Prototipe KF-21 yang akan diterima Indonesia bisa menjadi “laboratorium terbang” untuk menguji manfaat kerja sama, terutama karena nilainya bukan hanya di badan pesawat, tetapi pada akses verifikasi, data teknis, dan pembelajaran operasional.
Dengan kontribusi yang turun dari sekitar 20% menjadi ±6%, pertanyaan besarnya kini adalah apakah Indonesia bisa mengubah porsi kecil di biaya proyek menjadi porsi lebih besar di rantai pasok dan kapasitas SDM dirgantara.