Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) berencana menutup program studi (prodi) yang dinilai tidak relevan dengan kebutuhan industri di masa depan. Kebijakan ini menjadi respons atas fenomena ketidakseimbangan antara jumlah lulusan perguruan tinggi dan kebutuhan pasar kerja.
Fenomena oversupply lulusan bukanlah hal baru. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, ketimpangan antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri semakin terlihat. Banyak lulusan perguruan tinggi yang kesulitan mendapatkan pekerjaan sesuai bidangnya, sementara di sisi lain industri justru kekurangan tenaga kerja dengan keterampilan tertentu.
Oleh karena itu, penting untuk melihat data secara lebih mendalam guna memahami prodi mana saja yang berpotensi terdampak kebijakan ini. Berdasarkan data Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti), terdapat jutaan lulusan dari sejumlah rumpun ilmu yang selama ini menjadi favorit di kalangan mahasiswa.
Secara sederhana, oversupply lulusan terjadi ketika jumlah lulusan dari suatu bidang studi tidak sebanding dengan daya serap tenaga kerja di sektor terkait. Akibatnya, persaingan kerja menjadi semakin ketat dan tidak sedikit lulusan yang akhirnya bekerja di luar bidang studinya.
Menanggapi kondisi tersebut, pemerintah mendorong perguruan tinggi untuk mengevaluasi prodi secara berkala. Sehingga, prodi yang dinilai tidak adaptif dan oversupply berisiko ditutup untuk memperkuat keselarasan antara dunia pendidikan dan dengan kebutuhan industri.
Daftar Bidang Studi dengan Lulusan Terbanyak
Berdasarkan data dari laman PDDikti yang diakses pada 27 April 2026. Beberapa bidang studi tercatat memiliki jumlah lulusan yang sangat besar. Berikut daftar 10 bidang dengan lulusan terbanyak di Indonesia:
Baca Juga:Sebaran Bidang Studi Berdasarkan Jumlah Mahasiswa di Indonesia, Bidang Pendidikan Terbanyak!
Rumpun Ilmu Pendidikan menjadi bidang dengan lulusan paling banyak di Indonesia, dengan total mencapai 12.188.570 lulusan. Angka ini jauh melampaui rumpun lainnya, menunjukkan dominasi yang signifikan dalam produksi lulusan di bidang ini.
Di posisi kedua dan ketiga, terdapat Ekonomi dengan 8.908.902 lulusan dan Teknik dengan 7.990.889 lulusan. Kedua rumpun ini masih memiliki jumlah lulusan yang sangat besar, meskipun tertinggal cukup jauh dibandingkan Pendidikan.
Rumpun Ilmu Sosial menempati posisi keempat dengan 7.601.778 lulusan, diikuti oleh Kesehatan di posisi kelima dengan 5.149.315 lulusan.
Enam rumpun ilmu sisanya memiliki jumlah lulusan di bawah 2 juta. **Pertanian** berada di urutan keenam dengan 1.948.590 lulusan. Diikuti oleh MIPA (Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam) dengan total 1.335.775 lulusan, Agama dengan 1.009.969 lulusan, dan Humaniora dengan 967.246 lulusan.
Rumpun ilmu dengan jumlah lulusan paling sedikit di antara 10 besar ini adalah Seni, dengan total 411.458 lulusan.
Secara keseluruhan,data menunjukkan bahwa lima besar rumpun ilmu (Pendidikan, Ekonomi, Teknik, Sosial, Kesehatan) menyumbang mayoritas lulusan di Indonesia, sementara lima rumpun lainnya (Pertanian, MIPA, Agama, Humaniora, Seni) memiliki kontribusi yang jauh lebih kecil.
Dominasi Rumpun Ilmu Tertentu
Dominasi rumpun ilmu seperti pendidikan dan ekonomi tidak terjadi secara kebetulan. Ada sejumlah faktor yang melatarbelakanginya. Pertama, secara historis, program studi pendidikan telah lama menjadi pilihan utama karena dianggap memiliki jalur karier yang jelas, terutama sebagai tenaga pengajar.
Selain itu, kebijakan pemerintah di masa lalu yang mendorong peningkatan jumlah guru turut berkontribusi terhadap tingginya jumlah lulusan di bidang ini. Di sisi lain, jurusan ekonomi juga populer karena fleksibilitasnya dalam memasuki berbagai sektor pekerjaan, mulai dari perbankan hingga kewirausahaan.
Minat masyarakat juga memainkan peran penting. Banyak calon mahasiswa memilih jurusan yang dianggap “aman” dan memiliki prospek kerja luas, meskipun pada kenyataannya tingkat persaingan di bidang tersebut sangat tinggi.
Indikasi Oversupply, Apakah Semua Prodi Ini Terancam?
Tidak Semua Lulusan Berarti Tidak Dibutuhkan
Meski jumlah lulusan di beberapa bidang sangat besar, hal ini tidak serta-merta berarti semua prodi tersebut tidak dibutuhkan. Penting untuk memahami bahwa kebutuhan tenaga kerja bersifat spesifik dan dinamis.
Sebagai contoh, lulusan pendidikan tetap dibutuhkan, terutama di daerah yang masih kekurangan tenaga pengajar. Namun, distribusi tenaga kerja yang tidak merata sering kali menjadi masalah utama. Di kota besar, jumlah lulusan bisa sangat banyak, sementara di daerah tertentu justru masih terjadi kekurangan.
Selain itu, kualitas dan spesialisasi juga menjadi faktor penentu. Lulusan dengan keterampilan khusus atau kompetensi tambahan cenderung lebih mudah terserap di pasar kerja dibandingkan lulusan dengan kemampuan umum.
Tantangan Link and Match Dunia Pendidikan
Di sisi lain, tantangan terbesar yang dihadapi saat ini adalah menciptakan “link and match” antara dunia pendidikan dan industri. Kesenjangan keterampilan (skill gap) masih menjadi isu utama. Banyak lulusan yang belum memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri, terutama di era digital.
Perubahan teknologi yang cepat juga menuntut perguruan tinggi untuk terus beradaptasi. Misalnya, kebutuhan akan tenaga kerja di bidang data, kecerdasan buatan, dan teknologi digital terus meningkat. Namun, jumlah lulusan dari bidang-bidang tersebut masih relatif terbatas dibandingkan permintaan.
Selain itu, kurikulum yang tidak diperbarui secara berkala dapat membuat lulusan tertinggal dari perkembangan industri. Oleh karena itu, evaluasi dan penyesuaian kurikulum menjadi langkah penting agar prodi tetap relevan.
Baca Juga: 10 Program Studi UPI dengan Peminat Terbanyak di SNBP 2025, Simak untuk Persiapan SNBP 2026!
Sumber:
https://pddikti.kemdiktisaintek.go.id/program-studi
Penulis: Helni Sadiyah
Editor: Muhammad Sholeh