Nilai tukar rupiah melemah 13 poin terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan pagi ini. Pergerakan tersebut menunjukkan tekanan yang masih membayangi mata uang negara berkembang di tengah dinamika ekonomi global.
Sekitar pukul 09.00 WIB, rupiah tercatat melemah 13 poin dan berada di kisaran Rp16.899 per dolar AS berdasarkan data perdagangan pasar valuta asing. Posisi tersebut menunjukkan pelemahan dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
Pelemahan nilai rupiah tersebut sejalan dengan tren nilai mata uang di kawasan Asia yang mayoritas berada di zona negatif terhadap dolar AS.
Selain itu, pelaku pasar juga mencermati perkembangan ekonomi global dan arah kebijakan moneter di berbagai negara. Kombinasi faktor eksternal seringkali memicu fluktuasi nilai tukar, terutama pada awal sesi perdagangan.
Melansir Bloomberg, rupiah diperkirakan terus melemah karena kekhawatiran pasar terhadap isu fiskal di Indonesia. Investor masih mencermati risiko pelebaran defisit anggaran, termasuk kemungkinan turunnya peringkat utang Indonesia. Kondisi ini membuat kepercayaan terhadap aset dalam negeri belum sepenuhnya pulih.
Selain itu, minat investasi pada aset rupiah juga sedikit menurun setelah Bank Indonesia (BI) memangkas suku bunga lima kali sepanjang 2025 dengan total penurunan 125 basis poin. Ketika selisih suku bunga dengan negara lain semakin kecil, investor asing cenderung mengurangi penempatan dana di Indonesia.
Isu fiskal juga kembali menjadi perhatian setelah pemerintah memastikan anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap dipertahankan.
Tabel Pergerakan Nilai Tukar Rupiah dalam Beberapa Hari Terakhir
Sepanjang pekan ini, rupiah bergerak dalam rentang Rp16.850 hingga Rp17.010 per dolar AS. Rentang tersebut menunjukkan bahwa volatilitas masih cukup terasa di pasar valuta asing.
Baca Juga: Strategi Stabilisasi Harga Sembako Jelang Puasa dan Lebaran 2026
Data pengamatan sejak awal pekan menunjukkan bahwa nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak fluktuatif selama beberapa hari terakhir. Perubahan ini mencerminkan dinamika pasar valuta asing yang dipengaruhi sentimen global maupun domestik.
Pada pembukaan perdagangan Senin (9 Maret 2026), rupiah berada di level Rp17.016 per dolar AS. Namun hingga penutupan perdagangan pada hari yang sama, rupiah menguat ke Rp16.938 per dolar AS, atau membaik sekitar 78 poin dibanding posisi pembukaan.
Memasuki Selasa (10 Maret 2026), tren penguatan rupiah masih berlanjut. Pada pembukaan perdagangan, rupiah tercatat di Rp16.870 per dolar AS, lebih kuat dibanding penutupan hari sebelumnya. Meski demikian, pada akhir sesi perdagangan rupiah sedikit melemah dan ditutup di Rp16.884 per dolar AS.
Fluktuasi juga terjadi pada Rabu (11 Maret 2026). Rupiah sempat menguat pada pembukaan perdagangan ke level Rp16.856 per dolar AS, tetapi kembali melemah hingga Rp16.886 per dolar AS saat penutupan.
Sementara itu, pada Kamis pagi (12 Maret 2026) rupiah dibuka di kisaran Rp16.889 per dolar AS. Posisi ini menunjukkan bahwa rupiah masih bergerak dalam rentang sempit di sekitar level Rp16.800 hingga Rp17.000 per dolar AS sepanjang pekan ini.
Pergerakan tersebut mencerminkan kondisi pasar yang masih dipengaruhi berbagai faktor global, termasuk penguatan dolar AS serta ketidakpastian ekonomi internasional. Sentimen global seperti risiko geopolitik juga dapat meningkatkan permintaan terhadap dolar AS sehingga menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Baca Juga: Harga BBM Non-Subsidi Naik Per 1 Maret 2026, Ini Daftar Harga Terbaru di SPBU Indonesia
Sumber:
https://wise.com/id/currency-converter/usd-to-idr-rate
Penulis: Helni Sadiyah
Editor: Firda Wandira