Mengapa Harga Bahan Pangan Pokok Selalu Naik Jelang Ramadhan?

Menjelang bulan Ramadhan tahun 1443 Hijriah, sejumlah komoditas bahan pangan pokok tengah mengalami kenaikan hingga berkali-kali lipat.

Mengapa Harga Bahan Pangan Pokok Selalu Naik Jelang Ramadhan? Ilustrasi Pedagang Daging Sapi | Jekahelu/ Shutterstock

Tinggal menghitung hari lagi para umat muslim di dunia akan segera menyambut bulan puasa Ramadhan tahun 1443 Hijriah. Semarak semangat sepertinya sudah mulai terlihat. Sudah menjadi agenda tahunan bagi seluruh umat muslim di Indonesia untuk menyambut bulan suci ini dengan berbagai perayaan.

Bersamaan dengan itu, kini beberapa pasar di Indonesia tengah mengalami lonjakan harga bahan pangan pokok hingga berkali-kali lipat. Seakan sudah menjadi persoalan tahunan, para pedagang dan konsumen selalu punya cara alternatif lain untuk mengatasinya. Seperti contohnya para konsumen lebih memilih untuk membeli bumbu giling daripada membeli bumbu dapur seperti cabai untuk menyiasati lonjakan harga.

Seperti data yang dirilis oleh Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyebutkan perkembangan harga eceran beberapa komoditas strategis yang selalu langganan mengalami kenaikan harga terkhusus pada saat menyambut bulan Ramadhan.

Deretan Harga Komoditas Bahan Pangan Pokok Melambung Tinggi

Lonjakan harga selalu terjadi pada bulan-bulan tertentu terkhusus di bulan Ramadhan. Merilis laporan dari Kemendag sepanjang bulan Januari-Maret 2022 terdapat beberapa komoditas bahan pangan yang mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan.

Daftar perkembangan harga eceran komoditas strategis 2022 | GoodStats

Pada 3 bulan sebelum menyambut bulan Ramadhan bahan pangan pokok daging sapi mengalami kenaikan harga pada bulan Januari seharga Rp122.300/kg dan terus naik pada bulan Maret dengan harga sementara senilai Rp128.000/kg.

Cabai Merah Keriting berada di posisi kedua menjadi komoditas yang paling sering dicari. Tak main-main harganya melonjakcukup drastis yakni dari bulan Januari hanya seharga Rp38.900/kg menjadi seharga Rp51.000/kg di bulan Maret ini.

Berbeda halnya dengan komoditas daging ayam ras yang berada di posisi ketiga yakni dari bulan Januari seharga Rp37.400/kg dan turun menjadi Rp35.500 di bulan Maret 2022.

Komoditas lainnya yang juga paling banyak dicari dan selalu terjadi lonjakan harga pada bulan Ramadhan yakni gula pasir, cabai merah keriting, bawang merah, telur ayam ras, tepung terigu protein tinggi dan beras premium.

Aceh jadi provinsi dengan harga daging sapi tertinggi

Sebagai komoditas dengan harga tertinggi, daging sapi mengalami lonjakan harga yang lebih tinggi dari nominal sementara yang dirilis oleh Kemendag.

Provinsi dengan harga daging sapi tertinggi 2022 | GoodStats

Merilis data dari Pusat Indormasi Harga Pangan Strategis Nasional pada 28 Maret 2022, dari seluruh pasar tradisional yang tersebar dari 34 provinsi di Indonesia Aceh menjadi daerah dengan penjualan harga daging sapi tertinggi yakni senilai Rp142.150/kg.

Di peringkat 2 terdapat Provinsi Sumatra Barat seharga Rp142.500/kg. Lalu disusul oleh DKI Jakarta seharga Rp140.850/kg yang masuk dalam kategori 10 besar provinsi dengan harga daging sapi tertinggi.

Di posisi terendah terdapat provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) seharga Rp106.650/kg, Bali (Rp109.700/kg), dan Kepulauan Riau (Rp114.450/kg).

Selain karena mekanisme pasar, kenaikan harga juga dipicu oleh kelangkaan impor sapi hidup dari Australia. Permintaan yang tinggi di pasar domestik, secara otomatis akan mendongkrak harga.

Tingginya harga ini sejatinya dapat diantisipasi dengan beberapa cara, para pedagang pasar juga menjabarkan beberapa periode waktu yang langganan terjadi lonjakan harga.

3 periode waktu dan alasan penyebab lonjakan harga bahan pokok jelang Ramadhan

Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) menyatakan, lonjakan permintaan pertama akan terjadi pada H-7 hingga H-3 bulan Ramadhan tahun 2022 atau dimulai pada pekan ini. Permintaan melonjak didorong karena adanya tradisi khusus para masyarakat di Indonesia untuk menyambut bulan Ramadhan.

“Kami berharap dalam fase pertama ini pemerintah dapat menjaga pasokan bahan bahan yang ada di pasar dapat tersedia," sebut Wakil Sekretaris Jenderal Kajian Penelitian dan Pengembangan Ikappi Putri Bilanova dalam keterangan resmi, Jumat (25/3/2022).

Putri kembali menjelaskan, setelah fase pertama terlewati, permintaan di pasar akan melandai sementara. Lalu kemudian titik lonjakannya akan naik kembali menyusul di fase kedua yakni H-7 hingga H-3 Idul fitri.

Untuk menyambut fase kedua ini perlu adanya persiapan guna menghindari lonjakan yang lebih tinggi. Pasalnya, mobilitas niaga akan segera dibatasi pada jalan tol maupun jalan arteri menghindari arus lalu lintas pada hari libur panjang memperingati hari raya.

Pada tahun ini, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) akan membatasi mobilitas kendaraan niaga pada tanggal 28 April-1 Mei 2022 untuk memperlancar arus mudik. Dan juga akan kembali dibatasi pada 7-9 Mei 2022 untuk memperlancar arus balik.

Hal ini menandakan bahwa pasokan barang ke pasar akan terhenti pada hari ke-4 menuju Idul Fitri 2022, sedangkan permintaan pada tanggal tersebut akan melonjak tinggi.

Sementara itu, titik lonjakan permintaan ketiga akan terjadi pada H+2 hingga H+3 setelah Lebaran 2022. Pembatasam kendaraan niaga tidak diberlakukan selama periode tersebut, tetapi potensi tersendatnya barang di pasar juga bisa saja terjadi.

Beberapa komoditas juga akan terlihat kehabisan stok di pasar tradisional. Karena masih banyak pedagang di pasar yang memilih untuk libur dan mudik di hari raya.

Untuk meminimalisir fase-fase tersebut dapat terjadi yakni pemerintah perlu melakukan persiapan jauh-jauh hari sebelum Ramadhan 2022. Selain itu, perusahaan anggota harus mengantisipasi potensi minimalnya pasokan di pasar akibat lonjakan permintaan.

Dengan begitu, Indonesia dapat lebih siap menyambut datangnya bulan ramadhan. Tanpa perlu lagi mengkhawatirkan persoalan distribusi, hingga ketimpangan lonjakan permintaan.

Penulis: Nabilah Nur Alifah
Editor: Iip M Aditiya

Artikel Sebelumnya Jelang Akhir Musim, Siapa Kiper yang Paling Aktif Lakukan Penyelamatan di Liga 1 2021/2022?
Artikel Selanjutnya Ramai Jadi Bahan Perbincangan, Rating Piala Oscar Naik Tajam
Konten Terkait