkan preferensi pemilihan tipe properti masih didominasi oleh rumah tapak 87,9 persen.

Lamudi mencatat ada tiga lokasi yang menjadi favorit pencarian rumah tinggal, yaitu kota Bogor sebagai peringkat pertama dalam kategori area yang paling banyak dicari sebanyak 26 persen. Kemudian di peringkat kedua adalah kota Jakarta Selatan sebesar 19,3 persen, dan kota Bekasi 14,8 persen.

Dalam data tersebut juga dapat disimpulkan para pencari properti memiliki budget rata-rata sebesar Rp600 Juta hingga Rp2 Miliar.

Mayoritas pencari properti yang menggunakan situs Lamudi.co.id mencari harga rumah dengan kisaran Rp800 Juta dan Rp600 Juta untuk apartemen.

Para pembeli lebih memilih sistem pembayaran berupa kredit. Angka pembayaran kredit mengalami kenaikan dari paruh kedua tahun 2020 hingga paruh pertama tahun 2021 yaitu dari 72,77 persen menjadi 74,91 persen. Sementara pembayaran tunai tercatat menurun menjadi 25,09 persen di tengah tahun pertama 2021.

Stigma milenial dengan gaya hidup boros dan sulit mengatur keuangan

Harga beli rumah yang kian melangit tak sebanding dengan penghasilan milenial yang bekerja kantoran. Generasi Y atau lebih dikenal dengan generasi milenial adalah kalangan yang lahir pada tahun 1980-1995. Artinya pada riset tersebut dilakukan tahun 2021, generasi milenial berada pada rentang usia 26-41 tahun.

Robert Gardner selaku kepala ekonom di lembaga keuangan Inggris Nationwide dalam wawancaranya bersama vice.com menyebut di zaman sekarang anak muda harus menabung hampir dua kali lipat dari kelompok usia yang membeli rumah 20 tahun lalu. Hal tersebut bisa didapat jika mereka dapat menyisihkan sekitar 15 persen dari gajinya.

Selain gaya hidup, Badan Pusat Statistik Indonesia (BPS) mencatat faktor perbedaan letak geografis (tinggal di kota atau di desa), dan tingkat pendidikan dapat mempengaruhi nilai tawar anak muda terhadap gaji mereka.

Faktor eksternal lainnya yang peru disadari juga ialah inflasi juga berpengaruh akan tingkat kenaikan harga tiap tahunnya.

Fenomena Xenoglosofilia: Seperti Apa Substansi Sumpah Pemuda di Kalangan Milenial?

Penulis: Nabilah Nur Alifah
Editor: Editor

Artikel Sebelumnya Mengintip Kondisi Penegakan Hukum di Indonesia
Artikel Selanjutnya Berapa Rata-Rata Upah Bersih Pekerja di Indonesia?
Konten Terkait